Mei 2006
Mei, 1 - 2006
Aku merasakan ketakutan mengahadapi selasa esok. Apa aku justru tidak sedang menggali lubang unuk diriku sendiri? Aku takut, dia tidak menjadi dia dengan segala apa yang ada padanya. Seseorang bisa dengan mudah menukar jati dirirnya hanya karena rasa takut yang mengada-ada. Aku sendiri sering mengalaminya. Menjadi orang lain di saat kita merasa tidak berani menghadapi realita, seperti mendapat naungan di saat panas nan terik. Menjadi diri sendiri kadang memang terlihat bodoh, menyebalkan, bahkan memalukan.
Uh… apakah ia akan bersikap seperti apa yang kucemaskan itu? Semoga tidak. Karena aku belum mampu menjadi diriku sendiri untuk menatap kepedihan itu dengan mataku yang masih sensitive.
Kubaca kabar di koran Pramoedya meninggal dunia Ahad pagi kemarin. “Ambil aku sekarang, bakarlah jasadku,” ucapnya sebelum nafas terakhirnya meregang. Semasa hidup, dia memang sosok yang liar, tetapi kukuh. Entah apakah kata-kata itu muncul karena sifat liarnya itu, atau adakah itu pesan bagi generasi yang akan segera ditinggalkannya? Pesan itu, dengan kata lain adalah semacam do’a. “Ambil aku sekarang” bisa berarti bahwa tugasnya di dunia ini telah usai. Ia telah merasa puas terhadap hidup yang ia jalani. “Bakarlah jasadku” adalah pesan yang mungkin berarti jangan kultuskan aku. Aku boleh tetap meninggalkan makna di bumi ini, tapi kalian jangan menjadi aku. Musnahkan diriku dalam dirimu. Karena kamu adalah kamu. Kamu memiliki jalanmu sendiri. Jalanmu bukan jalanku.
Ada perasaan kecewa di sudut kecil hatiku dengan kepergiannya. Meski mungkin sedikit tertutupi oleh janji esok pagi. Aku menyesalkan kenapa satu pun belum pernah membaca karyanya. S’moga inginku ini bisa terwujud dalam waktu dekat.
2006-05-03
Kulihat jadwal esok, Ulumul Hadits. Aku sedikit lega. Tak perlu terlalu berpayah-payah seperti hari-hari sebelumnya. Tapi juga bukan berarti aku bisa semau sendiri. Yah mencari nafas sedikit boleh lah.
“Tidak ada kunci yang sama untuk membuka pintu yang berbeda.” Biasanya hampir jarang sekali kutemukan kalimat indah dari pelajaran di dalam kelas. Aku agak tercengang sewaktu membaca kalimat singkat itu dalam lembar tes PPKn. Ada juga tho kata-kata yang bermanfaat dan dalam di sana. Kukira cuma pelajaran kering aja. Seseorang, begitu kira-kira penjelasan di tes itu, memilki caranya sendiri untuk mencapai keberhasilan. Dan kita sendirilah yang sanggup menemukan jalan terbaik itu.
Kalimat itu berpengaruh padaku karena memasukkan rasa optimis terhadap masa depan. Sungguh betapa hari esok bagai sesosok monster di kepalaku. Apa yang akan terjadi padaku esok? Akan jadi apa gerangan Rif’an di masa depan? Aku tak tahu betul semua itu. Kepalaku gampang tersesat oleh sesuatu yang dekat dan sepele. Maka, aku berpikir mesti segera menyelesaikan masalahku dengan Naning dan Zuni. Tidak baik kalau berlarut-larut terus.
Mereka pasti terheran-heran tak bisa mencerna apa yang ada. Melupakan apa yang telah terjadi buatku mungkin sudah menjadi perkara gampang dan biasa. Seperti angin lalu saja. Yang tidak kuterima adalah tak mampu memecahkan masalah ini dengan sikap dewasa, be a gentle on your life. Aku tak rela jika aku hanya diam, melihat dari jauh apa yang seharusnya aku hadapi sendiri. Jujur, bagiku lebih kusukai ketenangan daripada terseret oleh keruwetan dan kepelikan. Tapi kuhanya ingin, aku mau mengahadapi masalahku sendiri dengan gagah dan berani. Sungguh indah kata-kata yang tertempel di kamar kos Mas Dhofar: No to say: God I have a big problem, but to say: Hey problem! I have a big God. Ada semacam persaan ringan kudapat dari kalimat itu. Yah, semuanya memang bermula dari sikap.
Chinmi juga merasakan hal yang sama denganku ketika ia harus menghadapi jurus tangan beracun yang mematikan. Ketakutan ternyata mampu menghilangkan kemampuan terbaik kita. Chinmi disuruh melompati sungai biasa. Ia mampu melakukannya. Namun, ia tak berani untuk melompati dua tebing yang lebarnya sama dengan lebar sungai. Kenapa? Satu-satunya cara untuk mengalahkan kungfu tangan beracun adalah menganggapnya seperti tangan-tangan biasa lainya. Itulah satu-satunya cara, kata pak tua. Untuk itu, kamu harus menghilangkan ketakutanmu itu lebih dahulu. Latihan meloncati tebing adalah suatu cara untuk menghilangkan rasa takut itu.
2006-05-04
Mentari terik menyengat menyertai kepergianku siang ini. Kucopy suratku untuk Zuni, kumasukkan sarung ke dalam tas, kemudian mencari tumpangan sampai ke pom bensin jalan Paris. Di LKiS tak kutemukan yang kucari. Internet error. Keusilanku dan Pekik mucul, ngrampok buku dari perpus. Jelek juga sih yang kami lakukan. Tapi mau gimana lagi, birokratisasi perpusnya kelewat nyebelin. Daripada makan hati ambil aja untuk sementara. Kapan-kapan, kalau sempat, kukembalikan lagi.
Pekik, betapa kamu adalah teman yang sungguh berarti buatku. Diam-diam aku merasa kuat bila berada dekatmu. Selama ini aku mendustai diriku sendiri; aku berusaha menjauh darimu, padahal batapa engkau adalah orang yang membuatku terus maju untuk belajar, berproses. Yah, egoisme diri sering menjatuhkan kita dalam kerugian. Semua itu ternyata berasal dari perasaan iri dan sinis yang hidup dalam jiwaku.
“Gimana dengan anak kuliah itu,” tanyanya kepadaku. Air hujan tercurah deras dari langit. Di depan sebuah mini market menjelang rel kereta, ia melontarkan Tanya itu.
“Sebatas teman, no more!” jawabku ringkas.
“I’m not trust You. Aku akan bilang seperti itu kepadanya. Semua bisa berubah, An. Kalau kamu yakin ama dia, buktikan bahwa kamu benar-benar bisa merebut simpatinya. Memang harus sabar, bukankah itu setimpal dengan apa yang bakal kamu peroleh,” terangnya.
Aku teringat kata-kata Sandi “Adakalanya kita perlu untuk egois. Jangan sampai harga diri kita diinjak-injak.” Egois barangkali juga termasuk salah satu media mengenal diri kita, melihat diri kita dari sudut pandang yang lain. Terkadang orang lain terlalu egois dengan diri mereka sendiri, dan justru bisa kita sintesakan dengan egoisme kita. Tentu secara bijak. Emang ada egoisme yang bijak?
Sebelum pulang, aku ke warnet, ngemail Zuni dan mbales email-emailyang masuk ke Coret. Surat itu akhirnya kukirimkan juga. Siapa tahu perlu untuk dibaca. Sebatas untuk dibaca saja.
Keinginanku untuk segera membaca karya Pramoedya akhirnya kesampaian. Gadis Pantai, judul novel itu. Bercerita tentang seoarang Gadis Pantai yang kemudian diperistri oleh Bendoro. Gadis Pantai yang biasanya hanya menjala ikan dipantai, hidup dengan bau amis ikan abadinya, terlempar ke sebuah dunia asing yang belum pernah dijalaninya. Namuan di tengah keajiban itu, tersimpan pertentangan batin di dalam diri Gadis Pantai: antara tetap memilih hidup apa adanya yang bebas dan hidup begelimang harta yang ia tak tahu untuk apa. Pertentangan ini digambarkan secara apik oleh Pram melalui kata-kata Gadis Pantai:
Ah, bapak.
Bapak!
Aku tak buthkan sesuatu
dari dunia kita ini.
Aku cuma butuhkan orang tercinta,
hati-hati yang terbuka, senyum tawa
dan dunia tanpa duka, tanpa takut.
2006-05-05
Perlahan perasaan itu mulai surut. Kurasakan betapa hasrat besar ini serupa dengan yang sudah-sudah. Toh semuanya kemudian menjadi biasa kembali. Dan aku juga kembali tak belajar.
Adakah yang tak kumengerti? Adakah yang khilaf di sana? Saat ini aku hanya menjawab; aku tak pernah/berani menjadi diri sendiri. Semua peristiwa itu kemudian tinggalah sebagai angin lalu saja. Tanpa sedikitpun yang tersisa, meresap dalam benakku. Aku tak percaya diri. Aku tak percaya dengan kemampuanku sendiri. Huh…apalah yang kan terjadi andai kini semua kubiarkan terulang kembali.
Apakah aku mirip dengan tokoh pengembara dalam roman Negeri Senja, di mana dia bisa begitu mudah jatuh cinta pada siapapun, dengan begitu saja. Namun kemudian sirna seperti tempat yang ia lalui dalam pengembaraannya. Akan tetapi begitu ada sosok yang masuk di hatinya, menyentuh relung terdalam jiwanya, ia tak bisa melepaskan cintanya kepada sosok itu. Padahal dia tahu, dia tak akan pernah kembali kepadanya, dan dia takut untuk tahu apakah wanita itu juga menunggunya di sana.
Bagi seorang pengembara seperti tokoh roman di atas, menjadi terikat adalah soal yang berat. Keterikatan akan menjadi sebuah beban untuk menapak ke dunia selanjutnya. Kita ingin meninggalkannya jauh di belakang, tapi ternyata ia hidup besama diri kita di sini, sekarang. Tentu pengembaraan itu tidak melulu berupa pengembaraan kongkret, namun juga pengembaran jiwa, spiritual. Kata kaum sufi, Hati yang tertambat kepada seorang kekasih akan membuat perjalanan rohani terhambat.
Melihat itu, mungkin istriku adalah pacarku. Barangkali aku takkan pernah memiliki pacar sampai ikatan suci telah terjalin. S’moga ini yang terbaik. Amii…n
2006-05-06
“Apa istimewanya diriku?” tanyanya.
“Bukan kamu, tapi aku. Aku adalah orang yang bisa tahu orang yang tepat di saat yang tepat.”
Dialog tersebut kudapat dari film India pagi ini. Kata-kata itu menggiringku kepada rasa tertarik dengan film itu, namun kemudian kulewatkan begitu saja.
Kenapa aku tak jua menemukan tautan hati hingga kini? Kulihat sekeliling. Batapa banyak temanku yang bila satu hilang, lainnya timbul mengganti. Karunia-Nya bagai selalu tercurah kepada mereka. Tidak ada bagi duka untuk bertahta.
Apakah aku memang belum menemukan orang yang tepat? Apakah Tuhan masih menyimpannya untukku? Atau karena aku sendiri yang terlalu tolol untuk menggapai kurnia Ilahi? Konsekuensi dari keduanya mungkin berbeda, kendatipun substansinya mungkin sama. Keduanya menuntut kesabaran. Yang pertama sabar untuk menunggu. Yang kedua sabar untuk mengasah diri dan terus belajar.
Dua tahun lalu, tidak terpikirkan bahwa Pekik akan berkembang sejauh ini, dengan teramat pesat. Perbedaan kami nampak jelas. Ia, peka merasa tertinggal dalam pelajaran di kelas. Aku, tak sepenuhnya peka terhadap kelemahanku dengan kehidupan luar. Tapi masih untung bahwa aku sedikit mempunyai kesadaran tentangnya.
Ia memang tumbuh dengan cara yang lain. Ia selalu memegang prinsip “jangan takut untuk berbeda!” Dan ia memang mencapai kemajuan, karena prinsipnya itu. Kucoba untuk menelisik apa yang membuatnya mampu berkembang maju seorang diri: Ia tak pernah merasa takut untuk berbuat. Ia bebas, tidak terikat dengan beban-beban semu yang kadang diciptakan sendiri. Dan terutama, ia ulet. Ia tak merasa tenang, selalu gusar kecuali keinginannya telah terwujud.
Lalu kujamah peta diriku sendiri. Apakah yang membuat tulisanku berbeda? Apakah yang mempesona dari sosok gelapnya? Terselipkah keindahan mutiara dari dalamnya? Ya… pasti ada. Dan akhirnya suatu jawab terlahir; dalam diriku belum hidup sikap pantang menyerah dan kemauan untuk mempersilahkan penderitaan melawan apa yang tidak kusukai. Dan barangkali, di sanalah aku selalu terbentur dan tertidur.
Usaha tanpa do’a, sombong
Do’a tanpa usaha, omong kosong
Man jadda wajada
Tengah malam,
Usai dari Blandongan
2006-05-06
Terlantun lagu Rindu Serindu-rindunya dari Winamp. Dua corong speaker bergelegar memecah kesunyian sore. Lagu itu menarikku ke masa MTs beberapa tahun silam. Betapa kenangan-kenangan itu terasa demikian dekat. Betapa ia seakan hidup dalam diriku, hadir bersama setiap tarikan nafasku. Dan aku ingin merengkuh lebih banyak lagi kenangan yang pernah terjelma itu.
Aku ingin terus menerus mengingatnya, bersama orang-orang yang pernah hadir dan mengisi hidupku. Betapa perjalanan panjangku selama ini hanya mengundangku untuk mengenang masa lalu, merindukan sesuatu yang telah tertinggal jauh di belakang. Oh, andai dia tahu keadaanku. Andai dia mau memahami diriku, dengan segala hasrat-hasratku. Mungkin duka ini akan sedikit terobati.
Kenangan terkadang membuatku menangis lirih. Perih. Aku ingin mendekapnya erat, tetapi ternyata ia tak sedekat yang kusangka. Ia sering hanya menggoda.
Aku ingin dekat dengan orang-orang yang dulu pernah melukis kenangan itu. Tak hanya dekat, tapi saling memahami dan mengerti. Yang dibangun di atas dasar cinta sejati. Karena, kata Shakespeare:
Cinta sejati
Mendengar apa yang tidak dikatakan
Mengerti apa yang tidak dijelaskan
Sebab cinta tidak datang dari bibir
Tidak terucap oleh lidah
Tidak terlahir dari logika
Melainkan… Hati
Apakah cinta yang seperti ini masih mengenal ikatan pacaran? Ataukah cinta yang demikian itu hanya terjalin dalam hubungan khusus sepasang kekasih? Jika kita mau jujur, hanya ketulusan, kerelaan berkorban, kesetiaan dan sifat-sifat luhur lainnya yang dapat mengantar menuju cinta sejati. Pacaran, siapa bilang. Ia sering tak lebih hanya sebuah permainan memburu kesenangan.
Suatu sore,
di tengah-tengah lantunan tembang
Gerimis Mengundang dan
Rindu Serindu-rindunya
2006-05-08
Sepeda motor itu meluncur menembus rintik air hujan. Ia meliuk-liuk menghindar dari air yang tergenang. Asep, adiknya Anwar, memacu motornya dengan agak ngebut, tapi lincah. Kenapa ia bisa mengendarai motor itu dengan berani dan juga tenang? Kenapa aku masih juga berada dalam tingkatan pemula, meski sudah lebih dari empat tahun kendaraan itu mampu kunaiki? Aku takut untuk berbuat nekat. Aku selalu berpikir, biar lambat asal selamat. Ternyata, sikapku ini telah menahanku untuk bertumbuh, mengahadangku untuk meraih kemajuan.
Dari atas kendaraan bermotor itu, kulihat diriku sendiri. Kenapa aku tumbuh demikian lambat? Aku takut berbuat salah. Aku takut disalahkan. Seakan-akan kesalahan adalah suatu aib yang tak termaafkan. Aku tahu bahwa jika suatu kesalahan kita kerjakan, masih ada kesempatan untuk memperbaiki. Namun entah kenapa aku tetap merasa gentar menatapnya.
“…Orang rendah, kalaupun jatuh – ya sakit memang, tapi tak seberapa. Bagi orang atasan ingat-ingatlah itu, Mas Nganten, tambah tinggi tempatnya tambah sakit jatuhnya. Tambah tinggi, tambah mematikan jatuhnya. Orang rendahan ini, setiap hari boleh jatuh seribu kali, tapi ia selalu berdiri. Dia ditakdirkan untuk sekian kali berdiri setiap jari.”
Tapi Gadis Pantai tak mengerti. “Mengapa orang mesti jatuh? Dia kurang hati-hati,” katanya kemudian seperti anak yang tak berdosa.
“Mas Nganten benar sekali. Kurang hati-hati, tapi sayang sekali, orang tak dapat berhati-hati setiap saat buat seumur hidupnya, Mas Nganten. Adakalanya kita mengenangkan bapak atau emak, kita lupa pada diri sendiri, lupa pada Bendoro. Tentulah kekurangan makhluk Allah yang dhaif ini ini Mas Nganten, lantas dia tak hati-hati lagi melayani Bendoro.”
(Gadis Pantai: Pramoedya Ananta Toer)
“Orang lemah menunggu datangnya kesempatan; orang kuat menciptakan kesempatan itu.” (O.S Marden)
Kalau sesuatu itu memang salah, bukankah ia lebih baik segera kita ketahui dengan melakukanya ketimbang menanti kesempatan baik sehingga kesalahan itu nampak sebagai bukan kesalahan? Ya, seringkali kita sudah merasa ada sesuatu yang salah, tapi kita hanya diam, membiarkannya terkatung-katung tak jelas arah. Perasaan itu membuat kita menghentikan langkah. Kita “menunggu datangnya kesempatan”, kita tak berani untuk “menciptakan kesempatan itu”. Bagus benar ucapan George B. Shaw berikut ini:
Orang selalu menyalahkan keadaan. Aku tak percaya akan keadaan. Orang yang berhasil di dunia ini adalah orang yang bangkit dan mencari keadaan yang mereka inginkan, dan kalau mereka tidak menemukannya, mereka akan menciptakannya.
2006-05-09
Perasaan puas mencuat usai aku merampungkan tulisan Gerbang Dipo dan Pi Terancam Jebol. Ada perasaan lega, bebas dan bangga. Sungguh nikmat yang tak tertanggungkan. Memang perasaan itu pelan-pelan memudar. Tapi justru itu yang membuatku terlecut untuk kembali berkreasi. Kreativitas ternyata tidak muncul begitu saja seperti kelinci tukang sulap. Ia terkuak jika kita gigih berusaha dan mencoba.
Archimedes menemukan teori terkenalnya itu setelah hampir gila mencari-carinya. Setelah segala daya ia berupaya mewujudlah jawaban itu di hadapnya. Jika kita menunggu datangnya momentum, apalah dapat kita perbuat?
Tidak ada tempat untuk bersenang-senang,
kecuali setelah kesulitan menghilang
Aku ingat, kata-kata itu diucapkan oleh mas Boby sewaktu beres-beres buku. Kangen juga sama dia. Tak tentu benar kabar yang kutahu tentangnya. Setelah pergi meninggalkan Krapyak, ia juga diam-diam menepi dari hatiku. Kutak menghendaki itu terjadi, tapi aku tak mampu membiarkannya tidak tinggal sebagai kenangan. Miss U Mas.
2006-05-10
Mengenang Indahmu
By: Klad Band
Kucari-cari bayanganmu
Namun tak jua aku temui
Kuingat-ingat harum nafasmu
Membelai aku tiap malamku
Andai kau ada di sini
Pasti kan mudah terobati
Bila kusebut namamu kasih
Ijinkan aku mengingat kenanganku
Reff#
Datanglah kau di sini tuk menemaniku
Biar terpuas semua rinduku
Ijinkan aku mengenang kamu
Karena dirimu t’lah semakin jauh
Bila kau telah lelah mencari indah
Yang terlukiskan semua kisah
Sudahi saja semua tak perlu sesali
Biarkan semua pergi menghilang
Apalah yang salah dengan romantisme atau nostalgia? Mereka mempunyai kekuatan melenturkan ketegangan hidup. Mereka mampu menyisipkan senyuman di atas duka-luka yang bertumpuk. Salahkah mereka? Mungkin tidak. Tapi, hidup tak hanya berisi romatisme, luka, ataupun duka. Ia merangkum bermacam nyawa. Romantisme menjadi salah tatkala ia menjamah porsi yang dimiliki oleh yang lain.
“Salah ngga’ sih Dam, kalau aku cuma menjadikan suatu hubungan sebagai proses belajar. Jujur, aku belum sanggup untuk menjanjikan pernikahan sebagai tujuan.”
“Ya, memang ini merupakan salah satu tahap pembelajaran. Tapi ingat, cinta hanyalah sebagian kecil dari hal-hal yang bisa kita jadikan bahan belajar. Hanya sebagian kecil…An.”
Ah, rasa malu menyergapku diam-diam. Perasaan suka itu kini berpaling menjadi segan. Semua belum jua jelas, sedangkan semangatku telah meluluh. Kenapa kita hanya mau berhubungan dengan orang lain jika kita mengecap nikmat dari hubungan itu? Dari mana semua ini bermula? Apakah itu fitrah? Ataukah manusia telah tersesat sedemikian jauh?
2006-05-11
Mata merasakan beban yang berat. Sepagi itu, ia sudah mesti berjuang melawan lelah. Sorogan hari itu berubah menjadi arena uji kesabaran. Sedari jam enam kurang hingga setengah delapan, kukuatkan kedua mata serta tubuhku mendengar pelajaran yang tak begitu jelas dari ustadku.
Setengah sepuluh nanti, aku harus siap pergi ke LKiS. Berita tentang keluarnya mas Sahal dan mbak Sita membuatku terkejut sekaligus tidak percaya. Dan yang terpenting, semua anak Coret kalang kabut. Seusai ngaji, kutahan mataku supaya jangan sampai tertidur. Novel Malaikat dan Iblis yang kupinjam tadi malam dari Nova kurenggut dari lemari, kubuka pada tempat yang kucari dan mulai menikmati misteri yang terhampar di hadapanku.
Ilmu sejati akan menemukan Tuhan
Yang sedang menanti di balik setiap pintu.
–Paus Pius XII
Novel itu memang membicarakan pertarungan abadi antara gereja dengan ilmuwan. Tidak perlu dipertanyakan lagi bagaimana hebatnya pertentangan di antara keduanya.
“Para ilmuwan di CERN berusaha mencari jawaban dari berbagai petanyaan yang sudah ditanyakan oleh manusia sejak awal peradaban. Dari mana kita berasal? Dari elemen apa kita dibuat?”
“Dan jawaban-jawaban itu ada di lab fisika?”
“Anda sepertinya terkejut.”
“Memang. Pertanyaan itu sepertinya lebih bersifat spiruitual.”
“Pak Langdon, semua pertanyaan tadi memang spiritual pada awalnya. Sejak awal peradaban, spiritualitas dan agama digunakan untuk mengisi celah-celah yang tidak dapat dijelaskan oleh ilmu pengetahuan. Terbit dan tenggelamnya matahari dulu pernah dihubungkan dengan dewa Helios dan kereta kuda berapi. Gempa bumi dan gelombang psang dianggap sebagai kemarahan dewa Presidon. Ilmu pengetahuan kini membuktikan bahwa dewa-dewa itu adalah sembahan palsu. Tidak lama lagi Tuhan juga akan terbukti sebagai sembahan palsu. Kini ilmu pengetahuan telah menemukan jawaban untuk hampir semua pertanyaan yang bisa ditanyakan oleh manusia. Hanya ada beberapa pertanyaan yang masih belum terjawab, dan itu semua merupakan pertanyaan-pertanyaan yang luar biasa sulit. Dari mana kita berasal? Apa yang kita lakukan di sini? Apa arti kehidupan dan alam semesta?”
Dialog di atas cukup menggambarkan apa yang menjadi pokok bahasan dalam novel tersebut. Benarkah ilmu pengetahuan bisa menyingkirkan Tuhan dari penciptaan dunia ini? Apakah ilmu pengetahuan hanya malah semakin menjauhkan manusia dari Tuhan?
“…Walau ilmu pengetahuan tidak dapat memahami keterlibatan Tuhan dalam penciptaan semesta, ayahku percaya suatu hari kelak ilmu pengetahuan akan mengerti,” kata Vittoria. “Ayahku selalu menunjukkan tulisan itu padaku setiap kali aku mulai ragu-ragu.”
Ilmu pengetahuan dan agama tidak bertentangan.
Ilmu pengetahuan hanya terlalu muda untuk mengerti.
“Ayahku ingin menempatkan ilmu pengetahuan ke tempat yang lebih tinggi,” lanjutnya, “ke tempat yang membuat ilmu pengetahuan dapat mendukung konsep Tuhan.”
Terang telah menyebar ke sudut-sudut bumi. Pekik berhasil ngajak Pia. Dan aku juga sukses memancing Nova ikut. Di LKiS, Kahai, Sinta dan Subi terlebih dulu sampai. Sudah demikian lama rasanya perjumpaan seperti ini tidak terjadi. Apa yang kemudian terjadi pagi itu sungguh tak kuduga. Suasana benar-benar hidup dan menyenangkan. Seperti mimpi yang tiba-tiba memaksa berubah nyata. Percakapan dengan Nova terbuka kembali. Percakapan yang tak pernah kubayangkan dapat hadir lagi setelah peristiwa yang hampir menghancurkan segalanya.
Pekik menyarankanku pulang duluan. Betapa kenyataan ini menyesakkan dadaku. Kenapa baru sekarang aku bisa berjalan berdua dengannya, di kala kemungkinan untuk menjadi kekasihnya terlihat sebagai mimpi. Di saat aku telah belajar untuk membuang kenangan itu jauh-jauh. Tapi biarlah.
Aku mengambil rute yang tidak biasa. Aku dan dia terus berjalan menyusuri jalan, rintik-rintik hujan mulai turun. Jarak itu memang tidak bisa dikatakan dekat, tapi apakah karena ditempuh dengan dia perjalanan itu tidak terasa jauh dan melelahkan?
Sepanjang perjalanan tidak tersisa tempat buat keheningan. Aku menikmati suasana itu. Tapi semua itu kemudian kusesali. Aku sadar, ia telah menjalin hubungan dengan orang lain. Dan aku tahu orang lain itu adalah temanku sendiri. Mengingat itu, ada perasaan sedih yang menyayat. Tak kuijinkan diriku tenggelam oleh kesan aneh itu. Kuajukan pertanyaan yang kutujukan bagi diriku sendiri: Apakah yang sebenarnya membuatku menyukainya? Kecerdasan yang menghias tubuhnya? Itukah ternyata yang aku sukai? Betapa kurindukan seseorang yang dengan tulus menyediakan dirinya untuk menyertaiku dalam menempuh lelah dan lapar.
2006-05-12
“Terima kasih atas perjalanan yang indah itu.” Aku akan merindukan saat-saat seperti itu lagi. Suatu hari nanti. Meskipun aku tahu itu bukanlah harapan yang akan mudah terkabul. Dan aku mulai terbiasa menerima semua itu, dengan hati penuh rindu.
Aku duduk terpekur memandangi dinding dan kertas asturo di depan kakiku. Di tepian ubin setinggi lutut, kunanti gadis itu penuh harap. Dalam penantian itu, dadaku berdegup keras. Rasa sesak perlahan menguasaiku. Aku berusaha mengendalikan situasi. Namun dadaku justru semakin terasa sesak. Kepalaku berdenyut, panas menjalar sampai ke ubun-ubun.
Kubayangkan peristiwa yang menyenangkan di masa yang telah lalu. Kuingat-ingat ketika aku merasa berhasil melewati situasi yang sulit. Situasi seperti saat ini. Saat aku berhadapan dengan seseorang, dan aku tak tahu harus berkata apa. Saat aku merasa tertelanjangi, dan tak kuasa menguasai keadaan. Apakah yang akan kulakukan ketika sebuah pintu perlahan menutup, sementara si tamu tidak sungguh-sungguh berusaha mengetuknya? Tidakkah akan mudah jika kedua-duanya bebarengan membangun jembatan? Semua akan nampak mudah saat kita tahu, bahwa di sana terdapat kemauan untuk saling mengenal dan membuka diri. Tanpa itu, jurang itu memang malah semakin membentang.
Aku merasa bersalah membiarkan ini tak segera jelas. Namun aku juga ragu, apakah aku mampu menyelesaikannya, membuatnya menjadi lebih baik. Di pondoknya kali ini, bisakah aku mewujudkan anganku itu? Dia tak kunjung keluar menemuiku. Sesuai jadwal kuliahnya, dia masuk pagi dan siang ini tidak ada lagi pelajaran. Hal ini kudapat dari jadwal yang tertempel di kamar Nasih. Orang yang, siapa tahu, mungkin telah menyita hatinya. Perkataan terasa indah jika diucapkan oleh orang yang tampan, kata Sreno dalam novel Sang Penyair. Betapa tidak adilnya manusia.
Di dunia yang sedih ini, ketampanan memang lebih berkuasa ketimbang niat baik. Kecantikan adalah magnet yang cukup kuat untuk menyedot orang ke dalam ketertarikan. Ia, apa boleh buat, memegang peran penting dalam menggapai tujuan. Apakah wajah adalah segalanya sehingga ia adalah syarat mutlak mencapai keinginan? Apakah hanya wajah yang mampu menyalakan api dan membakar semangat? Apakah manusia begitu mudah menyerah pada kesan semu mereka, dan enggan melawan perasaan tidak suka mereka?
***
“Anak Krapyak ada yang cantik ngga?” sembari berjalan menuju warung makan, Kahai melepaskan pertanyaan itu. Aku berhenti sejenak. Mencoba mengingat wajah-wajah yang timbul tenggelam dalam benakku.
“Cantik itu…?”
“Relatif,” Kahai memotong kata-kataku. Dia melihat aku menjawab dengan gamang.
“Mungkin seperti itu,” sambungku kemudian. Kudengar suaraku lebih meyakinkan daripada sebelumnya. “Tapi, cantik bagiku bukanlah masalah yang sederhana dan sepele.” Aku hanya menjawab sampai di situ. Aku tak meneruskan jawabanku itu. Aku belum mampu menjelaskanya dengan kata-kata. Aku hanya bisa merasakannya hadir dalam jiwa. Barangkali, keindahan memang tidak bisa diungkapkan melalui kata-kata. Kecantikan, bagiku, melampaui apa yang terlihat oleh mata inderawi. Ia lebih merupakan sesuatu yang non-inderawi. Untuk itu, aku selalu melatih diriku sendiri untuk tidak mudah tersesat oleh kecantikan wajah seseorang. Ia bisa menipu.
***
Waktu berlalu dengan begitu berat. Kulakukan apapun agar hatiku tenang. Ia belum juga muncul. Kemudian kutahu, ia belum pulang. Ada rasa kecewa, tapi diam-diam hatiku bersorak.
2006-05-14
Hidup mau tak mau adalah sebuah pertempuran. Puncak pertempuran itu terjadi ketika kita harus menatap diri kita sendiri. Di mana semua peristiwa, semua perihal menggiring kita untuk menguak keadaan kita, tanpa tabir, tanpa tedeng aling-aling. Saat itu kita tak bisa mengelak, tak bisa lari. Kita harus mengahadapi diri kita sendiri. Betapapun menyebalkanya hal itu.
Adzan telah berkumandang. Aku baru saja pulang hafalan Alfiyah dari rumah pak Azhari. Di depan sate pak Tuki, pemilik wajah yang akrab di benakku tersenyum ke arahku dan teman-temanku.
“Kalian masih di sini? Main-main ya ke tempat saya,” kata beliau. Pak Muhib adalah guru Ushul Fiqh kelas satu dulu. Sekarang sudah tidak mengajar lagi di Aliyah semenjak jadi hakim di Wonosari, Gunung Kidul. Beliau mengira kami sudah lulus. Tapi kemudian beliau menyadari kekeliruannya. Aku baru tersadar, aku membutuhkan beliau. Sungguh tindakan yang ceroboh bahwa selama ini beliau terlupakan dalam kehidupanku. Di antara banyak guruku di sini hanya sedikit saja yang membuat teduh jiwaku. Di antara yang sedikit itu adalah Pak Muhib.
Ya, sebelum kuputuskan akan melangkahkan kaki ke mana, kukatakan dalam hatiku keras-keras, aku ingin mengutarakan niatku kepadanya.
2006-05-15
Teruntuk Sebuah Nama
Pijakanku oleng. Pikiranku kacau. Ingin kurengkuh ketenangan, tetapi itu ternyata tidaklah mudah. Kemuraman itulah yang membawaku mengenangmu. Mencoba menatapmu dengan cara yang lain. Aku takut, tidakkah ini hanyalah egoismeku saja. Menginginkan orang lain untuk mengerti aku sementara aku tidak menunjukkan kemauanku dengan jelas.
Aku bisa merasakan kebingungan yang menimpamu. Tapi percayalah aku juga sedang tersedak oleh hasrat-hasraku sendiri. Aku mencari cara, mencoba menagkap makna dari apa yang mampu kubaca. Apabila aku salah membaca, di sanalah kubutuhkan uluran tanganmu. Andai kau mau sedikit membuka hatimu untuk benih yang tengah mencoba tumbuh ini, mungkin ia akan cepat mengerti tentang kebahagiaan.
Namun, semua ini memang salahku. Kenapa aku tak cepat memahami apa yang aku ingini. Kenapa aku tak sanggup membaca kebutuhanku sendiri? Maafkan aku, telah membuat hari-harimu yang tenang menjadi goncang karenaku. Lewat surat itu, melalui tindakanmu itu telah kau tunjukkan bahwa aku belum pantas untuk jadi temanmu. Akankah ada suatu kesempatan di mana aku bisa menunjukkan padamu bahwa aku akan sanggup menjadi sahabatmu?
2006-05-17
Sudah bekukah hati kita sehingga tidak lagi mampu merasakan kepedihan orang lain? Bolehlah orang mengatakan bahwa menconteki teman ketika ujian adalah tindakan brengsek. Itu bukan bantuan, justru membunuh teman kita itu secara diam-diam. Tapi, apakah layak jika teman kita itu tidak lulus tes dan hati kita tidak tersentuh? Bukankah lebih baik kita memberi tahu dia dan tidak merasa iba daripada tanpa membantu dan tanpa rasa ikut berduka?
Seperti juga halnya suatu prestasi. Apakah arti prestasi jika ia hanya menumbuhkan bangga dan pongah? Prestasi memang membuat kita maju. Prestasi bisa menyalakan kemauan untuk bertumbuh, tapi ia juga membuat kita terlalu bernafsu. Bagaimanapun juga prestasi memang kita perlukan. Rasa angkuh itu memang pantas muncul. Dari sana justru kita harus belajar untuk tidak sombong kala kita mendapat prestasi. Bagaimanapun juga kita berprestasi karena ada orang lain rela berada di bawah kita. Kita harus belajar untuk melihat orang lain, seperti ketika kita melihat diri kita sendiri. Sehingga kita tak abai terhadap permasalahan orang lain. Kepekaan sosial, orang-orang bilang, semakin sedikit dimiliki manusia sekarang. Bukan nyontek yang jadi masalah. Tapi ketika perlahan-lahan ada sesuatu dalam diri kita yang tak lagi bergerak, itulah yang gawat.
Buat sebuah nama
Matematika nampak bak makhluk asing di mataku, tak kukenal dan aneh. Sejauh ini aku hanya bisa menanti-nanti. Dan kamu tahu bagaimana rasanya menunggu dalam situasi penuh takut dan cemas seperti saat ini. Aku malu jika kamu tahu bahwa aku mengerjakan tes ini dengan melamun dan mengenangkan tentang kamu. Kalau aku lulus dalam tes ini, dan aku berharap aku dan semua temanku lulus, bukan aku sejatinya yang lulus tapi Umi Bariroh. Dari sanalah jawaban di lembar jawab berasal.
Aku terkenang masa lalu. Di MTs tidak demikian yang terjadi. Aku melakukannya sendiri. Dan entah saat itu apakah karena aku memang mampu atau karena tidak tahu bagaimana caranya memanfaatkan orang lain. Engkau pasti ingat masa-masa itu. Saat di mana mata kita masih belum terbuka dalam menatap dunia. Kita tidak pernah serius dalam berteman. Sampai kini pun kita hanya ingat satu sama lain ketika keadaan memaksa. Selebihnya tak ada ruang yang kita sediakan khusus untuk saling bertaut dan berpaut.
Apakah kau tahu, aku ingin mengenalmu lebih dalam. Tapi aku tak tahu bagaimana cara mengungkapkan keinginanku ini kepadamu. Dan apakah kamu memang memerlukannya atau tidak memerlukannya. Aku tidak akan pernah tahu sampai benar-benar menjalaninya, juga kamu. Penuh risiko memang. Hidup memang penuh dengannya, bukan?
Aku berharap kamu bisa menghilangkan perasaan takutmu, terhadap apapun itu. Bukan, bukan kamu. Tapi aku berharap aku bisa menghilangkan rasa takut dalam diriku ini.
Mungkin kamu tidak akan pernah membaca surat ini. Biarpun aku mengharap suatu saat nanti itu bisa terwujud, aku ingin saat itu segala sesuatunya telah berubah. Dan coretan ini hanya menjadi sebuah upaya untuk merawat kenangan, menjaganya agar jangan sampai terlupa. (Saat tes MTK)
NB: Aku bingung, apakah harus gembira karena bisa melewati tes ini dengan baik, atau bersedih karena banyak temanku yang kurang beruntung. Fuuh…
2006-05-18
The Last Exam
Masa yang baru akan segera menimpaku. Hari ini terakhir ujian, dan aku sudah merasa berpisah dengan kehidupan Aliyahku. Ada bagian dalam diriku yang mengucapkan selamat tinggal.
Aku ingin berbicara tentang Tuhan, oh … tentang diriku dalam memandang Tuhan. “Kamu percaya Tuhan, An?” Apakah ada di antara kalian yang dapat membantuku menjawab pertanyaan itu? Adakah yang tahu bagaimana aku mesti memberikan jawaban terhadap pertanyaan yang jujur itu? Aku tak pernah tahu bagaimana konsepku tentang Tuhan itu sendiri. Aku belum mampu menjelaskan pada diriku seperti apa Tuhan itu dan kenapa aku harus tahu tentangNya? Selama ini aku hanya beriman saja. Kita beriman, Kata Soren Kierkegaard, seorang filsuf Eksistensialis, bukan karena kita tahu, tetapi karena kita tidak tahu.
Lalu, apakah yang terjadi ketika “tidak tahu” itu berganti menjadi agak tahu? Tidak kutemukan jawaban dari Kierkegaard. Apakah keimanan lama kita itu kemudian menjadi basi? Apakah ia akan memudar dan perlahan menghilang?
***
Vittoria sedang menatapnya. “Kamu percaya Tuhan, Pak Langdon?”
Pertanyaan itu mengejutkan Landon. Kejujuran yang terpancar dari suara Vittoria bahkan lebih memesona daripada pertanyaan itu sendiri…. Walaupun dia mempelajari agama selama bertahun-tahun, Langdon bukanlah orang yang religius. Dia memang menghormati kekuatan yang didapat dari keyakinan, kebajikan gereja, kekuatan yang diberikan agama bagi banyak orang … tapi ada yang menghalanginya; kesangsian intelektualnya yang kuat saat dia mulai ingin benar-benar percaya. “Saya ingin memercayai Tuhan,” Langdon mendengar kata-katanya sendiri.
Tanggapan Vittoria tidak mengandung penilaian atau tanggapan. “Jadi, mengapa kamu tidak percaya?”
Langdon tertawa. “Yah, tidak semudah itu. Untuk percaya, kita membutuhkan lompatan kepercayaan, penerimaan terhadap keajaiban—gambaran besar dan campur tangan Tuhan. Lalu ada peraturan yang harus kita taati. Alkitab, Alqur’an, kitab Buddha … semuanya itu memiliki persyaratan dan hukuman yang sama. Menurut mereka, kalau aku tidak menaati aturan tertentu, maka aku akan masuk neraka. Aku tidak dapat membayangkan Tuhan yang berkuasa dengan cara seperti itu.”
……..
“Pak Langdon, aku tidak menanyakan apakah kamu percaya pada apa yang dikatakan orang tentang Tuhan. Aku bertanya apakah kamu percaya pada Tuhan. Ada perbedaannya. Kitab-kitab suci itu adalah kumpulan cerita … legenda dan sejarah dari pencarian manusia untuk memahami kebutuhan mereka sendiri akan arti. Aku tidak memintamu untuk menilai literature tersebut. Aku hanya bertanya padamu apakah kamu percaya pada Tuhan. Ketika kamu berbaring sambil memandang langit yang ditaburi bintang, apakah kamu merasakan keagungan Tuhan? Apakah kamu merasa di dalam hatimu kalau kamu sedang menatap karya Tuhan?
……
”Agama seperti bahasa atau pakaian. Kita terpengaruh oleh praktik keagamaan tertentu yang diajarkan kepada kita sejak kecil. Tapi pada akhirnya, kita menyatakan hal yang sama; hidup memiliki artinya tersendiri dan kita merasa berterima kasih kepada kekuatan yang telah menciptakan kita.”
…..
“Jadi, iman itu tak disengaja?” Langdon heran.
“Bukan begitu. Keimanan itu universal. Tapi cara kita memahaminya tidak seragam. Ada yang berdoa kepada Yesus, ada yang pergi ke Makkah, beberapa orang mempelajari partikel sub-atomik. Pada akhirnya kita semua hanya mencari kebenaran, sesuatu yang lebih besar dari kita sendiri.”
“Dan Tuhan,” tanyanya lagi. “Kamu percaya pada Tuhan?”
“Vittoria lama terdiam. “Ilmu pengetahuan mengatakan padaku bahwa Tuhan pasti ada. Pikiranku mengatakan kalau aku tidak akan pernah mengerti Tuhan. Dan hatiku mengatakan kalau aku tidak ditakdirkan.”
***
“Entah apakah kalian memercayai Tuhan atau tidak,” kata sang carmelengo, suaranya kini terdengar lebih dalam, “kalian harus memercayai ini. Ketika kita sebagai makhluk hidup meninggalkan kepercayan kita terhadap kekuatan yang lebih besar dari diri kita, maka kita juga akan meninggalkan perasaan tanggung jawab kita. Keyakinan … apapun keyakinan itu … adalah sebuah peringatan bahwa ada sesuatu yang tak dapat kita mengerti, sesuatu di mana kita harus bertanggung jawab kepadanya … Dengan keyakinan, kita bertanggung jawab pada sesama, kepada diri kita sendiri, dan kepada kebenaran yang lebih tinggi. Agama mungkin tidak sempurna, tapi itu karena manusia tidak sempurna. Kalau dunia di luar sana dapat melihat gereja seperti apa yang kulihat … lebih memahami ritual yang dijalani di balik dinding ini … mereka akan melihat keajaiban modern … sebuah persaudaraan dari ketidaksempurnaan, jiwa-jiwa sederhana yang hanya ingin menjadi suara kasih sayang di dalam dunia yang berputar tak terkendali.”
“Berabad-abad,” sang camerlengo lagi, “gereja hanya berdiam diri sementara ilmu pengetahuan mengalahkan agama sedikit demi sedikit. Mereka menghancurkan keajaiban-keajaiban. Melatih pikiran untuk mendahului hati. Mengutuk agama sebagai candu bagi masa. Mereka mencela Tuhan sebagai halusinasi saja—khayalan bagi mereka yang lemah untuk menerima kehidupan yang tanpa makna seperti ini. Aku tidak dapat berdiam diri sementara ilmu pengetahuan berniat melecehkan kekuatan Tuhan! Bukti, katamu? Ya, bukti ilmu pengetahuan adalah kebodohan! Apa salahnya menerima apa yang ada diluar pengertian kita? Hari ketika ilmu pengetahuan menggantikan Tuhan di dalam laboratorium adalah hari di mana orang berhenti membutuhkan keyakinan!”
“Maksudmu hari ketika manusia tidak lagi membutuhkan gereja?” tantang Vittoria sambil bergerak mendekatinya. “Keraguan adalah kontrol terakhirmu. Keraguanlah yang membawa jiwa-jiwa itu kepadamu. Kami hanya ingin tahu kalau hidup itu memiliki makna. Rasa tidak aman yang dirasakan manusia dan kebutuhan untuk mendapatkan pencerahan membuat ayahku tahu kalau semuanya adalah bagian dari sesuatu yang agung. Tapi gereja bukanlah satu-satunya jiwa yang tercerahkan di planet ini! Kita mencari Tuhan dengan cara yang berbeda-beda. Apa yang kamu takutkan? Kalau Tuhan akan memperlihatkan diri-Nya di suatu tempat di luar tembok ini? Kalau orang-orang akan menemukan-Nya dalam hidup mereka sehari-hari dan meninggalkan ritual kunomu itu? Agama berevolusi! Pikiran manusia selalu berusaha menemukan jawaban sehingga hati mereka mampu memahami kebenaran yang baru. Pencarian ayahku sama dengan pencarianmu! Kedua-duanya berjalan bersisihan! Kenapa kamu tidak memahaminya? Tuhan bukan hanya kekuatan yang melihat dari atas sana dan mengancam umat-Nya untuk dijebloskan ke dalam neraka kalau mereka melawanNya. Tuhan adalah energi yang mengalir melalui sinapsis yang terdapat dalam sistem syaraf dan hati seluruh umat manusia! Tuhan berada di mana-mana!”
Kadangkala, kata Leonardo Vetra kepada putrinya, menerima ilham berarti menyesuaikan otakmu agar mau mendengar apa yang sudah diketahui oleh hatimu.
Masing-masing dari kita adalah Tuhan, kata Buddha. Masing-masing dari kita tahu segalanya. Kita hanya harus membuka diri untuk mendengarkan kebijakan diri kita sendiri.
2006-05-19
Ijinkanlah aku kenang
Segenap perjalanan (Ebit)
Aku menatap sang waktu dengan gelisah. Betapa berat menerima perpisahan dengan semua kisah yang telah terlukis di sini. Betapa sulit membiarkan ini berakhir menjadi sebuah kenangan. Kenangan-kenangan itu akan datang menyergap suatu saat, dan aku takkan sanggup melawan kedatangannya.
Aku menjadi tak bergairah melanjutkan sekolah di Indonesia. Kulihat banyak hal yang menusuk hati darinya. Aku ingin melupakan semua yang pernah terjadi di sini. Memulai kembali kehidupan dari nol. Saat ini aku hanya merasakan kegelisahan. Aku ingin ke luar negeri. Tapi aku khawatir itu hanyalah suatu ekspresi untuk lari dari kenyataan. Kata Hisyam, di sana hidup tak segampang yang kita bayangkan di sini. Orang Indonesia sudah membludak. Jika tak serius menyiapkan segalanya, dan kupikir aku memang belum siap, semuanya akan hancur berantakan.
To: My Dear Friend
2006-05-20
Ujian telah usai. Lega rasanya, tapi juga cemas. Mesti menunggu sampai masa pengumuman tidaklah ringan. Dalam rentang waktu yang cukup panjang itu, aku bingung akan apa yang sebaiknya kuperbuat. Duduk di rumah pasti membosankan. Apalagi tanpa ada aktifitas otak, dengan membaca atau diskusi misalnya, hidup pasti terasa sendiri dan sepi.
Kudengar kamu sebentar lagi mau ujian. Maafkan aku, aku tak bisa memberikan apa-apa untukmu. Bahkan mendoakanmu pun tak kulakukan. Melihatmu masih di sini membuatku agak malas untuk pulang.
2006-05-22
Kutelusuri malam yang dingin dan sunyi. Malam minggu lalu, Emha beserta Kiai Kanjengnya menemani masyarakat sekitar masjid Agung Condronegaran. Datang juga ke sana bapak walikota Jogja, Hary, dan maestro biola kita, Mas Idris Sardi
23 Mei 06
Tak jelas mengapa, tapi aku merasa mesti mengabarkan sesuatu padamu sebelum aku membawa ragaku ke kampung halaman. Beberapa kali kucoba menghububungimu lewat telpon, tapi hanya kehampaan yang kudapat. Kuhampiri “istanamu”, dan aku hanya mampu menunggu, tanpa pernah bertemu. Akhirnya aku hanya bisa menghampiri bayangmu, berusaha mendekapnya erat, seolah tak ingin melepaskannya untuk selama-lamanya.
Dengan terpaksa kuputuskan untuk menulis surat. Suatu tindakan yang mungkin dilakukan pada saat seperti ini. Sebenarnya aku sedikit enggan untuk menulis surat. Ya, seperti akan kamu lihat, surat memberikan kesempatan bagi kita untuk menyulam kata-kata, memanipulasinya sedemikian rupa sehingga kata-kata tak lebih merupakan wakil dari sebuah dusta. Aku takut, ia tak lagi wakil dari kejujuran jiwa. Dan apakah yang dapat diperbuat oleh kata-kata yang berisi dusta? Itulah sebabnya aku ragu dengan kejujuran suratku ini. Aku ingin menyampaikan sesuatu kepadamu tak hanya melalui untaian kata-kata. Aku menginginkan diriku mengungkapkan dirinya sendiri di hadapanmu. Supaya tidak ada lagi dusta yang berselimut kata-kata. Tapi apa boleh buat, aku belum mampu melakukan yang lebih dari ini.
Selasa ini kamu ujian ‘kan? Kata maaf kuucap. Aku tak bisa berbuat apa-apa untuk membantu kamu. Bahkan mendoakanmu pun tak kulakukan. Namun aku punya sedikit kisah. Dan aku berharap cerita ini bisa menjadi penebus “dosa” bagiku.
Sabtu malam lalu, Emha (Cak Nun) ngaji tidak jauh dari tempatku. Malam begitu pekat. Bintan-bintang tersembunyi di balik awan. Sesekali rintik hujan jatuh menerpa bumi yang basah oleh hujan sepanjang sore itu. Aku telah tiba di sana sebelum acara dimulai. Di sela-sela pengajian, Emha mengajukan pertanyaan kepada jamaah. “Hidup itu malam atau siang?” Aku pikir hidup itu ada siang juga ada malam. Tapi tentu pertanyaan itu bersifat metaforis dan simbolis. Bukan dalam makna yang sebenarnya. Aku menjadi ragu dengan jawabanku.
“Hidup kita ini malam, gelap,” sambung Emha. “Sampeyan tahu apa yang akan terjadi satu detik di depan sampeyan? Ya, hakikat hidup ini gelap. Allah berfirman, Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hambaNya pada suatu malam…. Jadi enak mana, dijalankan oleh Allah atau jalan sendiri jika hidup ini gelap?”
Yang jadi persoalan adalah bagaimana supaya kita bisa dijalankan oleh Allah? Jawabanya tentulah tidak mudah. Di antara ajaran kaum sufi yang terkenal adalah menyatukan kehendak kita dengan kehendak Allah. Dan kita tahu betapa sukarnya mencapai maqam tersebut. Dijalankan oleh Allah barangkali tidak jauh berbeda dengan tujuan kaum sufi itu.
Oh… hanya sampai di sini surat ini kutulis. Malam telah merangkak jauh. Aku khawatir surat ini tidak selesai jika aku harus menuliskan semua yang berkelebat di dalam benakku. Semoga kisah tadi bermanfaat, atau setidaknya membuat kamu merenung sejenak. Merenung sesaat lebih baik daripada ibadah satu tahun, bukan?
Akhir kata, selamat belajar. God bless You.
Salam kanggo Naning. Eh iyo, kagem sampeyan juga.
Nb: Kamu nggak pusing kan mbaca tulisanku iki? Harap maklum, soale aku pengin banget iso nulis (dadi penulis). Dadine yo koyo ngene iki, nek nulis sok-sokan.
Nb meneh: Selasa sore insya Allah aku mulih
Surat
Untuk kesekian kalinya, kecewa itu mengecup kedua bibir hatiku. Tapi apa boleh buat, semua itu memang aku sendiri yang mengundangnya. Percuma mengerutu kesal ataupun marah-marah. Lebih baik kutulis surat ini. Namun sebelumnya, kuhaturkan maaf kepadamu. Saat ini pikiranku sedang terpecah-pecah seperti butiran air hujan yang jatuh membentur permukaan bumi. Jadi, maaf jika aku tak mampu mempersembahkan sesuatu yang utuh dalam surat ini. Karena ternyata, banyak sekali yang tak kupahami. Tapi sudahlah, aku akan berusaha, meski itu cuma beberapa patah kata. Toh kalaupun banyak, adakah yang masih mau mendengar? Adakah yang masih percaya dengan kata-kata sampahku itu?
Lebih baik aku berpikir kembali tentang arti seoarang teman. Apakah teman adalah orang yang cuma mengenal wajah kita, hafal raut mukanya, dan boleh tak kita tempatkan dalam kesibukan hidup sehari-hari? Apakah teman adalah seorang yang hanya kita akui keberadaannya hanya tatkala kita butuh? Apakah seoarang teman adalah orang yang selalu harus kita mengerti dan minta dimengerti tanpa pernah ada rasa saling mengerti? Ah entahlah, aku bingung. Otakku seperti kobran api yang dihempas badai tsunami. Begitu kacau, dan galau.
Dengarlah kisahku ini. Seorang murid bertemu dengan sang syeikh. Di hadapan syeikh itu ia berkata, “Syeikh aku mencintaimu, aku ingin menjadi muridmu.” Sang syeikh menerimanya sebagai murid. Setelah nertahun-tahun mengabdi dan belajar, ia disuruh pulang oleh gurunya. Sang syeikh kemudian berpesan, “apabila kamu sedang mengalami kesulitan, sebutlah namaku tiga kali.” Si murid berkemas dan kemudian pamit meninggalkan gurunya. Di tengah perjalanan, terbentang sungai besar yang menghambat perjalanannya menuju tujuan. Tiada perahu ataupun rakit yang bisa membawanya menyeberang ke tepi. Tiba-tiba ia teringat pesan gurunya. Dengan mantap ia laksanakan pesan itu dan mulai melangkahkan kaki menuju sungai. Tak disangka, kakinya tidak tenggelam dan ia meneruskan perjalanan ke tepi. Sesampainya di tepi ia berpikir, menyebut nama guru saja sudah hebat begini, apalagi kalau menyebut Tuhan, batinya. Ia sebut nama Tuhan tiga kali. Namun apa yang terjadi, ia terhanyut di dalam sungai. Syukurlah ia selamat. Tapi keheranan menghantui pikirannya, bagaimana bisa? Ia tak mampu memberi jawab. Akhirnya ia memutuskan kembali kepada gurunya.
“Kamu ini nggak kenal sama Tuhan. Kamu cuma sok kenal aja. Makanya tidak ada pengaruhnya ketika kamu menyebut-nyebut-Nya. Tahu nama-Nya bukan berarti tahu siapa Dia.” Begitulah sabda sang guru.
Cerita itu mungkin hanya fiktif belaka. Tapi cerita sufi memang nggak mudah dicerna begitu saja. Yang penting seusai membaca kisah itu, aku berkesimpulan, kenal bertahun-tahun, tahu rumahnya, latar belakang pendidikannya dll. bukan berarti kiat tahu siapa dia. “Mengenali wajahku bukan berarti tahu siapa aku.” Alangkah beruntungnya jika ada orang yang mau mengenal kita, mau tahu tentang kita tak hanya sekedar kulit. Ah… nonsense… nonses… benar kata orang, perjalanan terpanjang adalah perjalanan mencari teman sejati.
NB: Kali ini surat dibuat agak eksklusif. Hal ini dikarenakan ada kritikan pedas dari seorang “teman”. Katanya, “Mbok yo modal sithik.” Yup, jadilah surat ini agak istimewa… paling tidak modal ngetik, ngeprint lan amplop (walau semuanya minta he he he..)
NB lagi: Menjadi diri sendiri kadang memang terlihat tolol dan menjengkelkan.
Krapyak, ba’da Maghrib, 2006-05-01
ANnisa berkata,
Mei 29, 2008 pada 4:18 am
tulisannya bgs bgt…deskrpif
Boleh copy gak ? buat perenungan, kalo ternyata mash ada orang yang pernah berpikiran sama sepertku…heee
Klad Band base camp nya mn di jogja ?
ivanko berkata,
Juni 2, 2008 pada 2:39 pm
salam kenal. base camp klaad band ada di jalan taman siswa jogja.