PENGUMUMAN PENERIMAAN SISWA BARU MI MA’ARIF GRABAG 1 TAHUN PELAJARAN 2013/ 2014

April 10, 2013 at 1:32 am (Uncategorized)

Assalamuálaikum Wr. Wb.

Berikut ini adalah daftar siswa-siswi yang diterima di MI MA’ARIF GRABAG 1.

Info lebih lanjut bisa mendatangi MI Maárif Grabag 1.

Daftar siswa yang diterima bisa didownload di bawah ini:

DAFTAR ULANG PPDB 2013 PDF..

Iklan

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Mari, Tertawa Bersama Filsuf Beken!

Oktober 31, 2012 at 9:05 am (Uncategorized)

Judul Buku: Si Buta Dari Gua Plato dan 99 Anekdot Filsafat Lainnya

Pengarang: Rif’an Anwar

Penerbit: Kanisius

Cetakan ke-/Tahun: Pertama/2011

Tebal: 158 halaman

Apa yang terbayang di benak Anda ketika mendengar kata filsafat? Aksiologi, epistemologi dan antologi? Atau  buku teks tebal dari sejumlah filsuf kenamaan? Wah, baru dibayangkan saja sudah membuat seram. Terutama bagi Anda yang baru mulai belajar filsafat. Mendengar kata filsafat dapat menimbulkan ketakutan dan keengganan.

Ada kabar baik bagi Anda yang merasakan ketakutan ini. Sekarang Anda dapat mulai belajar filsafat dengan menyenangkan. Ya, mulai lah dengan tertawa bersama Plato, Nietzsche, Socrates, dan beberapa nama besar di bidang filsafat lainnya dalam ruang yang diciptakan oleh Rif’an Anwar pada buku mungil yang ia tulis, Si Buta dari Gua Plato dan 99 Anekdot Filsafat Lainnya.

Dalam bukunya, Rif’an akan mengajak kita melihat beragam keseharian filsuf dalam anekdot yang menghibur. Kita akan dibawa makan bersama filsuf, yang ternyata penuh dengan tingkah laku aneh manifestasi dari pola pikir mereka. Selain itu, Rif’an juga mengajak kita bersenda-gurau mengenai tanda, silogisme, eksistensialisme, dan  banyak istilah filsafat lainnya yang acap kali dianggap sebagai sesuatu yang sangat serius.

Salah satu dari seratus anekdot dalam buku ini bercerita tentang Nietzsche dan Hitler. Rif’an berkisah pada suatu hari Nietzsche dengan emosi mendatangi Hitler. Nietzsche marah karena Hitler tidak sepenuhnya paham akan ajaran Nietzsche. Menurut Nietzsche Hitler salah menerapkan ajarannya.

“Ah, benarkah demikian. Tapi apa sebabnya, Nietzsche?”

“Hal itu sebabnya sederhana. Dari seluruh kumis yang ada pada bibirku, kau hanya mengambil secuil saja di bawah hidungmu. Itulah sebabnya kau hanya memahami pemikiranku sebatas kumis yang nempel di atas mulut kecil mu itu,” (halaman 100).

Setelah menyatakan protesnya terhadap Hitler, Nietzsche yang masih emosi dengan gegabah mendobrak jendela dan keluar dari sana. Nietzsche tidak sadar, ruangan Hitler berada di lantai lima.

Kisah Hitler dan Nietzsche, kisah si Buta dari Gua Plato, dan 98 kisah lainnya dipastikan dapat menghibur dan menjadi langkah awal untuk memancing keinginan belajar filsafat. Rif’an dengan cermat memberikan gambaran pada kita tentang pola pikir dan sifat para filsuf kenamaan yang akan kita temui ketika belajar filsafat.

Selain untuk para pemula di bidang filsafat, buku ini juga merupakan hiburan dan bahan perenungan bagi mereka yang telah banyak menelaah filsafat. Para filsuf itu, apakah selalu memandang hidup dengan terlalu serius?

Don’t take life too seriously, you’ll never get out of it alive, jangan memandang hidup terlalu serius, kamu tidak akan keluar hidup-hidup. Buku yang ditulis oleh mahasiswa Jurusan Filsafat UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini mengingatkan kita untuk bersama menertawakan hidup, menertawakan filsafat sehingga kita bisa mehaminya dengan lebih mudah. Tidak menganggap filsafat sebagai momok menakutkan yang harus dipahami sekedar untuk membuat rangkaian penelitian dalam rangka menyelesaikan suatu jenjang pendidikan.

Dimulai dengan buku ini, mari buktikan filsafat pun dapat bersahabat dengan kita.

Ixora Tri Devi

Permalink 1 Komentar

Cinta dan Kesempurnaan

Juli 6, 2012 at 3:14 pm (Gumam)

Di suatu malam yang sunyi, aku berkata kepada Tuhan yang Maha Menjawab segala keluh kesah hambaNya, ”Aku mencari gadis yang sempurna. Kemarin aku bertemu dengan gadis cantik. Tapi dia suka menyakiti hati.” Tuhan hanya tersenyum.

Aku berkata lagi, ”Di lain waktu, aku berjumpa dengan gadis baik hati. Dia juga pintar. Sayang wajahnya biasa saja.” Tuhan kembali hanya tersenyum.

Aku mengeluh kembali, ”Dan tadi sore, aku bertemu dengan gadis cantik, baik hati, dan pintar. Tapi gadis itu menolakku.”

Tuhan kali ini bergumam lirih, ”Ya, karena gadis itu mencari lelaki yang sempurna. Mana mungkin dia memilih kamu.”

***

Di malam yang lain, aku mengeluh kepada Tuhan, ”Mengapakah Kau beri aku kekasih yang cantik?”

Tuhan berbisik lembut, ”Karena cantiklah kau memilih dia.”

Aku kembali bergumam kepada-Nya, ”Sudah cantik, dia baik lagi.”

Tuhan menjawab kembali, ”Itu sebabnya kau yakin untuk memilih dia.”

Merasa Tuhan akan menjawab semua keluhan, aku pun berkata lirih, ”Mengapa kekasihku itu bodoh sekali?”

Cepat-cepat Tuhan menjawab, ”Karena bodohlah dia memilih kamu. Kalau pintar, dia akan memilih yang lain.”

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Foto dan Dunia

April 25, 2009 at 10:54 am (Esai)

img0138a

Foto ini diambil pada saat saya duduk di kelas 2 Aliyah akhir. Setelah sekian lama berselang, saya menemukan foto itu kembali. Bermacam perasaan muncul. Foto atau gambar barangkali memang adalah sebuah dunia. Ia memiliki kesejarahan yang ikut membentuk dunianya. Foto bisa membawa seseorang kembali lagi ke dalam nuansa di mana dan di saat foto dibuat. Maka, foto memiliki dunia objektif. Objektif di sini bukan dalam arti sebuah makna yang ketat. Di sini lebih tepat obejektif dipahami bahwa foto membawa dunianya sendiri yang pernah hadir. Berikut penjelasan yang saya maksud. Baca entri selengkapnya »

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Islam: Pandangan Seorang Penyair

April 25, 2009 at 10:16 am (Esai)

Oleh: Rif’an Anwar

Pada dasarnya Goenawan Mohamad adalah seorang penyair. Apakah profesi sebagai penyair ini perlu untuk mengetahui pandangan GM tentang Islam? Ignas Kleden dalam pengantarnya untuk kumpulan tulisan GM, Catatan Pinggir 2, melukiskan problema ini dengan menarik. Menurut Ignas Kleden memang cukup sulit untuk menghubungkan sifat tulisan atau pandangan dengan latar belakang pribadi penulisnya. Apa perlunya mengetahui bahwa Heidegger pernah menulis sajak untuk membaca Sein und Zeit? Goenawan sendiri memilih untuk tidak menghubung-hubungkan antara karya dengan pembuatnya. Ia sering merasa kesal menghadapi kritik puisi di Indonesia yang menurutnya lebih banyak membicarakan penyairnya ketimbang sajaknya.[1]

Kendatipun keberatan tersebut memiliki alasan yang cukup kuat, pendekatan seperti ini tetap perlu digunakan untuk melihat bagaimana seorang penyair melihat dunia dan fenomena di dalamnya. Penyair berurusan dengan dunia-dalam. Penyair menjunjung tinggi kreativitas dan kebebasan dalam berkarya. Oleh karena itu, dalam tulisan-tulisan GM, seperti akan dibahas nanti, terlihat kreativitas dan kebebasan dalam memahami agama atau dalam hal ini Islam, merupakan sikap yang menonjol. Baca entri selengkapnya »

Permalink 5 Komentar

Next page »