Juli 2006
Dari Pojok Sejarah
10 juli 06
Salam rindu untukmu, Malika. Apakah kota di mana bumi berguncang ini tidak lagi menarik bagimu? Bukankah ia telah memberikanmu banyak hal; senyuman, tangis, tawa, dan juga gempa.
Aku merindukanmu, Malika. Tapi aku tidak yakin apakah melihat senyummu akan menjadi penawar bagi kerinduanku ini. Maka, mungkin lebih baik aku tidak segera bersua denganmu. Biarlah kutuangkan rinduku pada lembaran-lembaran kertas. Toh itu bisa menghibur kesepianku. Mau ngomong kok nggak ada orang sekitarku yang tahu tentang dirimu. Apalagi menggantikan tempatmu di dalam hatiku. Mau ngomong sendiri, bisa-bisa dituduh gila. Ya sudah, aku akan menulis saja.
Oke, tadi malam aku nonton final piala dunia di perempatan Malioboro. Italia vs Prancis—dua tim yang bertanding di final itu—sama-sama berkostum biru. Entah apa hubungannya warna itu denganmu. Aku hanya merasa warna itu mewakili perasaanku yang tengah dilanda kerinduan.
Suasana riuh oleh penonton. Perempatan itu dibanjiri orang-orang yang ingin mendukung tim kesayangannya masing-masing. Tapi pasti ada yang sekedar mencari keramaian. Bukankah kita sering merasa kesepian, dan kita berusaha mengusirnya dengan memburu keramaian? Manusia merasa kesepian karena sering hanya membagun pagar bukannya jembatan, begitu bunyi suatu pepatah. Barangkali di antara kita memang angkuh berdiri pagar. Dan percayalah, lewat tulisan ini aku mencoba untuk membangun jembatan itu. Apakah kau menyukainya, Malika? Dan apakah itu mungkin? Mungkin kamu berpikir apa yang kulakukan ini suatu hal yang aneh. Tapi terserah apa kata orang. Hidup ini memang aneh, bukan? Dan karena itu hidup menjadi penuh misteri yang memesonakan.
Kok judulnya Dari Pojok Sejarah sih. Kan nggak nyambung? Nah, itu pertanyaan yang kutunggu-tunggu. Aku juga kebingungan kenapa harus berjudul itu. Padahal aku tidak sedang membicarakan sejarah, apalagi dari pojok. Ah, tapi bisa saja aku sebenarnya sedang menulis sebuah sejarah, dari pojok pikiranku sendiri. Apa salahnya? Bukankah kita juga sedang membuat sejarah kehidupan umat manusia?
Dari Pojok Sejarah, judul itu kudapat dari buku Emha yang kuperoleh secara tidak sengaja di perempatan Malioboro malam ini dengan Pekik. Buku itu sudah sekian lama kuharap-harapkan. Begitu sukarnya mencari buku-buku Emha, sampai aku lupa bahwa aku mengharapkan buku itu. Bahkan sampai lupa bahwa aku melupakan harapan-harapan itu.
Malika, apakah kamu benar-benar akan meninggalkan kota di mana bumi berguncang ini? Apakah kamu sungguh-sungguh ingin menjadikan kota di mana bumi berguncang ini hanya tinggal sebagai sebuah kenangan?
Salam manis selalu dariku …
Tanya
12 juli 06
“Ia memanfaatkan mereka (para tokoh barat) sebagai mikrofon untuk bertanya, bukan menjawab. Ia menjadikan mereka kendaraan untuk mencari, bukan menemukan. Ia merasa lebih penting mencari dengan bertanya daripada menemukan dengan menjawab.”
(Hamid Basyaib; pengantar untuk buku Goenawan
Setelah Revolusi Tak Ada Lagi)
Apakah istimewanya suatu pertanyaan? Jawabannya bisa bervariasi. Tapi, ada hal yang muncul secara jelas bersamaan dengan pertanyaan itu: terjadi pergulatan batin dan pikiran dalam orang yang melontarkan pertanyaan tersebut. Coba kita uji bersama, Malika. Apakah yang mendorongku untuk beribadah? Kenapa aku menjalankan ritual keagamaan yang kita anut?
Menurutmu, apa yang bakal terpikirkan oleh kita ketika tiba-tiba saja mencuat pertanyaan seperti itu? Terjadi pergolakan pikiran, dan kita serasa digugah kesadarannya oleh pertanyaan itu. Sebenarnya, Malika, selalu pasti ada pertanyaan yang memaksa pikiran kita bermain gulat. Tapi barangkali kita sudah letih untuk meladeni. Seperti kata Emha, “capek pikiran terus bermain gulat”. Kita pun memilih hidup menepi dari pertanyaan. Kita lebih suka mengunyah jawaban “jadi” yang sudah ada. Kita enggan lagi bertanya, emoh mencari. Kita lebih senang menemukan. Mungkin kita berpikir, buat apa susah-susah mikir, toh sudah ada yang ngasih jawaban.
Nah, Malika, barangkali itulah alasan kenapa aku memutuskan untuk kuliah di jurusan Aqidah Filsafat. Memang banyak yang cemas, kalau masuk filsafat bisa jadi gendeng, “kafir” dan lain-lain. Biarlah, itukan—lagi-lagi—kata orang. Meki aku juga tetap khawatir. Tapi semoga apa yang telah aku alami selama ini sudah cukup untuk mengantisipasi kemungkinan yang terburuk di hari depan.
Malika, aku ingin mengunyah pertanyaan-pertanyaan. Biarlah aku terus bergulat. Sampai ia capek sendiri. Benar-benar capek. Pikiran memang ada batasnya, karena manusia adalah juga makhluk yang terbatas. Ia tak bisa melampaui batas itu. Sebagaimana ikan juga memiliki batas: tak mampu hidup di daratan. Dan itulah tujuanku. Aku baru akan berhenti ketika aku sudah mencapai batas di mana ikan tidak lagi bisa hidup. Dan itu kapan, aku tak tahu.
Kemarin aku ketemu dengan penyair Abdul Wachid BS. Kami berbicara bermacam hal.
Terkenang
13 Juli
Siang ini, tiba-tiba aku terkenang akan dirimu, Malika. Beberapa waktu yang lalu kau menemaniku mencari buku, memilihkan kaos untukku. Aku berharap saat-saat seperti itu bisa terulang kembali. Tapi kini kamu telah memutuskan pergi dari kota ini. Aku tak tahu apa kita bisa lagi mengukir kenangan bersama di sini.
Ada yang Hilang
2 juli
Lama aku tidak menulis. Matahari terus terbit tenggelam. Bayangmu datang dan pergi. Aku membiarkan semuanya berlalu. Aku melewatkannya, tidak menuliskan itu semua, dan aku merasa ada sesuatu yang hilang. Hari ini aku ke Kota di mana bumi Berguncang lagi. Kucoba duduk di depan computer, mengetuk-ngetukkan jemari di atas keyboard, berharap ada yang bisa kutulis untukmu, Malika.
Kemarin aku menonton beberapa film yang berkesan dalam hatiku. Dalam Inikah Rasanya, tidak hanya kutemukan kisah yang menarik, (bercerita tentang kepedulian sosial remaja sekarang) tapi juga sosok wanita sederhana, anggun—tidak seperti perempuan kota, yang tidak puas dengan kealamian mereka. Ia seperti menunjukkan padaku, begitulah hidup yang kudambakan: sederhana, sabar, teduh, indah. Seperti kata tokoh dalam sebuah film; apa yang kita peroleh kadang tidak sesempurna yang kita inginkan, tapi itulah justru yang kita butuhkan. Klise banget nggak sih?
Di rumah aku ikut membantu memetik cabai. Tahukah kamu, Malika, orang-orang kampungku sering berkata, “ini adalah kehendak Ia yang mengecat Cabai” untuk menunjuk pada Tuhan yang tak terangkum oleh segala. Aku gembira bisa membantu orang tuaku. Apa yang kulakukan mungkin memang tidaklah seberapa. Tapi aku merasa puas dan senang. Aku jadi teringat kata-kata Riyan, penyiar radio Prambors, bukan seberapa besar hal telah kita perbuat, tapi karena kita telah bisa berjasa bagi orang lain, sekecil apapun itu. Kita jadi menghargai hidup ketika tahu ia perlahan akan meninggalkan kita, meski itu sudah demikian terlambat.
Malika, inilah yang mampu kutulis untukmu. Sedikit, dan barangkali tidak berarti buatmu. Tapi aku gembira karena aku bisa memberikan sesuatu untuk orang lain, walaupun itu tak seberapa, andaipun itu tidak cukup bermakna.
Salamku untukmu, Malika.
Fana’
30 juli
Pagi ini sebuah suara membangunkanku. Pelan, lirih, namun cukup menjadikan realita terjelang. Aku mesti ke LKiS. WCWB Coret II telah menanti. Ketemu temen-temen, Kahai, Sinta, Nova dll. Dengan Nova, selalu ada hal menguak. Selalu ada perasaan luar biasa. Pertemuan dengannya selalu memunculkan sesuatu yang seringkali lepas dari gengamku: semangat baru. Dia membantuku menemukan keyakinan bahwa aku mempunyai sesuatu yang berharga; sesuatu untuk disampaikan kepada orang lain.
…Menjadilah seorang manusia yang sadar akan kefanaan dirinya, atau jadilah manusia fana yang menyadari akan eksisistensinya… aku mengutip Syari’ati, seolah kata-kataku sendiri dan memetuahkannya kepada Kahai. Nova tampaknya menyimak dan tertarik, “kamu pilih yang mana, An?”
“Sebenarnya esensi keduanya sama,” jawabku seraya menghindar darinya. Aku sendiri mendengar perkataanku, tidak meyakinkan dan tercermin nada ragu. Aku berjalan ke dekat anak-anak baru, menjauh dari Nova. Itu tidak memiliki arti selain aku sedang tidak ingin berpanjang-panjang dengan pikiranku. Meskipun sudah lama aku mengharapkannya.
Malam ini, Amer dating ke kos, cerita macem-macem. Obrolan dengannya menambah pengetahuan penting bagiku: banyak hal yang tak kutahu, dan yang terpeting dalam hidup adalah metode.