Januari 2007
10
Ah, Malika, lagu Jikustik yang baru itu terasa teramat dekat di hatiku. Dalam lagu itu, barangkali kekasih itu berupa sosok nyata yang pernah hadir dalam hidup si penyanyi. Tapi bagiku, kekasih itu adalah sosok maya, yang kuciptakan untuk mengiringi perjalanan hidupku.
Kapan lagi kutulis untukmu
Tulisan-tulisan indahku yang dulu
Pernah warnai dunia
Entahlah, Malika, kenapa justru ketika kamu hadir lebih dekat dengan diriku, aku berhenti menulis untukmu. Padahal tulisan-tulisan untukmu itu telah berhasil menghias duniaku, mewujudkan keindahan yang penuh pesona. Ataukah ketika dirimu hadir dalam kata-kata nyata, berbisik dengan suara-suara, dan menjelma dalam raga, aku malah kehilangan pesonamu. Apakah pesona itu sirna tatkala yang maya menjadi nyata, Malika?
Mungkinkah kau kan kembali lagi
Menemaniku menulis lagi
Kita arungi bersama
Malikaku yang manis, bisakah aku mengembalikanmu lagi agar menemaniku menulis lagi, seperti saat-saat ketika kau selalu menyertai setiap kisah yang pernah terlukis?
Malika yang membuatku memendam rindu, tulisan ini adalah caraku memanggil kembali bayangmu yang kian menjauh. Agar tulisan-tulisan indahku yang dulu, bisa lagi kutulis untukmu.
Salam manis selalu untukmu.
11
Bahwa jika hidupku semakin tak menentu, rasa putus asa kian menganga, dan kecewa menemukan tempatnya, itu adalah suatu kenyataan, Malika. Aku selalu tergagap setiap harus memahami diriku sendiri. Banyak sekali peristiwa yang hanya membuatku cemas, tanpa sedikitpun aku tahu apa sebenarnya yang tengah terjadi. Kadang aku begitu angkuh, merasa kuat memikul semua ini sendirian.
Aku sedang sibuk di depan komputer, mencari bahan untuk tugas makalah. Temanku mengambil Hpku. Dia tidak mengatakan apa-apa. Tapi aku menduga-duga, apa yang sedang dia lakukan. Tidak berapa lama seorang temannya datang, mengajaknya entah kemana. Aku langsung mengambil Hpku, membuka kotak pesan, dan tepat sekali dugaanku. Beberapa SMS darimu masih ada. Sayangnya, SMS yang ditulis temanku untukmu sudah tidak kutemukan lagi jejaknya. Tapi dari balasan-balasanmu, aku bisa menebak apa kira-kira isi SMS-SMS itu.
Malika, apakah kau bertanya-tanya, benarkah apa yang dikatakan temenku lewat SMS itu? Yeah, aku jadi males nulis. Aku cuma bisa mengatakan apa yang vokalis U2 katakan, I Still Haven’t Found What I’m Looking For. Cukup segini aja deh. Kayaknya aku terlalu mendramatisir keadaan deh. Tapi mendaramatisir itu kadang perlu juga kok. Karena ia membuat gula terasa benar-benar manis dan membuat jamu terasa pahit. Bukankah ia yang membuat rasa menjadi peka? Tul ga’?
16
Malika, ada banyak hal yang ingin kusampaikan kepadamu, ada sekian banyak perkara yang kuingin dengar pendapatmu tentangnya. Aku harap, perjumpaan kita nanti tidak seperti yang sudah-sudah. Aku ingin di perjumpaan kita nanti terjadi pembicaraan serius, layaknya seorang dewasa bertemu dengan temannya.
Aku merasa pertemuan kita selama ini seperti tanpa arti. Ia cuma jadi seperti persuaan anak kecil dengan anak kecil lainya. Tapi aku ini kok ya aneh. Maunya sebenere tu apa? Kok ya lucu, kalau aku ini menginginkanmu jadi kekasihku (aku sebenarnya ingin menuliskan pacar. Tapi kesannya seperti terasa jelek)
Yah, aku bentar lagi pulang. Nanti kalo kita ketemu, cuma satu inginku, mbok ya kita lebih bnayak ngomong tentang kita gitu loh. Kita lakukan dialog, bukan monolog.
25
Aku ngga ingin jadi sentimentil ah. Wong cuma karena khayalan dan angan saja kok ribut. Hatiku ini maunya apa tho. Kalo punya keinginan kok kudu diturutin. Kalo bayi sih memang masih belum dong tentang hidup. Lah aku ini udah kuliah. Umur juga udah ga muda lagi. Jenggot udah banyak yang nongol.
Emang sih kata Merlin hasrat itu adalah energi yang menjalankan kehidupan ini. Itu alamiah dan wajar saja. Yang edan itu kalo kita tidak lagi bisa memilah mana hasrat sehat yang seharusnya terwujud dan mana yang kudu dibiarkan lewat saja. Ketika masih balita, jelas hasrat kita cuma seneng-seneng. Pokoknya semua kesenangan yang sifatnya serba sensual dan fisikal. Merlin sih nyaranin supaya hasrat itu dibiarin aja. Serahkan hasrat itu kepada Tuhan. Terserah Beliau sajalah mau diapakan. Diwujudin ya syukur, engga ya ga papa.
Ini bukan berarti pasif lho. Hanya saja hal itu dilakukan agar kita ga sibuk ribut dengan hasrat itu sendiri. Coba kalo kita nurutin hasrat-hasrat kita yang kagak ada garis finisnya? Ini ujung-ujungnya ke masalah zuhud. Zuhud tu bukan melulu berarti kere dan memble. Zuhud adalah kita tidak dijajah oleh keinginan-keinginan kita. Tidak dibodohin oleh mereka. Kita punya mobil sepuluh misalnya. Itu bukan berarti kita ga bisa dibilang zuhud. Kalo kita ga membawa-bawa mabil itu dalam seluruh persendian hidup, tidak sibuk ngurusin, cuek bebek dengan itu, ya kita berarti udah bisa zuhud. Wong zuhud itu kita menjadi raja, bukan budak. Kita yang ngatur, ngontrol, bukan kita yang diatur dan dikontrol.
Ibu,
Kalau saja aku dapat melihat waktu
Pasti sudah kupenggal
Dan kukirimkan jasadnya kepadamu
(Iman Romanshah)
Lho, ini apa-apaan kok tiba-tiba ada puisi segala. Oh asbabul njedulnya ni puisi adalah munculnya si pengarang puisi, Iman, di alma.com. Aku terkesan banget ama puisi ini waktu dia bacain di UNY beberapa waktu silam. Suaranya kala mbaca membuat angin bergelombang, air menggejolak dan ruangan menggelegar. Aku jadi ikut-ikutan semangat pas dengernya. Sering juga aku niruin Iman gaya mbacanya.
Ini hari registrasi UIN. Wualah rame banget. Tak kira pasar Klewer pindahan je. Aku ke sana dan duduk melihat-lihat. Tak sengaja aku melihat Zuni, temenku MTs dulu. Lho dia kok ikut PRM (Partai Rakyat Merdeka) Wah, dia yang selama ini kukenal lembut, kalem, ga suka neko-neko, sekarang udah ada perubahan. Kata Naning, dia tambah “mbiyeng”. Entah apa pula maksud mbiyeng dalam ujaran Naning tersebut. Aku sih biar aja. Mau nelan dunia juga ga jadi masalah. Yang penting, apapun yang kita lakuin, itu ga hanya mbebek, ikut larut tanpa tahu apa dan bagaimana. Jangan sampai apa yang kita ikut-ikutan itu membuat kita kehilangan eksistensi diri kita. Jangan sampai kita melepas keunikan diri yang kita punya, yang mungkin belum kita sadar akan keberadaannya.
28
Sayang tulisan kemaren tak bisa aku lanjutin. Keadaan ga kondusif. Tapi hari ini kau SMS aku lagi. Kau berkata kau meminta maaf atas semua keraguan, khilaf, semuanya. Ah, kau tak perlu berlebihan dalam meminta maaf. Itu hanya akan membuatku merasa benar sendiri, seakan semua kesalahan berasal dari orang lain dan bukan diri kita sendiri. Maafmu itu malah akan membuatku besar kepala. Aku ini siapa tho kok banyak nuntut. Teman, katamu. Ah, aku merasa aku belum pantes untuk disebut teman. Paling aku ini seorang yang gigih memperjuangkan egoku sendiri. Apa yang kulakukan untukmu pun, aku pikir hanya untuk menyenangkanku, tidak justru untuk benar-benar menolongmu.
Tema ketulusan barangkali sudah lapuk dalam kamus hidupku, Malika. Ya, daripada kamu tambah bingung, sementara aku tambah murung, mungkin semua yang terjadi denganku bisa disimpulkan dalam kalimat ini; aku hanya membutuhkan seseorang yang mau tahu tentangku, mau mendengarku, dan menjadikanku orang no satu dalam hidupnya. Yah, orang yang semua tentangku membuatnya tersenyum. Kamu bisa bilang itu adalah pacar. Tapi, haruskah hubungan yang lekat, dekat, harus dalam ikatan pacaran, Malika?
Malika, aku adalah seorang pemurung yang selalu bergelut dengan angan. Padahal begitu jauh jarak yang memisah antara angan dan kenyataan. Dan kau datang kepadaku, dengan segenggam angan. Kau bilang, semuanya ga harus riil kan? Aku hanya bisa ngomong sambil bengong, emang kapan eneng pernah riil ama akang?
29
Jadi staff alma.com ternyata asyik juga. Capek sih, tapi banyak pengalaman yang menyapa. Di sana malah jadi seperti Universitasku yang sebenarnya. Ga melulu teori, tapi praktek. Aku belajar banyak hal. Semangat hidup pun mengemuka. Yah, aku memutuskan menerima tawaran temenku tentu bukan karena masalah uang dong. Di antara pertimbangan yang aku pikirkan, ya agar aku ga melulu cuma berangan dan berkhayal. Itu kan juga salah satu cara agar aku bergelut langsung dengan kenyataan.
Coba kau lebih sering hadir dalam nyata, Malika. Kita mungkin bisa lebih banyak tahu satu sama lain. Kalau tidak, bagaimana hubungan bisa jalan. Bagaimana daun kan bergoyang jika angin tiada bertiup? Nanti kamu tiba-tiba ngomong kok aku berubah sih? Padahal apa tho yang berubah dariku. Aku paling akan menjawab, ah bukannya aku berubah, hanya saja lebuih banyak hal tentangku yang kamu tahu. Itu aja.
Siapa tahu semenjak dulu aku begitu. Kamu saja yang tidak tahu. Diriku kan ga cuma punya satu sisi hidup. Ada banyak sisi, dan kamu mungkin baru tahu salah satu sisi, dan barangkali pengetahuanmu itu tidak sempurna. Wong kalau kita ketemu, yang diobrolin juga omongan yang sepertinya ga perlu dan penting-penting amat. Mbok ya besok kalau kita ketemu lagi, kita garap bareng PR tentang sisi-sisi itu.