Fitna dan Film Suci?
Bagaimana membayangkan jika kitab suci turun dalam masyarakat demam film? Bahwa kepandaian satu-satunya dan pekerjaannya adalah membuat dan menonton film? Mungkinkah wahyu akan turun bukan dalam bentuk kitab suci, melainkan sebuah film suci?
Tapi sebelumnya, relevankah pertanyaan yang diajukan ini? Kitab suci turun merupakan sebuah tradisi yang telah ada semenjak awal diutusnya nabi ke bumi ini. Apabila bukan berupa kitab yang kemudian lengkap dengan nama, wahyu tersebut bisa berupa shuhuf-shuhuf atau lembaran-lembaran. Tak ayal, tradisi yang ada memang menempatkan kitab, dalam kaitan ini berarti “tuturan” yang kemudian ditulis, sebagai bukti nyata yang ada. Tapi, kita bisa mengelak, bukankah karena pada zaman tersebut peradaban yang dicapai baru sedemikian itu? Baca entri selengkapnya »
Mei 08
Jum’at 2 Mei 08
ADA
Apa yang bisa bisa diperoleh dari tulisan? Banyak. Karena setiap peristiwa yang melalang, tak selalu kita terkenang. Acapkali peristiwa-peristiwa menghilang, meski ia pernah ada, tapi bagaimanapun kita telah melupakannya. Nah, tapi sebelumnya apa itu “ADA”?
Selama ini, kesadaran tentang ada hampir jarang sekali merasuki pikiranku. Mungkin sesekali saja ia datang, tapi tidak pernah benar-benar peduli benar. Sepintas lalu saja dan kemudian pergi. Tak apalah. Mengerti masalah ini tak cukup berarti, pikirku. Kemudian aku bertemu Shadra juga Heidegger. Mereka menyatakan ada itu penting. Adalah yang membuat seluruh realitas ini ada. Aku cuma terbengong. Lho? Gimana sih?
Sering muncul sentimen ketika kata ada atau mengada disebut. Aku sering mengolok dengan ah, kamu ini mengada-ada saja. Bagiku selama ini, “ada” memang seakan hanya perihal yang ada-ada saja. Pemikir-pemikir menyatakan bahwa yang ada sebenarnya bukanlah yang seperti kita sangka ini. Di balik yang terindera ini, terdapat ada yang lebih hakiki. Sampai di sini aku bingung. Apa yang dimaksud dengan ada yang hakiki. Bagaimana sebuah kesimpulan seperti itu bisa dihasilkan oleh mereka?