Kota di mana Bumi Berguncang

Mei 2, 2008 at 1:21 pm (Neurotic)

Oleh: Rei Afandi

Dari tempat yang jauh dari kota di mana bumi berguncang, aku ingin menceritakan sesuatu kepadamu, Malika. Cerita ini akan tampak kabur. Benar-benar kabur. Kamu akan menemukannya begitu berantakan, tidak rasional dan aneh. Kamu juga akan menemukan lelucon konyol tentang suatu peristiwa di kota di mana bumi berguncang. Karena itu, kuharap kamu mencermati kalimat-kalimat terakhir dalam ceritaku. Karena di sana kau akan mendapat kejelasan dari kisah aneh tentang kota di mana bumi berguncang ini. Kuingatkan sekali lagi, kamu harus sungguh-sungguh memerhatikan! Bahkan jika kamu telah berada di tempat yang paling sunyi di dunia.

Malika yang kurindu, di kota di mana bumi berguncang kini kamu berada. Hari masih pagi, mentari masih sembunyi di balik gunung, dan di kota di mana bumi berguncang bumi bergetar hebat dan menakutkan. Terbayang olehku kepanikan dan kekalutan yang terjadi di sana. Gempa itu begitu dahsyat dan membuat kota di mana bumi berguncang luluh lantak, puluhan ribu bangunan runtuh menjadi puing, dan lebih dari 6.000 nyawa merenggang. Baca entri selengkapnya »

Permalink 1 Komentar

Kang Santri Memburu Nietzsche

Mei 2, 2008 at 1:17 pm (Esai)

Di sebuah pasar di Negara Jerman abad 19, kita bayangkan saja kang santri sedang berada di sana. Ia berjalan pelan-pelan. Wajahnya lesu. Matahari panas menyengat kulit. Kang santri berkeliaran di pasar itu untuk mencari seseorang. Orang-orang berkata bahwa orang yang dicari kang santri itu berada di pasar. Ia sedang mencari Nietzsche, sang ateis terkenal. Mungkin kita bertanya-tanya, “Ada apa gerangan kok kang santri nyari-nyari Nietzsche? Mau belajar tentang Ateis dia!”

Suatu kali ada yang bertanya begitu. Kang santri menjawab dengan entengnya,

“Saya lagi seneng saja melakukan perjalanan lintas ruang dan waktu.”

Wuaduh! lintas ruang dan waktu… Baca entri selengkapnya »

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Renungan Kang Santri yang Bikin Penasaran

Mei 2, 2008 at 1:12 pm (Esai)

Kang Santri akhir-akhir ini rada sering merenung. Biasanya itu dilakukan di tempat yang sunyi dan di malam yang dingin. Biar lebih meresapi suasana, katanya. Yang direnungkannya tentu saja bukan masalah nasional, dan hal-hal elit lainnya yang menjadi makanan sehari-hari para Cerdik cendikia. Yang jadi bahan renungan itu ya cuma masalah sepele saja. Cara menganalisis masalahnya juga tidak njlimet dan cenderung dangkal, bahkan menjerumus ngawur. Tapi ya begitulah kapasitas keilmuan kang santri yang satu ini. “Kalau saya ndak boleh berpikir dangkal dan ngawur lalu apa bedanya dengan orang besar dan cerdik cendikia. Kalau saya tidak boleh berpikir dangkal dan ngawur, nanti apa istimewanya orang besar dan cerdik cendikia. Kecuali kalau ternyata orang besar dan cerdik cendikia juga dangkal dan ngawur.” Begitu biasanya Kang santri berkilah. Baca entri selengkapnya »

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Penantian di Kala Senja

Mei 2, 2008 at 1:09 pm (Neurotic)

“Ah, hidup memang tidak selalu indah untuk dirasa,” ujar temanku. “Apa yang hari ini menjadi sumber kebahagiaan bisa jadi besok berganti dengan kesedihan.” Aku dan temanku berada pada seuah bus kota yang membawa kami pulang ke rumah masing-masing. Hari sudah senja sewaktu bus melewati perempatan Malioboro. Warna kuning kemerah-merahan memenuhi segenap penjuru langit. Kami berdua mengikuti les di sekolah sehingga matahari senja indah yang membalut angkasa telah tercipta ketika kami pulang.

“Seharusnya dulu kudengar kata orang-orang,” dengan lirih temanku tadi berucap. Aku sendiri hanya diam memandang sekitar trotoar di mana para pekerja sedang berjalan pulang. Nampak kelelahan di wajah mereka bercampur apik dengan sukacita karena hendak berkumpul dengan keluarga. Entah itu istri, suami, anak, atau yang lainnya. “Tidak ada kondisi yang tetap. Tidak ada keadaan yang dapat dipercaya,” temanku meneruskan. Ya, aku membenarkan dalam hati. Aku tak melihat wajahnya waktu dia mengatakan itu. tapi dari suaranya bisa kurasakan bahwa dia menyimpan rasa kecewa. Di dalam bus tercium olehku bau keringat para penumpang yang begitu kontras dibanding ketika mereka berangkat di pagi hari. Tangan-tangan bergelantungan menebar aroma khas parfum alami mereka. Baca entri selengkapnya »

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Sebuah Cerpen Yang Tak Selesai

Mei 2, 2008 at 1:00 pm (Neurotic)

Die, seorang gadis SMU dengan bentuk wajah oval, hidung mancung ala bule, dibalut warna kuning langsat yang menawan. Benar-benar sebuah kolaborasi penuh keindahan. Rambutnya hitam lurus tergurai di atas bahunya. Badannya yang lumayan tinggi terpadu sempurna dengan bentuk badan yang full press body.

“Hei… ngelamun aja, entar kemasukan jin lho…” lengkingan Die mengagetkan Ko. Suara Die bergulir lembut masuk ke gendang telinga Ko dan langsung mengoyak lamunannya.

“Ah, kamu Die ngganggu stabilitas personality aja “.

“Wuih keren banget omongan kamu. Apa tadi..,” Die terpaksa sedikit memutar otaknya, “o ya.. stabilitas personality. Ngerampok istilah dari mana lagi kamu Ko?” Yang ditanya hanya tersenyum. Ko memang predator buku kelas wahid. Istilah kutu buku terlalu rendahan untuk disematkan padanya. Ko bisa bertahan berjam-jam kalo sudah di depan buku. Kalo pas di perpus… wah dijamin Ko bakal lupa ama siang-malam, laper-kenyang, semuanya melebur menjadi satu dalam dunia di genggaman tangannya itu. Die sering menemani shahibnya itu seharian di perpus. Die bukan seorang kutu buku, meskipun sejak semakin intens dengan Ko, dia sedikit demi sedikit mulai terjangkit virus yang bisa bikin mata minus itu. Baca entri selengkapnya »

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Next page »