Ada Apa dengan Postmodernisme

April 30, 2008 at 12:34 pm (Esai)

Berbicara mengenai postmodernisme kita tidak bisa tidak berbicara tentang modernisme. Apalagi jika kata post dalam kata postmodernisme di situ maksudnya seperti apa. Apa yang telah ditimbulkan modernisme sehingga membuatnya perlu untuk ditinggalkan?

Karakter dasar modernitas adalah dipakainya rasionalitas sebagai acuan manusia untuk mengantarkannya pada tujuan. Weber mengistilahkannya “Zweckrationalitaet” (rasionalitas-tujuan). Melalui teknologi dan sains, rasionalitas ini menciptakan perubahan berskala besar di dalam masyarakat.[1] Menurut Weber, modernitas dibentuk oleh aplikasi sains dalam sendi-sendi kehidupan manusia. Di wilayah sosial, ada institusi-institusi dan struktur sosial yang tertata secara rasional, digalakkannya pasar dan uang di wilayah ekonomi, dan demokrasi-liberal dan konstitusionalisme di wilayah politik. Kesemuanya “baru” sebagai ganti untuk yang lama: tradisional, penuh mitos, feodal. Objektifitas, dalam epistemologi filsafat modern, menjadi acuan dimana ia bisa diakses oleh semua individu dalam rangka menemukan yang benar. Baca entri selengkapnya »

Iklan

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Refleksi Ahmad Wahib

April 30, 2008 at 12:32 pm (Esai)

Tatkala catatan-catatan harian Ahmad Wahib, yang kemudian diberi judul Pergolakan Pemikiran Islam, diterbitkan, banyak telinga yang merah dan hati menjadi marah. Buku itu sama sekali bukan buku ilmiah, melainkan sebuah catatan harian tentang pelbagai masalah yang dipikirkan Wahid yang merupakan refleksi atas kenyataan-kenyataan yang dihadapi, umat Islam, bangsa Indonesia, sekaligus diri Ahmad Wahid sebagai pribadi. Oleh karena itulah banyak pihak yang menyayangkan penerbitan buku itu yang dinilai subyektif dan hanya merupakan ungkapan kegelisahan dan kekecewaan yang bergolak yang tidak menutup kemungkinan diakibatkan kemarahan sesaat. Terlebih pemberian judul yang bombastis, Pergolakan Pemikiran Islam, padahal bisa jadi hal itu bukan merupakan benar-benar bisa dikatakan pemikiran, membuat banyak orang salah paham. Baca entri selengkapnya »

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Pemikiran Eksistensialisme Sadra

April 29, 2008 at 2:39 pm (Esai)

Ada anggapan bahwa “sejarah” filsafat Islam secara praktis berakhir bersamaan dengan kematian Ibnu Rusyd. Kata Corbin, filsafat Islam itu justru dimulai setelah kematian Ibnu Rusyd dan mencapai puncaknya pada Mulla Sadra.Setelah itu, sampai terjadinya invasi Mongol, dunia Islam hanya menghasilkan para komentator, tanpa cetusan-cetusan kreatif dan orisinil. Namun, anggapan itu dipatahkan oleh kenyataan bahwa sampai periode Safawi, kreativitas intelektual Islam mengalami perkembangan yang begitu pesat dan mencapai kematangannya di kalangan orang-orang Syi’ah Persia. Paad batas tertentu, tidak berlebihan jika dikatakan bahwa jenis filsafat yang khas Islami justru baru berkembang setelah Ibnu Rusyd, bukan sebelumnya. Tipe filsafat Islam yang khas ini dikenal dengan sebutan hikmah(Arab) atau hikmat (Persia), yang dalam bahasa Barat diterjemahkan sebagai theo-sophia (Yunani) atau theosoph (Inggris). Baca entri selengkapnya »

Permalink 1 Komentar

meleburnya….

April 29, 2008 at 2:21 pm (Falsafi)

apa yang membuat aku ingin menulis? sebuah kegelisahan dan barangkali sebuah keputusasaan. tulisan ini kubuat di kedai nusantara. tapi, sebagaimana kata harry dalam film when harry met sally, alangkah “menyenangkan jika kau bisa duduk dengan seseorang dan tak perlu bicara”.

mungkinkah tanpa kata-kata kita menangkap makna? dalam tradisi filsafat hikmah terdapat dua cara memperoleh pengetahuan. yang pertama dengan ilmu hushuli, ackuired knowledge atau pengetahuan perolehan. yang kedua biasa disebut ilmu hudhuri atau knowledge by present. ilmu hushuli adalah metode memperoleh pengetahuan dengan cara representasional. Baca entri selengkapnya »

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar