Juni 2006

Mei 2, 2008 at 10:08 am (Catatan Perjalanan)

Haul

2006-06-07

Malika, acara haul tetap rame. Gempa itu seakan-akan tak pernah terjadi. Aku ke Krapyak bersama ibuku, terpanggang terik matahari karena aku naik mobil pick up dan tidur di belakang. Kugunakan kertas koran untuk menudungi kepalaku. Gus Dur hadir sebagai pembicara. “Uripku ora gur nggolek iwak,” kata Gus Dur dalam ceramahnya. “Bagi saya, hidup itu harus tahu siapa kita, mau ke mana dan berguna bagi orang lain. Dadi yo ra nggolek iwak.” Para hadirin tertawa mendengar kelakar tersebut.

Kata-kata itu Malika, bagai menggemakan apa yang ingin kusampaikan kepadamu. Hidup ini, Malika, apa sudah menjadi hal biasa bagimu. Memang sudah ada seperti ini dan tidak penting untuk dipertanyakan lagi. Apa kamu sudah puas dengan apa yang telah kamu terima, tanpa pernah bertanya-tanya? Mungkin kamu berpikir, buat apa berpayah-payah memikirkan itu jika agama sudah menyediakan jawabnya? Semalam aku berpikir, apakah gunanya terus menerus mengunyah pertanyaan2 kefilsafatan kalau ternyata musibah dan bencana lebih membutuhkan kerja nyata daripada berlarut-larut bercumbu dengan kegelisahan? Tapi, di atas seluruh tindakan nyata, ternyata kita tak hanya memerlukan “iwak” seperti kata Gus Dur. Bencana itu akan memaksa kita untuk bertanya kenapa? Suatu pertanyaan yang menuntut kita untuk menyelam dalam bersama kehidupan.

Haul baru saja berlalu ketika Agus membawa kabar tentang akan adanya gempa yang lebih dahsyat pada hari kesebelas. Dan hari itu adalah hari ini. Perkiraan itu dari pakar geologi Australia, dengan alat-alat yang lebih canggih dan mutakhir ketimbang Indonesia. Ya, meskipun itu tidak menjamin prediksinya lebih tepat dan akurat, kamu bisa membayangkan bagaimana kekalutan yang menimpa kami. Kekalutan itu menyeretku untuk merenung, benarkah bencana ini adalah kehendak Tuhan ataukah ia adalah kreasi dari alam itu sendiri. Dengan ungkapan yang lebih jelas, benarkah Tuhan itu ada? Aku sungguh-sungguh ingin memercayainya, tidak hanya dalam kata, Malika. Aku tidak ingin memercayainya hanya dari rasa takut yang mengada. Dan saat ini aku mengaharapkan orang yang mau mendengar dan merasa, bukan orang yang mencela dan menghina. Bahkan jika celaan dan hinaan itu untuk kebaikanku sendiri.

Aku ingin bercerita lebih banyak lagi, Malika. Aku ingin mengahamparkan duniaku di hadapanmu. Tapi aku belum sangggup untuk melakukan ini sendirian. Aku membutuhkan uluran tanganmu.

NB: Haul tanggal 6 juni, hari selasa. Tulisan ini kubuat rabu siang.

Malam ketiga

2006-06-08

Malam kedua telah kulalui. Isu gempa itu tak benar-benar terjadi. Tapi pagi ini merapi bererupsi, dan ini yang terbesar sepanjang krisis merapi kali ini. Tak lama berselang, gempa kecil mengejutkanku. Aku beranjak keluar dari kamar. Bergabung dengan Agus Karim yang sudah lebih dulu berlari. Aku masih tetap di lantai dua, memandang sekitar, kemudian kembali ke kamar menyimak berita tentang merapi lagi. Tapi itu ternyata bukan yang terakhir. Gempa kedua cukup besar. Dan dari tv kutahu gempa itu berkekuatan 4,6 skala Richter.

“Kamu positifnya kuliah di mana?” Tanya Pekik kepadaku. Pekik baru saja pulang dari warnet, nyari informasi tentang registrasi UGM. Ia diterima di jurusan Sastra Indonesia. Reaksiku kurang bergairah dengan pertanyaan itu, dan aku lupa apa jawabanku waktu itu. Melihat responku itu ia berkata, “Bad mood kuliah ya?”

Malika yang manis, aku ingin berbicara banyak hal denganmu. Tapi sebelumnya, aku mau bertanya padamu, apakah sebaiknya aku melanjutkan kuliah atau tidak? Kuliah, aku melihatnya seperti omong kosong belaka. Apa yang bisa diharapkan darinya jika tidak ada keseriusan dari para pengajar itu sendiri yang begitu gemar meninggalkan mahasiswanya dengan asisten atau tugas yang kadang tidak mendidik? Jika tidak, lalu apa yang harus kuperbuat?

Malika yang cantik, aku sering berpikir untuk tidak menempuh pendidikan formal saja. Tak harus terikat dengan segala tetek bengek akademisi. Bisa bebas melakukan apa saja, belajar apa saja. Tapi aku harus mengakui bahwa itu hanyalah kebohongan yang nyata. Karena realitanya, aku belum mampu untuk belajar sendiri, memelajari apa yang berguna bagiku. Bukankah yang penting adalah bukan apa yang kita lakukan melainkan bagaimana kita melakukannya? Apa di situ kamu bisa memahami maksudku, Malika?

Tapi Malika, kamu tidak usah cemas. Aku akan terus belajar. Aku sedang membayangkan masa depanku. Aku akan mondok, juga kuliah. Dengan begitu aku dapat bergaul dengan banyak orang. Berharap menemukan teman yang kuimpi-impikan. Soalnya kemudian, di mana aku akan mendapatkan tempat yang tepat, yang bisa memenuhi keinginanku.

Mungkin sesuatu yang patut disesali, Malika. Aku telah membaca cukup banyak buku. Dan dari sana, aku tidak memperoleh apa-apa kecuali kebingungan dan perasaan sok-sokan. Aku telah menjelajah bermacam gaya ungkapan. Aku sanggup merasakan kata-kata indah dan mewah, dan senang terhadapnya. Walau akhirnya aku disadarkan; kita tidak hidup bersama mereka. Di dunia yang kita huni, kutemukan penuh dengan hal remeh dan sepele.

Maafkan aku Malika. Pasti semua ini tampak kabur di matamu. Aku tidak bisa mengungkapkan yang lebih jelas daripada yang bisa kusampaikan ini. Karena ternyata, aku juga tidak mampu memberikan penjelasan yang menenangkan hatiku. Lagipula entah kenapa tulisan ini begitu berantakan.

Aku berkata ingin berbicara banyak dengamu. Jadi ingatlah, aku akan mengakhiri sampai di sini, tapi semoga ada hari esok untuk menyambung.

Mengenang Kembali

2006-06-17

Jogja, ketika terkenang ternyata terasa sakit untuk dibiarkan berlalu begitu saja. Sore ini aku kembali lagi ke sana. Kenangan-kenangan berkelebat, rasa haru memburu, dan hati meluap oleh rindu.

Malika, kemarin aku menulis surat untukmu. Tapi surat itu tak sampai di sisimu. Biarlah aku menuliskannya lagi di sini. Agar ini bisa menjadi, seperti kata Goenawan Mohamad, “sesuatu yang kelak retak, dan kita membikinnya abadi”.

Untuk Malika yang manis

Assalaamu ‘alaikum Malika. Setiap kali lewat di depan rumahmu, aku selalu berhasrat dapat berjumpa denganmu. Sudah cukup lama tak kulihat parasmu. Tidak lagi kudengar suara merdumu. Juga tatapan dan senyum sinismu. Aku merindukan semua itu, Malika.

Malika, adakah akuarium di tempatmu? Suatu kali, aku memerhatikan akuarium, bersama ikan, air, gelembung-gelembung udara dan gambar karang bawah laut sebagai latar. Mestinya ada juga bebatuan dan pasir, tapi aku tak ingat, adakah mereka di sana.

Aku menatap ikan piranha itu lekat-lekat. Ia hidup, makan, berenang, makan, berenang … (apakah ikan juga tidur sembari memejamkan mata seperti kita, Malika?) Aku bertanya-tanya, apakah hidup hanya makan, berenang seperti ikan? Betapa membosankannya hidup seperti itu, Malika. Bersyukurlah karena Tuhan melahirkan kita sebagai manusia. Kita tak hanya makan atau berjalan. Kita juga bisa memiliki HP, berkeinginan untuk mempunyai pacar, atau mendapat nilai pelajaran yang tinggi. Ikan tidak memiliki keinginan-keinginan aneh seperti manusia, bukan? Tapi, bukankah karena tidak memiliki keinginan-keinginan itu kehidupan ikan nampak tenang, tidak gelisah seperti manusia yang disiksa oleh keinginan-keinginannya sendiri?

Malika, tadi malam hujan abu lagi. Jadi, pagi ini aku harus menyapu halaman. Kusudahi suratku ini. (He…he… he)

NB: Begitu banyak pertanyaan yang ingin kuajukan, Malika. Namun lebih banyak lagi hal yang ingin kuceritakan. Apa kamu berminat dan bersedia mendengar?

NB NB: Maaf, kupakai namamu seenakku sendiri. Malika … emm aku suka nama itu.

NB lagi: butuh keberanian lho ngirim surat ini ke kamu

The last NB: Aku akan senang menerima surat atau telpon darimu

Salam,

Rif’an

15 Juni 2006

Dengan menulis surat, bukan berarti aku orang yang tahu banyak hal Malika. Aku mengatakan bahwa aku ingin bertanya justru karena aku berharap mampu menemukan jawab yang menentramkan hatiku. Tulisanku itu adalah sebuah bukti kalau aku tidak tahu, dan bukannya karena aku memiliki ilmu yang bisa kubagi. Aku juga mengatakan banyak hal yang ingin kuceritakan karena aku memang belum sanggup untuk menghadirkan fakta. Aku baru bisa bercerita, atau sebut saja terus terang: mengibul.

Terima kasih Malika, bayangmu telah setia menemani. Semoga kamu tak hanya berakhir sebagai bayang-bayang.

Bimbang

2006-06-21

Aku merasa bersyukur, lulus dan nilaiku memuaskan. Siapa yang menyangka aku menjadi yang terbaik di antara seluruh temen-temen MAK putra-putri. Aku terhenyak ketika mendengar dari mulut Pak Juyamto bahwa aku nomer satu dalam UAN ini. Aku belum yakin dengan apa yang kudengar. Aku masih ragu. “Nomer satu? Dari apa pak?” aku bertanya dengan agak tergagap, masih belum bisa menerima apa yang baru saja kudengar. “Dari MAK Ali Maksum.”

Tentu aku sangat gembira. Ah, bagaimana aku bisa di atas Nova dan Umi? Nampaknya merupakan sesuatu yang mustahil mengalahkan mereka. Dalam uji coba UAN kemarin saja aku mendapat peringkat tiga, dengan selisih yang begitu teramat jauh dari Nova. Itu belum lagi kekalahan estafet dalam ujian semester. Ia selalu merebut pararel, sementara aku hanya mampu merebut peringkat ketiga. Itupun cuma sekali. Waktu kelas satu dulu.

Umi? Dia adalah kakak kelasku yang dikirim ke USA sebagai wakil pertukaran pelajar dari MA Ali Maksum. Orangnya cerdas dan, kata anak-anak, keibuan. Jangan lupakan juga Karim atau Uyud yang belajar mati-matian dan akhir-akhir ini selalu mendapat tempat di atasku. Lagipula aku tidak benar-benar serius belajar. Bahkan berdoa pun jarang. Padahal berdoa sering menjadi senjata terakhir bagi orang yang kepepet. Walaupun aku mesti mengakui, kedua orang tuaku tanpa henti menengadahkan tangan kepada Dzat Yang Maha segala-galanya. Jangan-jangan dari mereka berdualah semua ini dapat kugapai. Bukankah keridhaan Allah tergantung pada keridhaan kedua orang tua?

Aku jadi bertanya-tanya, apa gerangan kehendak Tuhan dengan menaruhku pada peringkat pertama? Apakah ini semacam istidraj dari Tuhan buatku? Setiap saat, aku hanya membawa diriku semakin jauh dari Tuhan. Semakin memandang remeh ajaran-ajaran agama. Dan yang paling parah, aku mulai meragukan Ia. Tuhan ingin mencobaku, apakah aku bisa bersyukur dan bisa lebih mendekatkan diri dengan-Nya atau malah semakin lupa diri dan berbangga dengan anugerah-Nya ini? Sulit benar aku memahami situasi ini. Anugerah ini justru kian menambah kebingunganku.

***

Apakah kita bisa bersikap sama dalam dua kondisi yang kontradiksi? Kita bersabar ketika mengahadapi kesedihan, dan kita bersyukur kala memeroleh nikmat. Tapi bisakah kita tetap bersyukur dalam kemalangan, dan bersabar dengan kelimpahan? Hakikat hidup terletak pada sabar dan syukur, kata pak Andi.

Hilang

2006-06-22

Begitu mudahkah buatku menghapus sebuah nama dalam hidupku? Malika, atau siapa pun jua yang pernah masuk ke dalam hidupku, maafkan aku. Ternyata aku tak sanggup untuk membingkaimu dengan indah, dan menjaganya supaya tidak memudar dan hilang. Di Jogja ini, bayangmu kian jauh. Jarak ini telah membuat sosokmu terlupakan, Malika. Aku tak yakin aku bisa mempertahankannya. Aku tidak menjanjikan apa-apa untukmu.

Matahari sore bersinar temaram. Cahaya emasnya memendar melalui jendela. Bersama pak Andi, Tengil, Humed dan Iwan aku nonton film American Pie: Band Camp. Dari film itu aku harus semakin mengakui pepatah lama kita, tak kenal maka tak sayang. Kita hanya membutuhkan sedikit keberanian untuk mendekati orang lain dan menunjukkan maksud kita. Tunjukkanlah bahwa kita memang patut untuk mendapatkan cintanya. Membuat orang lain mencintai kita sebenarnya tidaklah sesulit yang kita bayangkan. Masalahnya justru adalah apakah kita berani melakukannya. Ini cuma sekedar teori saja. Prakteknya jangan dikira gampang.

***

Ba’da Isya’ aku diajak manaqiban syekh Abdul Qadir Jailani oleh Agus Bandi. Semula aku agak memandang remeh kegiatan itu. Tapi begitu tahu bahwa di antara temen-temennya Agus banyak yang megikuti thariqat, perasaanku menjadi sedikit lebih mantap. Memang penampilan dhahir orang-orang itu kurang meyakinkan. Tapi siapa menduga kalau mereka memang sengaja melakukan itu untuk menutupi kesejatian mereka. Disangka baik lebih tidak mengenakkan daripada di sangka buruk. Lagipula tidak ada beban yang harus ditanggung jika orang menerapkan status jelek. Kita jadinya bebas jadi diri sendiri, tidak usah termakan omongan orang. Kita juga bisa belajar untuk tidak menilai seseorang dari kulitnya saja.

The Sacrifice

2006-06-23

Perut baru saja terisi mie hasil rampokan dari Syauqi, sebelum pergi dengan Tengil nyari kado buat pacarnya. Sampai sejauh mana sih manusia tegantung dengan makanan? Memang sih dua piring nasi sudah cukup untuk membikin manusia lupa dengan masalah perut mereka. Tapi, manusia ternyata tidak hanya berpikir untuk masa sekarang saja. Manusia, dengan akalnya, mampu untuk memikirkan masa depan, bahkan masa lalunya. Sebagai konsekuensinya, manusia tidak bisa tenang tanpa mendapat jaminan kepastian di masa di depan mereka. Jadi, salahkah jika kita menimbun kekayaan untuk menjamin masa depan sementara banyak yang lain kekurangan? Salahkah bila kita mengedepankan ego kita sendiri, bahkan jika itu demi kebaikan diri kita sendiri?

Aku dan Tengil memasuki toko busana muslim Sahiba. Mengingat egoisme manusia itu, aku jadi berpikir kekuatan seperti apa yang membuat kita rela mengorbankan sesuatu bagi orang lain? Tengil tega mengeluarkan uang lebih dari seratus ribu untuk membelikan satu stel pakaian muslimah. Aku dulu juga pernah membelikan seseorang kerudung. Harganya tidaklah seberapa dibanding dengan yang Tengil keluarkan. Tapi, ah, benarkah itu semua bisa disebut sebagai pengorbanan? Bukankah kita melakukan semua itu karena kita mencecap kenikmatan dari apa yang kita lakukan itu? Namun, adakah orang yang bisa tulus melakukan sesuatu untuk orang lain tanpa imbalan apapun, bahkan jika itu sekedar rasa senang?

Apakah sebenarnya ketulusan itu? Orang bilang ketulusan adalah melakukan sesuatu tanpa pamrih. Dan itu sudah cukup untuk membuat mereka merasa gembira. Kalau begitu, ketulusan itu, bagaimanapun juga bukankah mengandung pamrih; rasa senang. Bagaimana jika dengan ketulusan itu kita tidak mendapat kesenangan? Kepalaku seperti mau meledak memikirkan hal yang malah seperti lingkaran setan ini.

***

Tengil bercerita lelucon konyol kepadaku. Ada seorang yang berdoa supaya gadis yang dicintainya dapat menjadi jodohnya.

“Ya Allah, jadikanlah gadis itu sebagai jodohku. Jika dia sudah menjadi jodoh orang lain, maka jadikanlah ia menjadi jodohku. Ya Allah, jika aku sudah menjadi jodoh bagi gadis yang lain, tetaplah jadikan ia sebagai jodohku. Tetapi jika dia tidak mau menjadi jodohku, masukkanlah dia ke dalam api nerakaMu.”

‘Arif

2006-06-24 & 25

Tasawuf adalah suatu ajaran yang bertujuan melatih seseorang membersihkan jiwa agar mampu menyaksikan kebenaran (al musyahadah) dengan hatinya. Jika melatih akal adalah dengan diskusi dan menelaah, bagaimanakah caranya melatih hati? Menurut Rumi ada dua peringkat image dalam melatih hati. Pertama, hati diibaratkan dengan cermin yang digosok supaya mengilap; yaitu hati harus menjalani asketisme keras untuk jangka waktu yang lama. Al Ghazali mengelaborasi upaya mengilapkan cermin terus menerus ini dalam cerita perlombaan melukis antara orang Cina dengan kecakapan melukis yang tidak terungguli dan orang Bizantium. Orang Cina menghasilkan gambar yang mengagumkan dan indah. Sementara orang Bizantium tidak bersedia memerlihatkan gambarnya. Mereka justru mendekatkan batu marmer yang telah dikilapkan sedemikian rupa sehingga memantulkan lukisan orang Cina. Gambar dalam pantulan itu bahkan lebih membuat terkesima daripada aslinya. Hati seperti cermin yang mampu memantulkan realitas Tuhan.

Image kedua berkaitan dengan penyucian hati, pengosongan rumah. Mengosongkan hati dari segala sesuatu selain Allah dan menghias diri dengan perbuatan baik sampai yang sekecil-kecilnya serta menepi dari perbuatan buruk sejauh-jauhnya. Rumi menggunakan perumpamaan pedang, atau “sapu” la. Seperti pedang, la tersebut memangkas segala sesuatu yang semu. Jika kita sudah berhasil memangkas segalanya selain Tuhan, maka baru kita benar-benar menemukan Tuhan. Bukankah dalam syahadat kita yang mula adalah laa ilaaha (tiada Tuhan)? Jika kita sudah tahu mana saja yang bukan Tuhan, bukankah yang tertinggal hanyalah yang Sejati, yang Abadi? Rumah juga harus dibersihkan dengan sapu ini sehingga Kekasih sajalah yang dapat tinggal di dalamnya.

Seseorang mengetuk pintu sahabatnya.

“Siapa kamu, apa kamu orang yang dinanti-nantikan? Tanya sahabat.

Orang itu menyahut: “Aku!” Sang sahabat berkta:

“Enyahlah dari sini, ini bukan tempatnya orang mentah dan kasar!”

Apalagi yang dapat mematangkan yang mentah dan menyelamatkannya,

Kalau bukan api perpisahan dan api pengasingan?

Setahun penuh orang malang itu berkelana

Dan terbakar dalam keterpisahan dari sahabatnya,

Lalu dia pun jadi matang, kemudian kembalai

Dan dengan hati-hati

Mendekati tempat tinggal sang sahabat.

Dia berjalan mengitari tempat itu dengan rasa cemas

Jangan-jangan dari bibirnya keluar kata-kata kasar.

“Siapa itu yang ada di pintu?” seru sang sahabat.

“Dikau, kawan!” demikian jawabnya.

“Masuklah,kini kamu itu aku—

di rumah ini tak ada tempat bagi dua ‘aku’!” kata sang sahabat.

(Matsnawi)

“Hati adalah rumah sekaligus taman,” tulis Annemarie Schimmel dalam bukunya tentang Rumi, Akulah Angin Engkaulah Api. “Ia juga masjid, bahkan Masjid al Aqsha (masjid terjauh) di Jerusalem. Ia adalah Ka’bah, rumah Tuhan, dan juga ‘Arasyi Tuhan, tempat singgasana Tuhan. Hati kecil ini, yang disamakan dengan ikan di penggorengan, juga merupakan jendela untuk melihat Kekasih. Atau, hati adalah botol kaca yang dihuni peri tercinta, dulcis hospes anemae (tamu manis jiwa), suatu ungkapan yang digunakan penulis-penulis Kristen Abad Pertengahan untuk menyebut adanya Tuhan di dalam hati. Rumi heran bagaimana Ia yang tak terangkum langit dan bumi sanggup singgah di hati yang “mungil dan pemalu’.”

***

Di masjid Nabawi, suatu kali Rasul berkata kepada para sahabatnya, “sebentar lagi akan masuk lewat pintu masjid ini seorang ahli surga.” Kemudian masuklah seorang laki-laki ke dalam masjid. Para sahabat menemukan lelaki itu orang yang biasa saja. Mereka heran, apa gerangan yang menjadikan lelaki itu sebagai ahli surga. Sahabat takut-takut untuk menanyakan kepada rasul, sehingga kebingungan mereka tidak terjawab.

Kejadian seperti itu itu berlangsung tiga kali, dan Abdullah bin Amr tidak tahan lagi ingin menegtahui apa penyebab lelaki itu menjadi ahli surga. Dicarilah cara ia dapat tinggal di rumah lelaki itu. “Telah terjadi kesalahpahaman antara aku dan kedua orang tuaku, bolehkah aku menumpang di tempatmu selama tiga hari,” begitu kata Abdullah. Ia pun tinggal bersama lelaki itu selama tiga hari. Ia heran, pada lelaki itu tidak ada ibadah khusus yang dilakukan penghuni surga. Lelaki itu memang rajin beribadah tapi tidak ada sesuatupun yang istimewa.

“Pasti ada sesuatu yang disembunyikan atau yang tidak sempat aku lihat. Aku harus berterus terang padanya,” Abdullah berkat pada dirinya sendiri.

“Apakah yang Anda perbuat sehingga Anda mendapat jaminan surga?” Tanya Abdullah.

Apa yang Anda lihat itulah!” jawab si penghuni surga.

Dengan kecewa Abdullah bermaksud kembali saja ke rumah, tetapi tiba-tiba tangannya dipegang oleh si penghuni surga seraya berkata: ‘Apa yang anda lihat itulah yang saya lakukan, ditambah sedikit lagi, yaitu saya tidak pernah merasa iri hati terhadap seseorang yang dianugerahi nikmat oleh Allah.tidak pernah pula saya melakukan penipuan dalam segala aktivitas saya.”

Dengan menundukkan kepala, Abdullah meninggalkan si penghuni surga sambil berkata, ”Yang demikianlah rupanya yang menjadikan anda mendapat jaminan surga.”

Tidak mudah iri dan tidak suka menipu tentunya adalah salah satu metode untuk membersihkan jiwa. Masih banyak yang lain, tapi kedua hal itu adalah contoh kongkret yang pernah terjadi di masa Nabi.

Faith Seeking Understanding

26-27 Juni 06

Senin malam aku diajak Mas Bandi ke Amer. Mangkel, aku pingin banget nonton Itali VS Austaralia. Sayang di kos Amer tidak ada tv. Aku menyendiri, menjauh dari mereka berdua dan asik tenggelam dalam buku-buku. Dari membaca itu lahirlah tulisan di bawah ini. Akhirnya bosen juga menyendiri dengan buku. Aku keluar cari angina, berharap ada tv yang bisa mengabarkan padaku tentang pertandingan sepak bola. Syukur, di pak RT aku bisa nonton. Skor masih nol-nol dan menit sudah menunjukkan injury time. Pada injry time itu Itali mendapat hadia penalty yang kemudian diambil oleh Totti. 1-0 untuk Itali. Itali lolos ke perempat final.

Bisakah kita mencukupkan diri dengan iman saja? Bisa, tapi tidak setiap kita bisa untuk percaya begitu saja. Memang masih banyak masyarakat kita yang hanya dengan keyakinan ia sudah merasa tenang dan bahagia. Keyakinan memang sungguh luar biasa. Ia bisa meringkas perjalanan seluruh hidup hanya menjadi sekejap saja. Pada masa awal Islam pun umat islam masih bisa tenang dengan iman mereka. Namun ketika Islam berkembang pesat dan pertukaran kebudayaan mulai terjadi, terutama dari Yunani dengan filsafatnya, dunia Islam pun mau tak mau terkena imbasnya.

Tidak sedikit yang tak lagi bisa menerima iman tanpa bertanya-tanya. Dan dimulailah sebuah perjalanan “iman mencari pengertian”. Al Farabi, al Kindi, Ibnu Sina dan lainnya mencoba menerangkan iman dengan akal mereka. Perkembangan ilmu dan akal manusia memaksa mereka memikirkan kembali agama, yang pada akhirnya mereka dihadapkan pada pertanyaan apakah ada dua kebenaran yang satu dipahami filsafat dan yang lain oleh agama? Atau apakah kebenaran itu tunggal tapi menampakkan diri dalam wujud rasional dan di sisi lain berupa metaforis-imajinatif? Para Filosof cenderung dengan pendapat kedua.

Para filosof Islam, seperti Ibnu Sina, membagi manusia dalam dua kelompok; awwam dan khawwas. Bagi yang pertama, agama adalah filsafat itu sendiri. Mereka tidak akan mampu untuk menegetahui hakikat kebenaran jika harus memeras otak mereka. Karena itu agama, dengan ungkapan metaforis dan simbolisnya, sesuai dengan akal pikiran orang awam. Dengan begitu kebenaran mudah diterima dan penyebarannya bisa pesat. Jadi, alih-alih daripada mengatakan, “Apabila engkau mengejar kebaikan moral, maka pikiranmu akan mencapai kemerdekaan spiritual yang sebenarnya, yakni mencapai kebahagiaan,” Nabi mengatakan, ”Apabila engkau bertingkah laku bajik dan melaksanakan ini dan itunya, maka engkau akan masuk surga dan selamat dari neraka.” (Islam: F. Rahman)

Tapi masalahnya kemudian, apa gunanya syariah jika kebaikan moral sudah tercapai? Apakah kita bisa terbebas dari syariah dan tidak memerlukannya lagi jika kita sudah paham dengan realitas hakiki? Islam ortodoks menjawab, tidak. Sifat realita hakiki, menurut islam ortodoks, tidak bisa diintelektualitaskan begitu saja; tetapi secara langsung diilhami aktivitas moral. (Islam) Pak Andi juga berkata, menurut Imam Ghazali tidak bisa meninggalkan syariah. Karena menurut al Ghazali, anggota tubuh tidak bisa lepas dari amalan, dan kelak di akherat anggota tubuh bisa menjadi saksi atas perbuatan yang dilakukan sewaktu di dunia.

Teman Pak Andi pernah tidak shalat karena anggapan sudah cukup dengan hati saja. Ia kemudian dimarahi oleh kiainya. “Besok di akhirat yang disiksa apanya manusia?” Tapi aku bingung, benarkah yang disiksa besok di akhirat adalah fisik manusia? Bukankah siksaan terhadap jiwa bisa lebih sakit dan pedih?

***

Tiga ayat Tuhan menurut Seyyed Hossein Nasr: ayat alam, ayat dalam jiwa manusia sendiri, dan ayat-ayat yang tertera di dalam kitab yang merupakan pedoman untuk membaca dua ayat sebelumnya.

Merajuk

28 Juni 06

Malika, bagaimana hari yang telah kamu jalani hari ini? Dua kali aku menulis tentang pengetahuan, sesuatu yang kuperoleh dari luar, aku benar-benar kepayahan. Aku merasa kecil dan tak berarti. Ujung-ujungnya aku semakin menyadari bahwa aku memang tidak tahu apa-apa. Sepintas, memang lebih enak bertanya daripada berusaha menjawab pertanyaan. Tapi kata orang, pertanyaan yang baik lebih bagus daripada jawaban yang baik. Dan kata orang lagi, yang penting bukanlah apa jawaban yang diberikan, tetapi apa yang ditanyakan dan bagaimana kita berusaha untuk mecarikan jawabannya. Bagaimana denganmu, Malika, apakah lebih mudah bertanya atau mencoba memburu jawaban?

Malika, aku lelah. “Bila kaubaca tulisan ini, percayalah, aku tidak sedang menulis puisi. Aku hanya sedang cengeng. Boleh, kan? Enak juga merajuk sesekali, asal ada yang peduli,” begitu bunyi sebuah tulisan dari temenku. Romantisme memang seperti ventilasi, memberikan angin segar walau sebentar. Tapi aku tidak yakin bahwa ada yang peduli dengan rajukanku ini. Tidak terkecuali dengan kamu.

Oh ya Malika. Aku lupa untuk menanyakan ini; siapa sebenarnya dirimu? Aku memang memunyai seorang teman yang orang tuanya menjadikan Malika sebagai namanya. Tapi aku tidak pernah mengenal dirinya. Yang kutahu tentangnya cuma hal-hal yang sudah semakin biasa terjadi di kalangan manusia: sekadar kulit saja. Di dunia manusia, Malika, kita mau mengenal orang hanya dalam rangka mencari keuntungan bagi diri sendiri. Manusia memandang dunia tidak lagi sebagaimana adanya, tetapi memandang dunia sebagaimana yang ia inginkan ada. Manuisa semakin senang hidup dengan angan-angannya sendiri, Malika.

Aku merasa jenuh dengan keadaan ini, Malika. Seringkali aku merasa muak bergaul dengan manusia. Seringkali pula aku muak dengan hidup ini. Syukurlah ada hal yang bisa menghiburku. Itu adalah kata-kata dalam kitab Al Hikam karya Syekh Ibnu ‘Atha’illah.

Apabila Allah telah membuatmu jemu dengan makhluk,

maka ketahuilah bahwa Dia hendak membukakan

pintu keintiman dengan-Nya untukmu.

Ketika Allah melonggarkan lidahmu untuk meminta,

maka ketahuilah bahwa Dia hendak memberimu.

Malika, semoga benar apa yang diucapkan oleh Syekh tersebut. Dan semoga lagi, itu bisa betul-betul terjadi padaku. Amin.

***

Malika yang penuh pesona, aku masih juga belum memeroleh kejelasan tentang hari esokku. Aku akan mengambil kuliah apa, mondok atau kos di mana dan ingin menjalani hidup yang bagaimana? Semua itu terus saja berkutat di kepalaku dan aku juga tidak segera berusaha memperjelas segalanya. Aku lebih suka menanti—tindakan yang selalu saja terus kulakukan—dan berharap waktu akan memberi kepastian. Malika, apakah kamu berpikir tidak penting kita sekolah atau hidup di mana, karena yang terpenting adalah bagaimana kita sekolah, bagaimana kita menjalani hidup?

Sebelum hidup di Krapyak, aku memang merindukan pondok yang teratur, ketat dan yang tidak boleh terlupakan benar-benar sesuai dengan ajaran Islam. Tetapi kehidupan di sini telah membuat segalanya berubah. Kini, aku tak lagi mengharapkan kehidupan seperti itu, Malika. Sekarang aku justru kurang suka dengan peratuaran dan keketatan. Aku ingin lebih banyak mengetahui kehidupan luar. Tidak perlu terkejut, Malika, jika kehidupan luar ternyata begitu liar.

Belum lama aku menulis tentang gerbang. Di sana aku bertanya-tanya; apakah mannusia itu baik karena memang baik ataukah karena ia hidup dalam lingkungan yang baik? Aku ingin membuktikan, setidaknya kepada diriku sendiri, bahwa manusia baik karena ia memang sejatinya adalah makhluk yang baik, tidak peduli bagaimanapun keadaan lingkungan di mana dia hidup. Ketika kita melihat keburukan, yang jadi masalah bukanlah bagaimana supaya kita menjauh darinya, akan tetapi bagaimana kita bisa menciptakan situasi di mana keburukan mungkin tidak dilakukan lagi.

Aku akan mengakhiri tulisan ini di sini, Malika. Jangan berhenti bertanya. Teruslah bertanya, apa saja. Tidak usah terlalu memusingkan jawabannya. Yang perlu kamu pikirkan adalah apakah kamu bisa terus menerus bertanya tanpa harus memeroleh jawaban. Sebagaimana ketika kamu memberi, janganlah mengharapkan kembali.

Mimpi

29 Juni 06

Tadi pagi aku mimpi aneh, Malika. Aku kembali sekolah di Mts bersama kamu, Afifa dan Anisa. Malika, benarkah mimpi adalah perwujudan alam bawah sadar kita seperti kata Sigmund Freud? Tidak sekali ini saja aku memimpikan masa Mts itu. Apakah aku begitu terobsesi dengan kenangan masa laluku sehingga aku ingin kembali ke sana? Entahlah Malika. Yang pasti kini aku merindukanmu.

Malika, manakah yang kau pilih; cinta abadi atau cinta yang terbentur oleh ruang dan waktu? Siang ini aku nonton film tentang Sun Wu Kong. Cerita yang diusung masih seputar perjalanan mengambil kitab suci ke barat, namun dipoles sedemikian rupa menjadi kisah yang nakal dan jenaka. Bhiksu Tong jatuh cinta pada seorang gadis. Dan kata Buddha, seseorang yang dalam jiwanya masih terdapat cinta kepada duniawi sedikit saja, tidak pantas mendapat pencerahan. Cerita memang dibuat agak dramatis dan tragis. Penuh pengorbanan dan ketulusan. Siapa yang tidak terenyuh melihat pengorbanan dan perjuangan dua insan yang dimabuk cinta.

“Meskipun kau berhasil menolongnya, lalu kenapa?” tanya Buddha kepada Bhiksu Tong.

“Aku akan bersamanya,” jawabnya.

“Apa ini akhir yang kau mau?”

Bhiksu Tong diam tidak menjawab. Tapi dari wajahnya terbaca kata ya.

“Kalau aku bilang kalian hanya bisa bersama sampai matahari terbenam, menurutmu bagaimana?”

“Aku bersedia…”

“Karena itu cintamu terbatas oleh waktu. Apa kau pernah berpikir … mencintai seseorang tidak harus membuahkan hasil? Kalau tidak mengejar hasil, maka tidak akan ada hari kiamat. Aku yakin wanita ini datang ke sini untuk mengorbankan dirinya, tidak berpikir bisa bersamamu. Cinta yang tidak mengharapkan akhir barulah abadi.”

Itulah salah satu dialog indah antara Buddha dan bhiksu Tong dalam film itu. Malika, tidakkah kau menginginkan cinta yang abadi, tidak tergantung dengan ruang dan waktu? Jika kita mencintai yang fana, yang akan hilang oleh waktu cinta kita juga bisa hilang bersamanya. Mungkin ada orang yang tetap menyimpan cinta kendatipun orang yang dicintainya telah tiada, namun apakah cinta tetap utuh jika kita pun turut menjadi tiada? Hanya ada satu yang tidak akan sirna, Malika. Dialah Tuhan yang maha abadi. Jika kita mampu memberikan cinta kita sepenuhnya kepada-Nya, kita boleh saja mati, tapi Dia yang tiada akan pernah mati terus akan mencintai kita sehingga kita menjadi abadi. Pernahkah hal itu terlintas dalam pikiranmu, Malika?

Entah kenapa Malika, hari ini aku tiba-tiba saja ingin puasa. Sudah agak lama aku tidak menjalankannya. Mungkin aku berharap bisa lebih menahan nafsu makanku. Atau berpikir lebih jauh lagi, aku puasa agar aku belajar untuk mengendalikan segala nafsuku. Dan yang paling esensial, supaya lebih kusadari kehadiran Tuhan dalam hidupku. Beberapa tahun ini, seperti Spinoza, aku menemukan kenikmatan ketika menggunakan rasio, dan bukannya menenggelamkan diri dalam teks-teks kitab suci. Spinoza, seperti halnya para filsuf Islam Awal, menganggap massa tidak mampu berpikir rasional. Oleh karenanya, massa membutuhkan semacam agama untuk memberi mereka hiburan. Bagi Spinoza, agama itu bukanlah agama-agama yang sudah ada, melainkan agama yang harus direformasi berdasarkan prinsip-prinsip keadilan, persaudaraan dan kemerdekaan.

Walaupun begitu, tetap saja ada unsur spiritualitas dalam pandangan ateisme Spinoza. Ini karena dia menganggap dunia sebagai sesuatu yang ilahi. Dunia adalah pandangan Tuhan yang imanen dalam realitas yang menakjubkan. Dia menganggap studi dan pemikiran filosofis sebagai doa. Tuhan, menurutnya, bukanlah objek yang harus diketahui. Tuhan hanyalah prinsip pemikiran kita. Kenikmatan yang kita alami ketika mendapatkan ilmu adalah cinta intelektual terhadap Tuhan. Ia percaya bahwa seorang filsuf sejati akan menajamkan pengetahuan intuitif—sebuah pengetahuan yang diperoleh lewat perenungan—yang merupakan pengalaman yang dipercayanya sebagai Tuhan. Dia menamakan pengalaman itu sebagai “momen keindahan”. Pada keadaan ini, sang filsuf menyadari bahwa dia tidak dapat dipisahkan dari Tuhan, dan bahwa Tuhan itu ada melalui manusia. (Berperang Demi Tuhan: Karen Armstrong)

Barangkali benar kata Spinoza, Malika. Berpikir rasional bukanlah pekerjaan gampang. Tidak setiap orang mampu melakukannya. Aku mungkin termasuk di antara mereka yang tidak mampu itu. Karena itu, Malika, aku ingin mendekatkan lagi diriku kepada ritual-ritual keagamaan, yang lebih ringan dijalani dan cepat mengantarkan kita kepada ketenangan. Semoga.

Catatan di Penghujung Juni

Malika, sejak lama aku ingin berbagi kepadamu. Dan di penghujung Juni ini, mungkin kesempatan terakhirku untuk melaksanakan maksud itu. Besok adalah hari purnasiswaku. Keluargaku akan datang dan menjemputku pulang. Sebelum itu terjadi, aku akan merangkai kembali tulisan tentangmu. Maaf, aku tak sempat lagi untuk menyusunnya berdasarkan tema yang runtut. Aku menyusunnya secara kronologis, berdasarkan waktu aku membuatnya. Mungkin kamu akan merasa bingung, tak paham dengan apa yang kutulis. Tetapi tetaplah terus membaca.

Kuletakkan tulisan penghujung Juni ini di awal, supaya kamu tidak terlalu terkejut membaca catatan harianku ini. Anggaplah ini sebagai pengantar seperti pada suatu buku. Dan nampaknya aku tidak bisa melewatkan pertanyaan ini; kenapa nama Malika bisa ada dalam catatan-catatan harianku? Malika, apakah kamu pernah membaca cerpen Sepotong Senja Untuk Pacarku atau novel Negeri Senja karya Seno Gumira Ajidarma? Kamu tahu siapa tokoh wanita di dalam dua cerita Seno itu? Alina, Malika. Alina nama gadis itu. Betapa Seno senang sekali menggunakan nama Alina dalam karya-karyanya. Dan kupikir apa salahnya aku meniru dia; memunyai nama yang kusukai dan indah. Tapi aku tak bisa menjadikan Alina sebagai nama itu. Ia sudah menjadi milik Seno. Dan akhirnya aku temukan nama impianku itu; Malika. Tapi aku tak ingat lagi, manakah yang lebih dulu kutemukan, nama itu ataukah dirimu? Itu tidak terlalu penting buatmu, bukan?

Kata orang, diary adalah teman curhat yang asik. Tidak banyak bicara (emang bisa bicara?) dan pandai menjaga rahasia. Dan kupikir, akan bagus jika ada nama Malika di sana. Terkadang Malika itu merujuk kepadamu. Tapi di saat lain, Malika adalah sebuah dunia, sebuah sosok berselubung misteri, di mana imajiku bersemi.

Terima kasih telah mau mendengar kisahku. Aku akan senang jika kamu juga mau berbagi denganku, bila kamu berpikir aku memang pantas menerimanya.

NB: Seperti Seno, aku juga mengabadikan nama itu dalam sebuah cerpen. Kamu bisa melihatnya di bulletin Coret edisi 18. Namun, jika kamu penasaran ingin segera membacanya, aku sertakan pula cerpen itu dalam surat ini.

Tulis sebuah Komentar