Filsafat Wujud Mulla Shadra

Mei 23, 2008 at 4:28 am (Falsafi)

Bisa dikatakan bahwa persoalan wujud adalah persoalan yang sangat penting dan fundamental dalam filsafat islam. Perdebatan antara kaum peripateik, iluminisme, dan transendentalisme mengenai topik ini merupakan perjalanan panjang yang terus-menerus mewarnai ranah pemikiran filsafat Islam yang teramat luas dan dalam.

Tuhan ada; manusia ada; spidol ada. Dari pernyataan-perntaan ini kemudian muncul bermacam persoalan tentang wujud yang kemudian menjadi dasar pemikiran filsafat Shadrian. Karena menurut pandangan pencetus aliran ini, Mulla Shadra, isu tentang wujud ini merupakan landasan bagi isu-isu filosofis yang lain. Apa itu ada (wujud)? Samakah ada pada Tuhan, manusia, dan spidol? Manakah yang lebih sejati antara eksistensi (wujud) dan esensi (mahiyah)? Baca entri selengkapnya »

Permalink 3 Komentar

The Namesake

Mei 23, 2008 at 2:43 am (Film)

“teruslah berjalan sampai kakimu tak lagi bisa melangkah…”

Namesake berkisah tentang sepasang suami isteri India yang memulai hidup baru di New York dan lika-liku hidup mereka di sana sebelum dan setelah mempunyai anak. Salah salah satu anak mereka, Gogol, yang tumbuh dalam dua kultur berbeda membuat kepribadiannya goncang. Ia terombang-ambing antara tetap “menjadi” India yang menurutnya “kuno” dan memilih Amerika yang modern. Film ini dengan baik memotret kehidupan keluarga India perantauan dengan aneka problemanya, seperti: kesulitan bahasa, kesulitan adaptasi dengang lingkungan, dan culture shock. Baca entri selengkapnya »

Permalink 1 Komentar

Fitna dan Film Suci?

Mei 10, 2008 at 5:33 pm (Esai)

Bagaimana membayangkan jika kitab suci turun dalam masyarakat demam film? Bahwa kepandaian satu-satunya dan pekerjaannya adalah membuat dan menonton film? Mungkinkah wahyu akan turun bukan dalam bentuk kitab suci, melainkan sebuah film suci?

Tapi sebelumnya, relevankah pertanyaan yang diajukan ini? Kitab suci turun merupakan sebuah tradisi yang telah ada semenjak awal diutusnya nabi ke bumi ini. Apabila bukan berupa kitab yang kemudian lengkap dengan nama, wahyu tersebut bisa berupa shuhuf-shuhuf atau lembaran-lembaran. Tak ayal, tradisi yang ada memang menempatkan kitab, dalam kaitan ini berarti “tuturan” yang kemudian ditulis, sebagai bukti nyata yang ada. Tapi, kita bisa mengelak, bukankah karena pada zaman tersebut peradaban yang dicapai baru sedemikian itu? Baca entri selengkapnya »

Permalink 2 Komentar

Mei 08

Mei 10, 2008 at 5:31 pm (Catatan Perjalanan)

Jum’at 2 Mei 08

ADA

Apa yang bisa bisa diperoleh dari tulisan? Banyak. Karena setiap peristiwa yang melalang, tak selalu kita terkenang. Acapkali peristiwa-peristiwa menghilang, meski ia pernah ada, tapi bagaimanapun kita telah melupakannya. Nah, tapi sebelumnya apa itu “ADA”?

Selama ini, kesadaran tentang ada hampir jarang sekali merasuki pikiranku. Mungkin sesekali saja ia datang, tapi tidak pernah benar-benar peduli benar. Sepintas lalu saja dan kemudian pergi. Tak apalah. Mengerti masalah ini tak cukup berarti, pikirku. Kemudian aku bertemu Shadra juga Heidegger. Mereka menyatakan ada itu penting. Adalah yang membuat seluruh realitas ini ada. Aku cuma terbengong. Lho? Gimana sih?

Sering muncul sentimen ketika kata ada atau mengada disebut. Aku sering mengolok dengan ah, kamu ini mengada-ada saja. Bagiku selama ini, “ada” memang seakan hanya perihal yang ada-ada saja. Pemikir-pemikir menyatakan bahwa yang ada sebenarnya bukanlah yang seperti kita sangka ini. Di balik yang terindera ini, terdapat ada yang lebih hakiki. Sampai di sini aku bingung. Apa yang dimaksud dengan ada yang hakiki. Bagaimana sebuah kesimpulan seperti itu bisa dihasilkan oleh mereka?

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

PANDANGAN FAZLUR RAHMAN TENTANG AL-QUR’AN DAN PENAFSIRAN

Mei 6, 2008 at 6:46 pm (Falsafi)

Membahas biografi seorang tokoh seringkali tidak terlalu penting dan signifikan untuk mengetahui pemikiran tokoh tersebut. Hal ini dikarenakan bahwa tidak setiap masa lalu kemudian sangat berpengaruh dalam pemikiran periode selanjutnya. Namun tidak dalam kasus Fazlur Rahman. Justru dengan mengtahui biografi dan latar belakang hidupnya, kita akan mendapat cukup bahan untuk mengetahui arus pemikiran Rahman selanjutnya.

Fazlur Rahman lahir dalam suatu lingkungan yang bermazhab Hanafi. Seperti diketahui bersama, mazhab Hanafi merupakan salah satu mazhab sunni paling rasional dibandingkan dengan mazhab-mazhab yang lain. Tak pelak kemudian dalam karier akademik berikutnya, Fazlur Rahman tidak merasa puas jika hanya mengenyam pendidikan di dalam negerinya sendiri. Setelah menamatkan studinya di universitas Punjab dan meraih gelar MA, Fazlur Rahman melanjutkan kariernya ke Oxford University. Karena hal itulah keilmuan India-Pakistan yang tradisional dan barat yang rasioanal-liberal menyatu dalam diri Rahman. Baca entri selengkapnya »

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Next page »