Salam dari Derrida, Jacques
Filsuf kontemporer itu telah pergi. Lewat mazhab Dekonstruksionisme yang dibidaninya, semua peralatan budaya ditafsir kembali.
LELAKI tua berambut perak itu menunduk dan mengatupkan bibirnya. Dan ruang dua kali tiga meter dengan terang sekadarnya itu pun senyap, seolah mencoba mengakrabi suasana hati penghuninya. Aku duduk di hadapan, terpaku memandangnya. Begitu segera sepi menyergap lelaki itu. Mata-nya yang keras namun damai mengabarkan satu keteguhan, juga kesendirian. Ingatanku memanggil Hemingway, The Old Man and the Sea. “Monsieur Jacques, Je dois parti,” kataku sambil beranjak. Baca entri selengkapnya »
Posmodernisme dan Total Football
Jika kesulitan menjelaskan aliran Posmodernisme, cobalah menggunakan total football sebagai alat bantu. Dibanding memakai karya sastra Norman Mailer sebagai contoh, percayalah, sepak bola gaya Belanda itu jauh lebih menjelaskan.
Seperti Posmodernisme yang mengacaukan keteraturan yang diagungkan oleh modernisme, total football juga mengobrakabrik semua pola sepak bola modern yang dijalankan dengan penuh disiplin di atas lapangan rumput.
Semangat dekonstruksi dalam Posmodernisme tergambar jelas saat Johan Cruyff dan kawankawannya di Ajax Amsterdam pada 1970-an mempraktekkan instruksi Rinus Michels, sang pelatih yang membakukan filsafat baru dalam bersepak bola ini. Baca entri selengkapnya »