Posmodernisme dan Total Football

November 21, 2008 at 12:00 am (Tulisan Pilihan)

Jika kesulitan menjelaskan aliran Posmodernisme, cobalah menggunakan total football sebagai alat bantu. Dibanding memakai karya sastra Norman Mailer sebagai contoh, percayalah, sepak bola gaya Belanda itu jauh lebih menjelaskan.

Seperti Posmodernisme yang mengacaukan keteraturan yang diagungkan oleh modernisme, total football juga mengobrakabrik semua pola sepak bola modern yang dijalankan dengan penuh disiplin di atas lapangan rumput.

Semangat dekonstruksi dalam Posmodernisme tergambar jelas saat Johan Cruyff dan kawankawannya di Ajax Amsterdam pada 1970-an mempraktekkan instruksi Rinus Michels, sang pelatih yang membakukan filsafat baru dalam bersepak bola ini.

Ketidakteraturan dalam keteraturan. Seorang pemain belakang dapat jauh menyerang, meninggalkan posnya dan menusuk pertahanan lawan. Penyerang yang mestinya di depan dapat turun jauh ke belakang dan membantu pertahanan. Seperti dalam Posmodernisme, interkoneksi adalah kunci keberhasilan total football.

Namun entah mengapa Michels tak pernah disandingkan dengan para pemikir Posmodernisme lain yang berkarya di banyak bidang, mulai sastra hingga arsitektur.

Itu mungkin tak penting, karena diakui atau tidak, sepak bola telah banyak mempengaruhi dunia budaya. Bahkan cabang olahraga ini telah memunculkan sebuah budaya baru yang mungkin tak dimiliki oleh cabang olahraga lain.

Tentu tak banyak yang menyangka, demam sepak bola yang muncul di Amerika Serikat pada 1990-an yang kemudian disusul dengan penyelenggaraan Piala Dunia 1994 di negeri itu, telah memunculkan sebuah terminologi baru dalam diskursus politik dan budaya di Amerika Utara.

Di sana saat itu muncul istilah soccer mom yang digunakan secara luas untuk menunjuk kelompok demografi perempuan yang memiliki anak yang masih sekolah. Secara umum, soccer mom merujuk pada konsep keibuan (motherhood) pasca feminisme. Tak lagi seekstrem para feminis awal, soccer mom menggabungkan nilai-nilai tradisional dengan feminisme modern. Mereka berasal dari kelas menengah atas, berpendidikan, berkulit putih, dan tinggal di suburban.

Pertanyaannya, kenapa ibuibu muda itu dicap dengan soccer mom? Ini tentu tak bisa dilepaskan dari demam bola pada 1990-an. Berbeda dengan generasi AS sebelumnya yang tak begitu mengenal sepak bola, anakanak masa itu dikenalkan pada olahraga baru yang menarik. sepak bola pun menjadi program ekstrakulikuler yang paling populer bagi murid kelas-kelas awal sekolah dasar.

Kebetulan, itu terjadi saat ibu murid-murid itu sedikit berbeda dengan ibu-ibu generasi sebelumnya yang lebih fokus pada dunia karier. Mereka dikenal rela meluangkan waktu untuk mendukung kegiatan-kegiatan kecil anak-anaknya, termasuk sepak bola itu.

Dan seperti juga para pemain total football, dalam berpolitik soccer mom ini dikenal tidak “setia” pada satu posisi, swing voter. Mereka berada di balik kemenangan dua kali Bill Clinton dari Partai Demokrat, tapi pada pemilihan berikutnya mereka adalah pendukung George W. Bush yang sangat Republikan.

Di negara-negara bola, keadaan tentu lebih gila lagi. “Di Amerika Latin, batas antara sepak bola dan politik itu samar. Ada daftar panjang pemerintahan yang jatuh setelah tim nasional mereka kalah,” kata pemain sepak bola Kolombia, Luis Suarez. Dan sejarah pernah mencatat Perang Sepak Bola, sebuah perang anara Honduras dan El Savador pada 1969 yang pecah setelah pendukung kesebelasan kedua negara itu bentrok pada penyisihan Piala Dunia 1970.

Jika politik terlalu menjemukan untuk Anda, marilah kita bicara soal gaya hidup. Seorang pemain bola—yang tentu tidak kebetulan bernama David Beckham —dapat mengubah gaya hidup pria seluruh dunia. Dandanan gaya rambutnya yang selalu berganti-ganti ditunggu, kaca mata yang dipakainya menjadi tren, dan gosipnya selalu menarik, bahkan untuk publik Amerika Serikat yang tak pernah melihatnya merumput. Ia adalah ikon metroseksual yang paling top.

Tentu saja, sepak bola tak hanya punya Beckham. Ada lusinan pemain Italia tampan yang dinaikkan ke atas catwalk oleh para desainer mode pada 2004 untuk mengusung tren baru fashion: Soccer Chic. Ini adalah gaya berpakaian kasual yang dipadu dengan gaya sportif. Giorgio Armani, salah seorang desainer Milan yang banyak berkolaborasi dengan sepak bola, yakin para pemain bola adalah ikon gaya hidup baru yang mampu menyaingi budaya yang diusung Hollywood.

Masih di gaya hidup, dalam ranah kuliner, olahraga yang paling digilai ini punya makanannya sendiri. Di Inggris, yang konon menjadi tempat lahirnya sepak bola, ada makanan tradisional sepak bola yang hanya dapat dipesan dari bangku tribun stadion saat pertandingan berlangsung. Stik, pai lonjong, dan Bovril (ekstrak sapi) adalah makanan khas itu. Sedang di Brazil ada sanduiche de calabresa (roti impit paparoni) yang dapat dibeli di sekitar stadion setelah pertandingan. sepak bola juga membuat sejumah musisi (dari Ricky Martin hingga Nelly Furtado) menelurkan karya, juga para sineas (mulai dari Bend it Like Beckham hingga Goal!). Di sejumlah negara, sepak bola juga punya koran harian dan kanal televisi khusus. Semuanya itu tentu untuk menampung gairah pada penggilanya, apakah itu Hooligan dari London atau Jackmania cabang Rawa Belong.

Melihat kefanatikan penggilanya dan rambahan pengaruhnya, tak heran jika sejumlah orang mengatakan sepak bola sebagai sebuah agama dengan nabi atau dewa bernama Pele dan Maradona. Bahkan di Argentina ada Iglesia Maradoniana (Gereja Maradona), sebuah agama parodi yang mendewakan si kuntet yang jago gocek itu. Pengikutnya cukup banyak, 15 ribu orang.

Hanya ada tiga kata yang mampu menggambarkan cabang olahraga dengan begitu banyak kegilaan itu, seperti yang dikatakan pelatih Manchester United Sir Alex Ferguson: “Football. Blody hell!”

QARIS TAJUDIN

Tulis sebuah Komentar