Pemikiran Karl Marx
A. Pendahuluan
Sejarah akan berbeda sekarang ini tanpa Karl Marx. Demikian salah satu kesimpulan Franz Magnis Suseno mengenai pemikiran Karl Marx.[1] Tidak mengherankan jika Michael Hart meletakkan Karl Max di tempat yang tinggi dalam susunan Seratus Tokoh Paling Berpengaruh dalam sejarah. Pada masa jayanya, jumlah manusia yang sedikitnya terpengaruh oleh Marxisme mendekati angka 1,3 milyar. Jumlah penganut ini lebih besar dari jumlah penganut ideologi mana pun sepanjang sejarah manusia.[2]
Pengaruh pemikiran Karl Marx tidak bisa diragukan lagi dalam sejarah perjalanan dunia ini. Marx tidak hanya merangsang perubahan cara berpikir, akan tetapi juga mengubah cara manusia bertindak. Seperti dikatakan Marx sendiri, “Para filosof hanya menginterpretasikan dunia dalam berbagai cara; masalahnya adalah bagaimana mengubah dunia.” Baca entri selengkapnya »
Esensi: Mencari Batas Pengetahuan Manusia
Esensi adalah apa-nya sesuatu. Ia terlepas dari persoalan apakah sesuatu itu ada atau tidak. Esensi adalah persoalan definisi. Jika kita ingin mengetahui apa itu pohon?, maka yang kita inginkan bukanlah pohon yang ini atau pohon yang itu. Yang kita kehendaki adalah pohon secara keseluruhan. Kita berbicara bukan tentang suatu pohon, melainkan berbicara tentang ke-pohon-an. Kenapa sesuatu itu bisa disebut pohon dan bukan yang lain.
Persolannya kemudian adalah mungkinkah kita mengetahui esensi atau bagaimana cara kita mengetahui esensi itu? Para filosof sebelum Kant hendak menyibak das ding an sich realitas dalam dirinya atau neumenom oleh rasionalitas manusia, sedangkan pada Kant, hakikat realitas itu sebenarnya tidak pernah sungguh-sungguh diketahui (misalnya Tuhan itu sesungguhnya apa? Dunia itu apa?). Baca entri selengkapnya »
Epistemologi Barat dan Epistemologi Al Jabiri
Epistemologi adalah pengetahuan sistematik mengenai pengetahuan. Ia merupakan cabang filsafat yang membahas tentang terjadinya pengetahuan, sumber pengetahuan, asal mula pengetahuan, sarana, metode atau cara memperoleh pengetahuan, validitas dan kebenaran pengetahuan (ilmiah).
Perbedaan landasan ontologik menyebabkan perbedaan dalam menentukan metode yang dipilih dalam upaya memperoleh pengetahuan yang benar. Akal, akal budi, pengalaman, atau kombinasi akal dan pengalaman, intuisi, merupakan sarana mencari pengetahuan yang dimaksud dalam epistemologik, sehingga dikenal model‑model epistemologik seperti rasionalisme, empirisme, rasionalisme kritis, positivisme, fenomenologi dan sebagainya. Baca entri selengkapnya »
Filsafat Wujud Mulla Shadra
Bisa dikatakan bahwa persoalan wujud adalah persoalan yang sangat penting dan fundamental dalam filsafat islam. Perdebatan antara kaum peripateik, iluminisme, dan transendentalisme mengenai topik ini merupakan perjalanan panjang yang terus-menerus mewarnai ranah pemikiran filsafat Islam yang teramat luas dan dalam.
Tuhan ada; manusia ada; spidol ada. Dari pernyataan-perntaan ini kemudian muncul bermacam persoalan tentang wujud yang kemudian menjadi dasar pemikiran filsafat Shadrian. Karena menurut pandangan pencetus aliran ini, Mulla Shadra, isu tentang wujud ini merupakan landasan bagi isu-isu filosofis yang lain. Apa itu ada (wujud)? Samakah ada pada Tuhan, manusia, dan spidol? Manakah yang lebih sejati antara eksistensi (wujud) dan esensi (mahiyah)? Baca entri selengkapnya »
PANDANGAN FAZLUR RAHMAN TENTANG AL-QUR’AN DAN PENAFSIRAN
Membahas biografi seorang tokoh seringkali tidak terlalu penting dan signifikan untuk mengetahui pemikiran tokoh tersebut. Hal ini dikarenakan bahwa tidak setiap masa lalu kemudian sangat berpengaruh dalam pemikiran periode selanjutnya. Namun tidak dalam kasus Fazlur Rahman. Justru dengan mengtahui biografi dan latar belakang hidupnya, kita akan mendapat cukup bahan untuk mengetahui arus pemikiran Rahman selanjutnya.
Fazlur Rahman lahir dalam suatu lingkungan yang bermazhab Hanafi. Seperti diketahui bersama, mazhab Hanafi merupakan salah satu mazhab sunni paling rasional dibandingkan dengan mazhab-mazhab yang lain. Tak pelak kemudian dalam karier akademik berikutnya, Fazlur Rahman tidak merasa puas jika hanya mengenyam pendidikan di dalam negerinya sendiri. Setelah menamatkan studinya di universitas Punjab dan meraih gelar MA, Fazlur Rahman melanjutkan kariernya ke Oxford University. Karena hal itulah keilmuan India-Pakistan yang tradisional dan barat yang rasioanal-liberal menyatu dalam diri Rahman. Baca entri selengkapnya »