September 2006

Mei 2, 2008 at 10:20 am (Catatan Perjalanan)

12 sept

Kenapa menulis surat? Bukankah kita biasa berhubungan dengan HP, internet atau yang lain? Kita telah berhubungan dengan teman sekolah kita, tapi kita selalu mengaharpkan seseorang yang kita impikan berada entah di mana. Itulah ironi manusia. Komunikasi kita selama ini, barangkali tidak bisa lagi dikatakan sebuah pembicaraan serius, melainkan sekedar senda gurau dan pelepas kepenatan hidup. Yah, apa mau dikata.

Kupikir, disitulah surat berbicara, dibutuhkan, Malika. Ia bisa digarap lebih intens, serius dan tidak tergesa. Surat memberi ruang kepada kita untuk memahami, mengerti apa yang sedang dan akan kita pikirkan dan sampaikan. Boleh jadi tidak semua orang terbiasa dengan komunikasi model begini. Selama ini kita berkomunikasi dengan semudah mungkin, kalau tidak mau dikatakan asal-asalan. Sehingga masih tersisa banyak rahasia, dari kita atau pun dari orang lain.

Malika, di manakah kamu kini? Kenapa tak ada kata-kata perpisahan terucap dari bibirmu? Apakah aku hanya sebatas seseorang yang pernah hadir dalam hidupmu? Ah, kok aku jadi cengeng sih. Yang pasti kini aku tak lagi bisa bersua denganmu. Tidak lewat surat, HP, ataupun lewat perantara seseorang.

Hari-hari pertama kuliah, Malika, aku tidak menemukan apa-apa kecuali setumpuk kekecewaan. Aku tidak menuliskannya di sini untukmu, barangkali itu karena aku ingin mengenyahkan kekecewaan-kekecewaan tersebut. Tidak ingin mengingatnya lebih lama. Atau karena sudah lama aku tidak menulis untukmu, dan aku merasa enggan untuk mengadukan kesedihanku setelah sekian lama aku tidak mengabarkan perihalku padamu.

Semoga reuni yang kita rencanakan bersama betul-betul menjadi kenyataan, Malika. Smoga.

Sebuah cerita untuk Malika

18 sept

Salam manis untukmu Malika. Cukup lama aku tak lagi menulis sesuatu untukmu. Yah, mungkin karena kau telah semakin jauh, atau mungkin karena aku ingin melupakan sesuatu yang hanya akan membuatku sedih. Entahlah?

Malika, bila kau baca tulisanku ini, percayalah aku tidak sedang menulis puisi. Aku hanya sedang cengeng. Boleh ‘kan? Enak juga merajuk sesekali, asal ada yang peduli he he…

Kenapa menulis surat, Malika? Bukankah kita bisa berhubungan dengan HP, internet atau yang lain? Tapi tidakkah komunikasi kita selama ini tidak bisa lagi dikatakan sebuah pembicaraan serius, melainkan sekedar senda gurau dan pelepas kepenatan hidup. Yah, apa mau dikata.

Kupikir, disitulah surat berbicara, dibutuhkan, Malika. Ia bisa digarap lebih intens, serius dan tidak tergesa. Surat memberi ruang kepada kita untuk memahami, merenungi dan mengerti apa yang sedang dan akan kita pikirkan dan sampaikan. Boleh jadi tidak semua orang terbiasa dengan komunikasi model begini. Selama ini kita berkomunikasi dengan semudah mungkin, hanya untuk memuaskan ego kita sendiri. Kita enggan mengeluarkan apa yang bersemayam dalam diri kita. Kita merasa harus menyembunyikan sesuatu dari orang lain. Dan kita pun merasa ada yang disembunyikan dari orang lain itu. Sehingga masih tersisa banyak rahasia, dari kita atau pun dari mereka.

Lagi-lagi aku harus mengutip kata-kata Syekh Ibnu ‘Atha’illah:

Apabila Allah telah membuatmu jemu dengan makhluk,

maka ketahuilah bahwa Dia hendak membukakan

pintu keintiman dengan-Nya untukmu.

Dan begitulah, Malika, Aku mulai menuliskan ini untukmu.

Tulis sebuah Komentar