Senja
22 Desember 2007
Untuk Senja yang Memesona
How is your Holyday? Everything is going to be ok, it’s right? Aku berharap menulis surat yang ceria untukmu, Senja. Aku mengenalmu sebagai gadis yang periang, selalu tersenyum, dan memiliki selera humor yang baik. Semoga aku tidak salah mengenai hal ini. (Kalau salah kau bisa membetulkannya sendiri ha ha…).
Hari ini aku baru saja tiba ke Jogja. Tiga hari aku berada di rumah bersamaan dengan libur Idul Adha. Aku bingung. Dari mana akan kumulai surat ini. Tapi yang tak boleh kulupakan, hatiku tergerak untuk menulis ketidaksengajaan kurang ajar sewaktu aku mencari-cari fotomu di komputer LKiS. Aku membuka file seorang teman. Teman senior di LkiS tepatnya. Ia menulis sebuah surat untuk seorang yang dikaguminya. Aku merasa tidak enak membaca tulisan itu. Tapi semakin kubaca, semakin lekat mata ini dan tak ingin berpaling dari sana. Baca entri selengkapnya »
Larut
Malam mulai larut. Jam menunjuk pukul setengah dua. Aku ingin tidur awal. Tapi mungkin karena kopi beberapa gelas tadi mataku justru merasa bersemangat. Karena itu kuputuskan saja mengetik apa yang bersarang di kepalaku.
“Kebenaran itu seperti cicak,” bunyi surat Ivan Turgenev kepada Leo Tolstoy. “Yang kita tangkap hanya ekornya yang menggeliat-liat seperti hidup sementara cicaknya sendiri lepas.” Begitu banyak hal yang membutuhkan kesabaran. Demikian banyak hal berkelebat, dan kita ingin segera menangkap, mendekapnya erat, seakan itulah kebenaran yang kita cari. Baca entri selengkapnya »
Melia
16 Juli 07
Aku tidak menyadari apapun kecuali setelah jam menunjuk pukul tujuh pagi. Semalam aku terus terjaga, melakukan hal yang sebenarnya tidak perlu benar. Pagi ini banyak sekali hal yang mengganggu pikiranku. Tapi aku sedikit bisa tersenyum. Siang ini aku akan chek in di hotel Melia Purosani. Ceritanya panjang, dan aku tidak yakin bisa menuliskannya malam ini. Tanganku masih segar bugar setelah tadi sore aku berendam air hangat di hotel. Tapi kau tidak merasa kuat dengan mataku. Ia kulihat memerah dalam kaca di kamar mandi. Perih juga terasa kian menyengat. Biarlah aku melewatkannya. Itu adalah cerita yang mudah diingat. Jadi tak perlu benar aku menuliskannya di sini. Baca entri selengkapnya »