Juni 2007
7 Juni 2007
Sungguh, aku tidak berharap sedikitpun akan melewatkan semua peristiwa dengan sia-sia. Aku memang susah memelihara gelora dan menanamkan keteguhan. Semua telah berlalu, begitu banyak. Setiap kali terbit keinginan untuk menulis, ia keburu terbenam oleh lain kesibukan. Hari ini aku ingin memulai lagi. Engkau tentu ingin tahu mengapa. Kutemukan buku Amin Maalouf, Nama Yang Keseratus. Novel itu bertutur tentang kisah perjalanan seorang penjual buku. Ia hanya merupakan catatan-catatan oleh si penjual buku tersebut. Apakah menarik? Awalnya, aku teratrik dengan buku tersebut karena obsesiku terhadap kehidupan timur tengah di masa yang jauh. Tapi kemudian, yang membuatku tertarik dengan buku tersebut adalah kesederhanaan penceritaannya.
Sesuatu memang bias terlihat sederhana. Tapi ketika menyelam agak jauh, kita bisa melihat tidak hanya kesderhanaan
15 Juli 07
Kemalasan bias dengan mudah mengalahkan keinginan. Aku membaca novel Nama Tujan yang Keseratus. Mengapa aku tidak bias seperti itu. Menulis pengalaman, mengikat kenangan agar tidak lepas di masa yang akan datang. Melihat betapa mudahnya suatu peristiwa hilang dari ingatanku, alangkah buruk jika aku membiarkan peristiwa-peristiwa itu tidak berjejak dalam tulisan.
Pagi ini Tengil datang. Dengan bertambahnya orang, pekerjaan rental akan lebih mudah. Tapi aku merasa tidak, jika orang itu adalah Tengil. Banyak hal yang membuatku sakit hati. Aku berharap akan ada yang mengirimkan pengganti yang seperti Agus. Semoga.