April 2006
23 April, 2006 (06.48 – 10.43)
Surat untuk Seorang Kawan
Pagi ini aku ingin menulis. Namun aku tak tahu mesti menulis apa. Aku tersesat dalam belantara kata, terombang-ambing olehnya. Lantas bagaimana aku akan menulis jika kata-kata itu justru membelengguku. Tapi sudahlah, aku akan berusaha.
Apakah yang harus kulakukan setelah kamu mengatakan semua itu di telpon kemarin? Akankah aku mundur, melepaskan begitu saja apa yang menjadi hasratku? Semua itu membuatku gundah. Dan kupikir, menulis secarik surat untukmu adalah suatu cara untuk membuang resah itu. Maka kutulislah surat ini.
Sabtu pagi itu, sepulang olah raga, aku bimbang, mestikah aku menelponmu? Hari itu (22.04.06), sebetulnya aku sudah nekat untuk memberitahukan perasaanku kepadanya, bagaimanapun caranya? Kenapa harus hari itu? Karena hari itu adalah hari jadiku. Dan aku ingin merayakan hari istemewaku itu dengan orang yang mewujud indah dalam kalbuku. Tapi, setelah “ia” memberi tahu kalau ia tak bisa nemuin aku sabtu siang itu, aku menjadi ragu. Kukatakan pada diriku, aku mesti nelpon kamu. Saat tombol telpon kutekan, nada sambung mulai berbunyi, kemudian terdengar suara dari seberang sana, jantungku berdebar lebih kencang. Tak berapa lama kudengar suaramu. Aku bingung mau berkata apa. Aku tak tahu ingin memulai dari mana. Akhirnya, kukumpulkan sedikit keberanian untuk melepaskan pertanyaan itu.
Aku termenung lesu. Akankah aku berhenti di sini, melupakan keinginan “gila”ku itu? Aku masih ragu, benarkah kata-katamu? Aku juga masih bertanya-tanya, seberapa jauh kamu mengenal dia? Dan aku juga terus menerus mencari jawab tentang “ia” sekarang. Bahwa ia tak lagi SMA, ia kini mondok di Nurul Ummah, kuliah di UIN SUKA dan hal-hal lain yang tak lagi sama seperti dulu. Padahal ia yang dulu saja aku tak mengenalnya. Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar-putar di kepalaku. Aku berusaha menghubungimu untuk menghilangkan “siksaan” itu. Tapi ternyata, kamu lebih sulit dihubungi ketimbang makhluk planet Pluto.
Ah, kucukupkan saja suratku ini sampai di sini. Bersama ini kukirimkan juga rinduku, salam hangatku, beserta harapan bahwa “rahasia” ini masih utuh terjaga.
Terima kasih telah mau mendengar kisahku. Aku akan senang jika kamu juga mau berbagi denganku, bila kamu berpikir aku memang pantas menerimanya.
Maaf telah merepotkanmu dengan coretan “aneh” ini. Maaf, karena aku tak mampu untuk mempersembahkan sesuatu yang utuh dalam surat ini. Banyak hal yang tak sanggup kukabarkan untukmu di dalamnya. Sehingga kamu cuma bisa heran dan berkata “kok bisa?” Jangan menuntut jawab dariku, karena aku sendiri masih belum bisa memberikan jawab buat diriku sendiri.
NB: Kuberharap, ini hanya kita yang tahu
April 27, 2006
Fahri hampir lulus S.2 di al-Azhar University Mesir, dan ia belum sekali pun memikirkan pasangan hidupnya. Namun kemudian sejarah berjalan begitu mudah dan indah bagi dirinya. Tentu saja ada masalah yang menyertai. Ah, tapi ia hidup dalam novel yang berjudul Ayat-ayat Cinta. Kata orang, novel itu kelewat idealis, bahkan cenderung utopis. Apalagi melihat betapa manusia sekarang, begitu tenggelam oleh hasrat duniawi sesaat. Oleh karena itu, mereka cuma akan melihat Fahri dengan heran dan sikap mencemooh, “mimpi kali yee..”
Tapi, biar saja banyak orang menutup mata. Buatku, justru dengan menampilkan sosok ‘sempurna’ seperti itu, setidaknya membuat kita bisa sedikit tersenyum, bahwa ternyata hal-hal yang nampak mustahil itu mampu memunculkan ‘tenaga’ dalam diri kita ntuk memperbaiki diri. Kecuali yang tidak.
Aku sendiri baru kelas 3 Aliyah. Secara logika, masih panjang masa merentang sebelum ‘pasangan hidup’ menyibukkan alam pikiranku. Fahri membuatku tambah bingung. Apakah rasa nggak jelas ini menjadi layak untuk dikisahkan kepadanya? Padahal aku tidak yakin dengan masa depan hubungan ini, andai semua memang berjalan sesuai apa yang kuinginkan. Benarkah aku jika menjadikan ini sarana untuk mendidik diri? Ah, lagi-lagi semua ini cuma teori yang ternyata kubuat untuk membenarkan kekeliruan-kekeliruanku sendiri.
01.42
sehabis ngglogek di Blandongan
29 April 2006
Percayalah pada diri sendiri. Percayalah dengan kemampuan kamu sendiri. Dua kalimat ini sangat penting buatku, sebab selama ini aku selalu berpikir alangkah nikmatnya hidup dengan masalah kita sendiri tapi orang lain yang menyelesaikannya. Kini, keadaan memaksaku tampil sebagai diriku sendiri, dan aku betul-betul tergagap oleh situasi ini. Maka, tatkala Naning sudah ngasih tahu tentang diriku, aku sedikit marah. Ning, aku ingin menghadapinya dengan caraku sendiri, andaikan Tuhan memberikan kesempatan untuk itu. Meski aku juga sebetulnya bimbang, mampukah semua ini kuhadapi dengan sikap bijak dan arif.
Aku yakin bahwa ‘ini’ akan mengganggu studiku, juga studinya. Namun yang jauh lebih penting dari sekedar ‘sekolah’ adalah, dari hubungan itu, kita bisa belajar suatu ilmu yang tak bisa diajarkan hanya dengan teori dan buku. Ringkasnya, kita nggak bisa belajar menjadi dewasa jika sekadar mbaca dan ndengerin ceramah guru di muka kelas. Hal ini, paling tidak menurut diriku sendiri. Berhubungan dengan orang lain secara intens dan serius ternyata membuat hidup jadi lebih berwarna. Kita jadi lebih tahu tentang diri kita. Memang, hubungan itu nggak musti melulu berstatus ‘pacar’. Tapi, jika bingkai itu mampu memberi kepastian di hati, apa salahnya. Toh itu cuma predikat yang kita tempelkan untuk membedakan dengan hal lain. Substansinya ‘kan bisa macem-macem dan bervariasi.
Mentari bersinar redup berselimut awan. Lalu lalang kendaraan terdengar bising di telingaku. “Hari yang menyenangkan ya?” kataku kepadanya. Ia duduk tepat di depanku, mengenakan jilbab berwarna gelap, dengan senyum sipu pada bibirnya. Sesekali ia mencuri pandang ke mukaku, dengan agak malu-malu. Gadis itu kukenal sewaktu MTs. Tepatnya aku tak lagi ingat. Yang jelas itu terjadi beberapa tahun yang lalu. Sebelum aku ‘tersesat” di Salatiga dan ‘nyasar’ di Krapyak. Hampir empat tahun aku dan dia terpisah. Walaupun di dua hari raya kemarin kami giliran saling mengunjungi.
Entah kenapa aku dan dia dipertemukan kembali di Jogja ini. Aku berkhayal seperti di film-film cinta remaja sekarang. Pertemuan ini adalah untuk mempertemukan dua jiwa yang sekian lama jauh dan kinilah saatnya untuk merekatkannya. Tentu saja itu khayalan ngawur. Namun, ia kini berada di hadapanku, seakan mendekatkan anganku dengan kenyataan.
Huh… berkhayal memang menyenangkan, sekaligus menyakitkan.
April 30, 2006
Di daun yang ikut mengalir lembut
Terbawa sungai ke ujung mata
Dan aku mulai takut terbawa cinta
Menghirup rindu yang sesakkan dada
Bait-bait lagu dari Letto itu terdengar merdu di telingaku. Suara Noe yang melankolis, dalam dan lembut menjelmakan pesona indah dalam kalbuku. Terlebih ketika dengan nada tinggi ia melantunkan:
Kau datang dan pergi oh… begitu saja
Semua kuterima apa adanya
Mata terpejam dan hati menggumam
Di ruang rindu kita bertemu
Aku sering membayangkan diriku di ruang rindu itu. Berdua dengannya, dalam satu rasa dan jiwa. Itu adalah khayalan indahku yang mengerti bahwa dengannya aku bisa sedikit tersenyum. Lagu itu memberiku tempat untuk menatap hidup dengan optimis ketimbang lagu-lagu cengeng kaya’ Ungu dengan Aku Bukan Pilihan Hatimu, Anima lewat Bintang ataupun Naff dengan Kau Masih Kekasihku yang terang-terang mencerminkan Looser and Chicken. Bukan berarti lagu model begitu jelek. Semuanya dapat tempat, semuanya punya perannya masing-masing.
Tapi, jangan tanyakan apakah aku benar-benar menyintainya dan mampu menjadi a gentle person in my love. Karena kau nanti akan tahu jika aku membiarkan ini berlalu, maka perasaan itu hanya akan tinggal kenangan yang tak ingin kuingat kembali. Yang mengerti akan dikalahkan oleh yang menyukai. Yang menyukai akan ditaklukkan oleh yang menghayati. Andai kini aku tak mencoba untuk mengenal dia lebih mendalam, tak mau mengerti, menyukai serta menghayati, entah apakah dia akan tetap bertahan dalam singgasana kalbuku dan tidak tergantikan dengan yang lain?
Aku pergi ke Nurul Ummah dengan Sandi sore ini. Tak butuh waktu lama untuk menemukan istana ‘bidadari’ itu. Namun pertemuan itu seperti tak terharapkan. Aku mencium gelagat keengganan dalam sikapnya. Penyakit lamaku kambuh, merasa kecil dan tak berdaya. Aku sempat berpikir untuk menjauh saja, melupakan dan tak perlu lagi memperjuangkan apa yang aku inginkan. Di hadapannya, otakku seperti kobaran api yang dihempas tsunami. Kenapa aku selalu gagal dalam menjalin hubungan, nampaknya aku mulai mengerti jawabnya. Karena aku begitu kekanak-kanakan, pilon dan selalu kebingungan dalam mengambil suatu sikap. Dan yang jelas aku nggak punya prinsip.
Selasa depan ia janji mau ketemu aku di UIN. Kuberharap ia tak lagi se
Mungkin aku tak bisa menuliskan semua ini dengan baik di sini, karena pikiranku sedang terpecah-pecah bagai tetesan air hujan yang menghunjam ke perut bumi.