Pemikiran Karl Marx

November 20, 2008 at 11:29 am (Falsafi)

A. Pendahuluan

Sejarah akan berbeda sekarang ini tanpa Karl Marx. Demikian salah satu kesimpulan Franz Magnis Suseno mengenai pemikiran Karl Marx.[1] Tidak mengherankan jika Michael Hart meletakkan Karl Max di tempat yang tinggi dalam susunan Seratus Tokoh Paling Berpengaruh dalam sejarah. Pada masa jayanya, jumlah manusia yang sedikitnya terpengaruh oleh Marxisme mendekati angka 1,3 milyar. Jumlah penganut ini lebih besar dari jumlah penganut ideologi mana pun sepanjang sejarah manusia.[2]

Pengaruh pemikiran Karl Marx tidak bisa diragukan lagi dalam sejarah perjalanan dunia ini. Marx tidak hanya merangsang perubahan cara berpikir, akan tetapi juga mengubah cara manusia bertindak. Seperti dikatakan Marx sendiri, “Para filosof hanya menginterpretasikan dunia dalam berbagai cara; masalahnya adalah bagaimana mengubah dunia.” Baca entri selengkapnya »

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Kenapa Orang masih Beragama?

November 20, 2008 at 11:21 am (Esai)

Sebelum menjawab pertanyaan kenapa orang masih beragama, perlu kiranya di sini untuk dibahas terlebih dahulu apa itu agama? Tidak mudah mendefinisikan agama. Hal ini dikarenakan bahwa setiap usaha untuk mendefinisikan agama selalu kembali kepada siapa yang mencoba untuk memberi definisi kepada agama. Setiap latar belakang yang berbeda akan memunculkan pengertian yang berbeda pula. Sebagai contoh, penjelasan terhadap kata agama bisa merujuk dalam bahasa inggris yaitu Religion, atau dengan mengacu kepada bahasa lain, misalkan Arab yaitu Dien. Tentu saja implikasi dari masing-masing bahasa itu berlainan.

John Locke (Quraish Shihab: 209) menyimpulkan bahwa “agama bersifat khusus, sangat pribadi, sumbernya adalah jiwaku dan mustahil bagi orang lain memberi petunjuk kepadaku jika jiwaku sendiri tidak memberitahu kepadaku.” Semntara itu Mahmud Syaltut menyatakan bahwa “Agama adalah ketetapan-ketetapan Ilahi yang diwahyukan kepada Nabi-Nya untuk menjadi pedoman hidup manusia.” Baca entri selengkapnya »

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Oktober ‘08

November 20, 2008 at 11:18 am (Catatan Perjalanan)

15 okt 08

Lantunan suara Iwan Fals terdengar dari speaker. Suasana sunyi. Seperti tiada kehidupan. Jarot dan Ardi sudah tidur pulas. Padahal waktu baru saja menginjak pukul sembilan malam. Aku sendiri baru saja pulang dari alun-alun utara. Mencari-cari buku. Novel The Alchemist, The Inheritance of Loss, dan dua buah komik kubeli. Novel Alkemis sebenarnya sudah pernah kupunyai. Tapi sayangnya memang hanya pernah. Karena saat ini aku tak lagi dapat melacak di mana keberadaannya. Maka, ketika kulihat di tumpukan buku novel tersebut, terjadi ketegangan dalam diriku. Cukup lama aku dikuasai oleh perasaan ini yang coba kuhilangkan dengan mencari-cari buku lainnya. Baca entri selengkapnya »

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

September ‘08

November 20, 2008 at 11:12 am (Catatan Perjalanan)

16 September 08

Beberapa hari ini berjalan paradoksal. Penuh perasaan tegang di satu sisi, dan dilanda keriangan tanpa alasan yang kukenal. Tapi itu akan kubahas nanti. Aku tengah membaca novel The Zahir karya Paulo Coelho. Beberapa novelnya terdahulu sudah kubaca. Di antaranya Sang Alkemis, Di Tepi Sungai Piedra Aku Duduk dan Menagis, dan Veronika Memutuskan untuk Mati. Ide yang dibawa Coelho memang unik. Dalam arti dia tidak hanya sekedar bercerita sebagaimana kebanyakan pengarang lain. Ia tidak hanya mengamati apa yang nampak, situasi sosial, politik dll. Ia melihat lebih ke dalam: cinta dan spiritualitas. Baca entri selengkapnya »

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Esensi: Mencari Batas Pengetahuan Manusia

November 20, 2008 at 10:59 am (Falsafi)

Esensi adalah apa-nya sesuatu. Ia terlepas dari persoalan apakah sesuatu itu ada atau tidak. Esensi adalah persoalan definisi. Jika kita ingin mengetahui apa itu pohon?, maka yang kita inginkan bukanlah pohon yang ini atau pohon yang itu. Yang kita kehendaki adalah pohon secara keseluruhan. Kita berbicara bukan tentang suatu pohon, melainkan berbicara tentang ke-pohon-an. Kenapa sesuatu itu bisa disebut pohon dan bukan yang lain.

Persolannya kemudian adalah mungkinkah kita mengetahui esensi atau bagaimana cara kita mengetahui esensi itu? Para filosof sebelum Kant hendak menyibak das ding an sich realitas dalam dirinya atau neumenom oleh rasionalitas manusia, sedangkan pada Kant, hakikat realitas itu sebenarnya tidak pernah sungguh-sungguh diketahui (misalnya Tuhan itu sesungguhnya apa? Dunia itu apa?). Baca entri selengkapnya »

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Next page »