Foto dan Dunia

Foto ini diambil pada saat saya duduk di kelas 2 Aliyah akhir. Setelah sekian lama berselang, saya menemukan foto itu kembali. Bermacam perasaan muncul. Foto atau gambar barangkali memang adalah sebuah dunia. Ia memiliki kesejarahan yang ikut membentuk dunianya. Foto bisa membawa seseorang kembali lagi ke dalam nuansa di mana dan di saat foto dibuat. Maka, foto memiliki dunia objektif. Objektif di sini bukan dalam arti sebuah makna yang ketat. Di sini lebih tepat obejektif dipahami bahwa foto membawa dunianya sendiri yang pernah hadir. Berikut penjelasan yang saya maksud. Baca entri selengkapnya »
Islam: Pandangan Seorang Penyair
Oleh: Rif’an Anwar
Pada dasarnya Goenawan Mohamad adalah seorang penyair. Apakah profesi sebagai penyair ini perlu untuk mengetahui pandangan GM tentang Islam? Ignas Kleden dalam pengantarnya untuk kumpulan tulisan GM, Catatan Pinggir 2, melukiskan problema ini dengan menarik. Menurut Ignas Kleden memang cukup sulit untuk menghubungkan sifat tulisan atau pandangan dengan latar belakang pribadi penulisnya. Apa perlunya mengetahui bahwa Heidegger pernah menulis sajak untuk membaca Sein und Zeit? Goenawan sendiri memilih untuk tidak menghubung-hubungkan antara karya dengan pembuatnya. Ia sering merasa kesal menghadapi kritik puisi di Indonesia yang menurutnya lebih banyak membicarakan penyairnya ketimbang sajaknya.[1]
Kendatipun keberatan tersebut memiliki alasan yang cukup kuat, pendekatan seperti ini tetap perlu digunakan untuk melihat bagaimana seorang penyair melihat dunia dan fenomena di dalamnya. Penyair berurusan dengan dunia-dalam. Penyair menjunjung tinggi kreativitas dan kebebasan dalam berkarya. Oleh karena itu, dalam tulisan-tulisan GM, seperti akan dibahas nanti, terlihat kreativitas dan kebebasan dalam memahami agama atau dalam hal ini Islam, merupakan sikap yang menonjol. Baca entri selengkapnya »
Membaca dan Menulis Derrida
SETAHUN SUDAH Jacques Derrida meninggalkan kita. Oktober 2004 dia wafat karena serangan kanker pankreas. Adieu, à-Dieu! (Selamat tinggal, Tuhan!), kata-kata yang pernah diucapkan Derrida buat Emmanuel Levinas saat sahabatnya itu meninggal, tampaknya juga pas kita ucapkan untuknya.
Derrida lahir di El-Biar, wilayah terpencil Aljazair, pada 15 Juli 1930. Tahun 1952 Derrida masuk École Normal Supériuere (ENS) di Prancis, sekolah elite yang dikelola Foucault, Althusser, dan para filsuf terkemuka Prancis lain. Dari kesannya yang mendalam pada para gurunya di sekolah itu, ia menekuni filsafat dan akhirnya dikenal sebagai salah seorang filsuf kenamaan. Baca entri selengkapnya »
Jacques Derrida: Biar Tergugat Tetap Berhala
Laku filsafat lazimnya dimaknai sebagai ikhtiar ”memburu” kebenaran. Memburu hingga ke ujung yang paling hulu. Di sanalah kapal filsuf yang setia berlayar bakal berlabuh. Bila kebenaran hulu telah direngkuh, berakhir pulakah kelananya yang jauh?
Sepertinya tidak. Tidak seorang pun yang sebenarnya sungguh-sungguh dapat menggapai kebenaran hulu itu. Makin jauh mereka bergerak menuju hulu, biduk yang mereka kayuh justru makin terseret ke hilir. Sebagaimana amsal para penggali sumur yang berharap hendak menemukan mata air. Akan tetapi, makin digali, sumur malah terasa makin dangkal. Seolah-olah mata air kebenaran itu tak pernah ada. Baca entri selengkapnya »
Salam dari Derrida, Jacques
Filsuf kontemporer itu telah pergi. Lewat mazhab Dekonstruksionisme yang dibidaninya, semua peralatan budaya ditafsir kembali.
LELAKI tua berambut perak itu menunduk dan mengatupkan bibirnya. Dan ruang dua kali tiga meter dengan terang sekadarnya itu pun senyap, seolah mencoba mengakrabi suasana hati penghuninya. Aku duduk di hadapan, terpaku memandangnya. Begitu segera sepi menyergap lelaki itu. Mata-nya yang keras namun damai mengabarkan satu keteguhan, juga kesendirian. Ingatanku memanggil Hemingway, The Old Man and the Sea. “Monsieur Jacques, Je dois parti,” kataku sambil beranjak. Baca entri selengkapnya »