AKK-BB-FPI dan Karen Armstrong

Juni 9, 2008 at 12:10 pm (Esai)

Hari minggu lalu terjadi aksi penyerangan oleh FPI kepada Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKK-BB) di Monas Jakarta pada peringatan hari Pancasila. Kegemparan segera terjadi. Pro dan kontra saling berbagi. Di satu sisi aku tidak senang dengan FPI. Namun di sisi yang lain bahwa ketidak sukaan ini benar-benar tidak berdasar. Aku harus mengingatkan diriku, terutama sebagai insan peminat filsafat, untuk tidak tergesa mengambil kesimpulan sebelum segala sesuatunya diteliti. Dalam pemikiran filsafat, sebuah kesimpulan tidak lahir dari ruang kosong. Ada unsur-unsur yang mesti dibangun, argumen yang runut, dan pijakan yang kuat untuk menciptakan sebuah kesimpulan yang akurat.

Tidak jauh berbeda halnya dengan AKK-BB. Makhluk apa itu sebenarnya? Meskipun di permukaan kita melihat tokoh-tokoh dan tujuan yang mulia, tapi benarkah kesan yang kita tangkap tersebut? Karena, sebagaimana dikatakan Hegel, sejarah memiliki suatu penggerak yang pasti. Sejarah digerakkan oleh sesuatu yang mengatasi sejarah itu sendiri. Hegel kemudian menyebutnya gagasan atau ide. Sementara dalam pandangan Karl Marx penggerak sejarah itu adalah materi atau kekuatan produksi. Lebih jauh lagi Adam Smith menyebutnya sebagai Invisible Hand. Oleh karena itulah filsafat menjadi perlu. Filsafat mengurai hal yang nir mata itu menjadi nampak jelas.

Rabu kemarin aku berjumpa dengan buku autobiografi Karen Armstrong, Menerobos Kegelapan. Kupinjam dari LKiS. Tanpa sengaja kubuka-buka buku tersebut dan aku terpikat. Dalam buku itu Karen meceritakan kisah pergulatan spiritualnya. Keinginan dininya untuk menjadi biarawati, memasuki dunia spiritual, dan menutup diri dari hiruk pikuk kehidupan duniawi, mirip perjalanan hidupku. Memutuskan untuk masuk pesantren usai Tsanawiyah, bergelut dengan ritual keagamaan, dan agak tertutup dengan aktivitas gerak dunia. Keduanya berakhir sama: ketidakpuasan dan kegagalan dalam mewujudkan harapan.

Karen pada halaman 110 menulis, “Keangkuhan intelektual saya yang parahlah yang menghalangi kemajuan ruhani saya, dan saya tidak bisa membuat kemajuan selama saya menolak untuk memandang segala sesuatu dari sudut pandang adialami. Tetapi, bisakah orang bersikap seperti itu seterusnya, tanpa menimbulkan kerusakan yang nyata dan mengakar pada pikirannya?” Selama tujuh tahun dengan disiplin menjalankan ritual-ritual yang dibuat St. Igantius, melalui meditasi, renungan, doa-doa, Karen tidak sekalipun mengalami sebuah pengalaman ruhani yang dalam tradisi Katolik disebut konsolasi. Dan menurut Karen, “keangkuhan intelektual”-lah penyebabnya. Karen akhinya memutuskan, jalan biarawati bukanlah miliknya. Jalan intelektual adalah pilihan yang tepat.

Beragama, bagi Karen, bukanlah soal bagaimana seseorang bisa mendekatkan diri dengan Tuhan melalui agama atau suatu keyakinan kelompok tertentu. Ia tidak merapat karena keyakinan yang kuat terhadap sebuah penafsiran yang melekat. Mencapai Tuhan tidak diantarkan oleh gerak kemarahan dan kekuatan. Tapi, sebagaimana yang dikatakan Karen Armstrong kepada Jane, sahabatnya, “Saya tidak bisa membuat agama berfungsi buat saya……. ritual itu menakjubkan, tapi tentunya kamu mengerti bahwa itu hanya sebuah respon estetik. Ujian yang sebenarnya adalah ketika kamu mencoba menemukan Tuhan sendiri tanpa bantuan penyangga, musik, nyanyian dan pertunjukan yang indah—ketika hanya ada kamu yang berlutut sendirian.”

Permalink Tidak ada Komentar

Filsafat Wujud Mulla Shadra

Mei 23, 2008 at 4:28 am (Falsafi)

Bisa dikatakan bahwa persoalan wujud adalah persoalan yang sangat penting dan fundamental dalam filsafat islam. Perdebatan antara kaum peripateik, iluminisme, dan transendentalisme mengenai topik ini merupakan perjalanan panjang yang terus-menerus mewarnai ranah pemikiran filsafat Islam yang teramat luas dan dalam.

Tuhan ada; manusia ada; spidol ada. Dari pernyataan-perntaan ini kemudian muncul bermacam persoalan tentang wujud yang kemudian menjadi dasar pemikiran filsafat Shadrian. Karena menurut pandangan pencetus aliran ini, Mulla Shadra, isu tentang wujud ini merupakan landasan bagi isu-isu filosofis yang lain. Apa itu ada (wujud)? Samakah ada pada Tuhan, manusia, dan spidol? Manakah yang lebih sejati antara eksistensi (wujud) dan esensi (mahiyah)?

Melalui pernyataan dan pertanyaan-pertanyaan di atas kemudian memunculkan prinsip-prinsip yang mendasar dalam filsafat hikmah: ketunggalan wujud (wahdah al-wujud), kemendasaran wujud (ashalah al-wujud), dan ambiguitas wujud (tasykik al-wujud).[1] Sebelum membahas lebih jauh mengeanai tiga hal tersebut, terlebih dahulu kita harus menjawab pertanyaan apakah itu wujud?

Defenisi Wujud

Wujud mencakup segala sesuatu. Ia mengandaikan ketidakterbatasan. Sebagai konsekuensi logis dari pernyataan ini adalah bahwa wujud itu niscaya/ada/mutlak. Secara definisi, sebgaimana diutarakan oleh Taqi Misbah Yazdi dalam Daras filsafat Islam, subjek filsafat pertama atau metafisika adalah “maujud mutlaq” atau maujud qua maujud (al-maujud bi ma huwa maujud). Konsep wujud ini merupakan konsep paling jelas yang diabtraksikan benak dari segala sesuatu. Begitu jelasnya konsep wujud ini sehingga ia tidak ada lagi yang lebih jelas daripadanya. Oleh karena itu pendefenisian terhadap wujud sebenarnya adalah hal yang demikian sulit jika tidak mau dikatakan tidak mungkin. Hal ini mengingat bahwa untuk mendefenisikan suatu objek diperlukan suatu hal yang lebih jelas dari objek itu sendiri. Sementara itu konsep tentang wujud adalah konsep yang paling jelas yang begitu saja hadir dalam benak.[2]

Tiga prinsip Filsafat Mulla Shadra

Pertama, ketunggalan Wujud (wahdah al-wujud). Berdasarkan penghayatan spiritual yang sangat intensif dan upaya analisis intelektual yang sangat tajam, akhirnya Sadra menemukan suatu pemahaman bahwa keseluruhan eksisistensi bukanlah sebagai objek-objek yang ada (exist) atau maujud-maujud (existents), yang menemukan partikularitasnya di dunia objektif karena berbagai kuiditas yang menyertainya, melainkan tidak lain kecuali sebagai satu realitas tunggal. Pembahasan mengenai hubungan wujud dan kuiditas (mahiyah) akan dibahas pada prinsip yang ketiga yaitu tentang ashalah al-wujud.[3]

Teori wahdah al-wujud mula-mula dicetuskan oleh Ibnu ‘Arabi. Teori yang diperkenalkan oleh Ibnu ‘Arabi tersebut lebih bernuansa sufistik daripada filososfis. Ibnu ‘Arabi melihat tatanan wujud sebagai penjelmaan (tajalliyat) dari Nama-nama dan Sifat-sifat Tuhan pada cermin ketiadaan. Penafsiran terhadap teori ini kemudian diradikalkan oleh Ibnu Sab’in sebagai teori kesatuan wujud yang menyatakan bahwa hanya Tuhan yang nyata dan yang selainnya hanyalah ilusi. Mulla Shadra sendiri memahami teori ini dengan penghubungannya antara kesatuan wujud dengan kemajemukan eksistensi laiknya cahaya-cahaya matahari dalam hubungannya dengan matahari itu sendiri. Cahaya-cahaya tersebut bukanlah matahari, namun pada saat yang sama tidak lain adalah juga matahari. Menurut Seyyed Hossein Nasr, wahdah al-wujud adalah batu fondasi metafisika filsafat Shadra, tanpa fondasi itu seliruh pandangan dunianya akan rapuh.[4]

Permasalahannya kemudian, jika yang wujud hanyalah satu, apakah ada yang terdapat pada Tuhan sama dengan ada pada manusia dan spidol? Jika Tuhan sama dengan ada, manusia sama dengan ada, dan spidol sama dengan ada, bisakah proposisi ini dibalik menjadi ada sama dengan Tuhan dan seterusnya? Mulla Shadra menyatakan bahwa ada itu setara dan sama bagi semua benda, baik yang konkret maupun yang abstrak. Kedati demikian, adanya Tuhan adalah ada murni sedangkan adanya yang lain telah bercampur dengan esensi. Hal ini bisa dipahami karena menurut Shadra, semakin sempurna suatu wujud, semakin sedikit esensi yang ditunjukkannya.[5]

Wujud adalah satu realitas yang membentang yang kemudian menemukan partikularitasnya dalam realitas objektif melalui esensi. Dari sini kemudian muncul prinsip yang kedua, ambiguitas wujud (tasykik al-wujud). Wujud tidak hanya satu, tetapi juga bersifat hierarkis. Wujud tersebut membentang membetuk hierarki dari yang tertinggi menuju ke tingkatan yang lebih rendah.

Mulla Shadra mengambil teori iluminisme tentang pembedaan dan gradasi. Teori ini menyatakan bahwa segala sesuatu dapat dibedakan melalui sesuatu yang juga menyatukan mereka. Misalkan bahwa cahaya matahari dan cahaya lampu disatukan oleh cahaya, tetapi satu sama lainnya juga dibedakan oleh intensitas yang ada dalam cahaya masing-masing. Namun berbeda dengan iluminisme yang mengalami graditas dalam esensi, Mulla Shadra menempatkan graditas tersebut pada eksistensi.[6]

Fazlur Rahman dalam Filsafat Shadra menulis bahwa proposisi yang menyatakan keambiguitasan wujud yang bersifat sistematis tadi berarti:

  1. Wujud dalam segala sesuatu, dalam satu pengertian, pada dasarnya sama, seperti eksistensi Tuhan yang wajib dan makhlu yang mumkin adalah sama dari sisi predikat eksistensinya; sebaliknya jika ada perbedaan mencolok antara benda-benda dalam titik wujud, maka istilah “wujud” sama sekali tidak mempunyai makna yang sama dan tidak menjadi ambigu atai analog, tetapi perbedaan yang mencolok,
  2. Wujud, karena sama, bahkan menciptakan perbedaan-perbedaan mendasar yang membuat setiap maujud unik,
  3. Semua bentuk wujud yang lebih rendah dikandung dalam, dan dilamapaui oleh bentuk-bentuk yang lebih tinggi. Dalam istilah Shadra sendiri, basitul haqiqah kullu syaiy (bahwa wujud yang bersifat sederhana adalah wujud yang mencakup seluruh entitas yang disebut “sesuatu”.)[7]

Prinsip ketiga yang kemudian menjadi dasar filsafat Shadra adalah ashalah al-wujud. Ashalatul wujud berarti bahwa wujud adalah prinsip dari segala maujud-maujud yang ada. Lawan darinya adalah ashalah al-Mahiyah yang mengatakan bahwa mahiyahlah yang prinsip sementara wujud sekadar asumsi akal. Perdebatan mengenai masalah ini sebenarnya mulai merebak semenjak Ibnu Sina mengenalkan pembedaan antara esensi (mahiyah) dan eksistensi (wujud). Ibnu Sina mengatakan bahwa wujud dan mahiyah adalah dua realitas yang bersatu (united) yang kemudian disebut sebagai maujud (eksisten). Dengan kata lain, apa yang disebut sebagai maujud (eksisten) adalah gabungan antara wujud (eksistensi) dan mahiyah (quiditas).[8]

Namun, perdebatan yang sangat sengit terjadi antara kaum pengikut ashalah al-Mahiyah yang diwakili oleh Suhrawardi dengan pengikut ashalah al-wujud yang diwakili oleh Mulla Shadra. Suhrawardi berargumen bahwa wujud, karena kedudukannya sebagai sifat umum segala yang ada, yaitu konsep yang paling umum hanyalah memiliki realitas sebagai konsep sekunder yang tidak mempuanyai hubungan dengan realitas yang ada. Ia hanyalah konsep dan abtraksi mental semata-mata. Jika, kata suhrawardi selanjutnya, kita menganggap bahwa wujud sebagai sifat esensi yang sebenarnya, maka esensi, agar memiliki sifat ini, harus ada sebelum wujud. Sebab, apabila kita terima teori itu, maka wujud itu sendiri akan memerlukan wujud lain yang bisa memberinya eksistensi; demikianlah seterusnya sehingga ia tak akan berakhir atau mengalami regresi yang infinite.[9]

Berbeda dengan Suhrawardi, Mulla Shadra menyatakan bahwa yang riil adalah wujud, sementara esensi adalah abstraksi mental semata-mata. Baginya wujud bukan hanya lebih prinsipiil atau sekadar fondasi bagi seluruh realitas, namun ia adalah realitas itu sendiri. Sebab sifat wujud yang paling fundamental yakni simple atau basit berkarakter “menebar” ke dalam seluruh celah-celah apa yang disebut sebagai eksisten atau maujud. Dan eksisten atau mahiyah yang ada di hadapan kita tidak lebih dari pembatasan-pembatasan yang mempartikulasikan bentangan wujud itu sendiri.[10]

Argument-argumen ashalah al-wujud secara lebih terperinci adalah sebagai berikut:[11]

Pertama, esensi atau kuiditas pada dasarnya netral, tidak menolak untuk diberi predika “ada” atau “tiada”. Seandainya kuiditas adalah eksistensi (realitas) itu sendiri, maka tidak dapat dinegasikan, karena menegasi inti atau dzat adalah mustahil dank arena ada realitas yang ekstrim, tidak netral terhadap ada dan tidada.

Kedua, wujud adalah benang merah antar segala sesuatu, sedangkan kuiditas atau esensi adalah ciri pembeda antar segala sesuatu.

Ketiga, sesuatu disebut memiliki realitas objektif apabila ia mempunyai eksistensi. Kuiditas atau esensi dapat memiliki realitas apabila menyandang wujud. Itu berarti bahwa yang riil dan objektif hanyalah eksistensi.

Keempat, karena wujud adalah sumber dan prinsip kesempurnaan, maka tak pelak wujud-lah yang orisinil. Sesuatu yangh “buatan” (I’tibariyat) tak mungkin menjadi prinsip dan sumber pengaruh riil, kebaikan dan kesempurnaan.

Kelima, perbedaan antara wujud (maujud) objektif dan wujud (maujud) subjektif adalah bahwa maujud objektif member pengaruh yang diniscayakan, sedangkan maujud subjektif tidak memberikan pengaruh-pengaruh objektif yang diniscayakan. Seandainya esensi (kuiditas) adalah sejati (orisinal atau nyata), maka berarti ia harus memberikan pengaruh-pengaruh objektif serta pengaruh-pengaruh subjektif. Namun kenyataan empirik menyatakan sebaliknya.

Keenam, berkat wujud, segala sesuatu yang semula netral, antara ada dan tiada, menjadi ada. Sedangkan esensi sendiri pada dirinya sendiri merupakan sesuatu yang netral, tiada ada dan tidak tiada. Sesuatu yang semula tidak ada tidak akan pernah menjadi ada tanpa sebab pengada, dan karenanya tidak akan menjadi prinsip pengaruh objektif. Jadi jelas bahwa wujud lebih mendasar dan nyata.

Ketujuh, setiap entitas (maujud) selalu beranjak dari kekurangan menuju kesempurnaan. Ia akan meniti jalan dan proses menuju kesempurnaan.

Demikianlah pembahasan seputar masalah wujud dalam filsafat Shadra. Seyyed hossein Nasr menyatakan bahwa ajaran metafisika Mulla Shadra sebenarnya bukan hanya bisa dipahami melalui prinsip-prinsip ini, namun juga dengan mengetahui hubungan–hubungan yang terjalin di antara mereka.[12] Wujud tidak hanya satu, melainkan juga bergradasi. Selanjutnya wujud tidak hanya bergradasi melainkan juga sejati dan mendasar yang memberikan kesejatian kepada esensi.


Daftar Pustaka

Baqir, Haidar, Buku Saku Filsafat Islam, 2006. Bandung: Mizan

Rahman, Fazlur, Filsafat Shadra, Bandung: Pustaka

Jurnal al-Huda Vol. III. No. 1. 2003

Jurnal al-Huda Vol. III. No. 8. 2003

Jurnal al-Huda Vol. III. No. 9. 2003

Jurnal al-Huda Vol. III. No. 10. 2004

Seyyed Hossein Nasr dan Oliver Leaman ed. Ensiklopedi Tematis Filsafat Islam.

2003. Bandung: Mizan

Yazdi, Muhammad Taqi Misbah, Buku Daras Filsafat Islam. 2003. Bandung:

Mizan


[1] Seyyed Hossein Nasr dan Oliver Leaman ed. Ensiklopedi Tematis Filsafat Islam. 2003. Bandung: Mizan. Hal. 918

[2] Muhammad Taqi Misbah Yazdi, Buku Daras Filsafat Islam. 2003. Bandung: Mizan. Hal. 170

[3] Hussein Shahab, Filsafat Wujud dalam Jurnal al-Huda Vol. III. No. 1. 2003

[4] Seyyed Hossein Nasr dan Oliver Leaman ed. Ensiklopedi Tematis Filsafat Islam. 2003. Bandung: Mizan. Hal. 916

[5] Fazlur Rahman, Filsafat Shadra, Bandung: Pustaka. Hal. 39

[6] Fazlur Rahman, Filsafat Shadra, Bandung: Pustaka. Hal. 45-49. Lihat juga Jurnal al-Huda Vol. III. No. 1. 2003 pada tulisan dengan judul Filsafat Wujud.

[7] Fazlur Rahman, Filsafat Shadra, Bandung: Pustaka. Hal 48-49. Lihat juga Jurnal al-Huda Vol. III. No. 1. 2003 pada tulisan dengan judul Filsafat Wujud.

[8] Hussein Shahab, Filsafat Wujud dalam Jurnal al-Huda Vol. III. No. 1. 2003

[9] Fazlur Rahman, Filsafat Shadra, Bandung: Pustaka. Hal. 35

[10] Ibid, hal. 44. Dan Hussein Shahab, Filsafat Wujud dalam Jurnal al-Huda Vol. III. No. 1. 2003

[11] Muhsin Labib, Hawzah Ilmiyah Qum; Ladang Peternakan Filosof Muslim Benua Lain dalam Jurnal al-Huda Vol. III. No. 9. 2003

[12] Seyyed Hossein Nasr dan Oliver Leaman ed. Ensiklopedi Tematis Filsafat Islam. 2003. Bandung: Mizan. Hal. 918

Permalink Tidak ada Komentar

The Namesake

Mei 23, 2008 at 2:43 am (Film)

“teruslah berjalan sampai kakimu tak lagi bisa melangkah…”

Namesake berkisah tentang sepasang suami isteri India yang memulai hidup baru di New York dan lika-liku hidup mereka di sana sebelum dan setelah mempunyai anak. Salah salah satu anak mereka, Gogol, yang tumbuh dalam dua kultur berbeda membuat kepribadiannya goncang. Ia terombang-ambing antara tetap “menjadi” India yang menurutnya “kuno” dan memilih Amerika yang modern. Film ini dengan baik memotret kehidupan keluarga India perantauan dengan aneka problemanya, seperti: kesulitan bahasa, kesulitan adaptasi dengang lingkungan, dan culture shock.

Komunitas Pendopo LKiS pada kesempatan itu mengadakan ngobrol tentang film The Namesake. Hadir sebagai pembicara Tia Setiyadi seorang penikmat film yang sekaligus juga redaktur majalah seni dan budaya Gong. Dalam diskusi yang dihadiri sekitar sepuluh orang tersebut, isu yang mengemuka adalah tentang identitas. Film tersebut memang bercerita tentang nasib imigran India di New York city. Dua arus budaya pun bersinggungan. Kendati tidak saling merobek dan mencabik satu sama lain secara langsung, pertentangan yang tejadi tidak bisa dielakkan. Keadaan ini digambarkan secara apik dalam film. Mira Nair, sutradara film itu, menyuguhkan konflik dalam tokoh-tokohnya dalam letupan-letupan kecil.

Konsekuensi dari pertemuan budaya adalah memilih. Tapi, apa yang harus dipilih? Dalam film, tradisi harus mati. Takdir ini terjadi pada Ashoke. Ashoke, dalam film, tidak hanya mati secara fisik, tetapi ia juga mati secara spirit. Di dunia yang baru, kehidupan lama tak sepenuhnya berlaku. Toh jika ia masih tetap ingin hidup, ia mesti kembali ke habitatnya yang asli. Ashima pun kembali ke India untuk meraih takdir yang tidak bisa direngkuhnya di Amerika: menjadi Penyanyi.

Bagaimana dengan Gogol, tokoh utama sekaligus putera dari Ashoke dan Ashima? Mira Nair memberi solusi tentang konflik identitas melalui tokoh ini. “Kita hidup laksana dalam kereta api. Di sana kita tak sendiri, kita melakukan perjalanan. Suatu saat kita berhenti. Tapi bahwa selalu kita akan melanjutkan perjalanan kembali. Teruslah berjalan. Samapai kau tidak bisa lagi melangkahkan kaki…..”

Diskusi Komunitas Pendopo LkiS

21 Mei 2008

Permalink 1 Komentar

« Tulisan sebelumnya