Bahasa

September 18, 2008 at 8:39 am (Esai)

Seorang datang dari Magelang ke Jogja. Ia mengatakan Jogja panas. Yang seorang lagi datang dari Jakarta. Jogja dingin, katanya. Manakah dari kedauanya yang merupakan kebenaran? Lantas dengan parameter apa penilaian itu bisa diberikan?

Seno dalam majalah Tempo edisi Juni minggu kedua menulis di kolom bahasa. Tulisan itu berjudul “Kukuruyuk vs Kokongorok”. Dalam tulisan tersebut, Seno ingin menunjukkan tentang bagaimana bahasa mewujudkan makna. Nama adalah sebuah label kepada objek yang bersifat arbitrer. Ia tidak memiliki aturan-aturan yang baku dalam menentukan sebuah objek dengan nama tertentu. Rokok disebut rokok karena sedari awal kata tersebut yang muncul dan kemudian populer dan dipakai masyarakat. Bukan karena terdapat serangkaian rumus yang lantas memunculkan nama tersebut. Baca entri selengkapnya »

Permalink 1 Komentar

Monsoon Wedding

September 18, 2008 at 8:35 am (Film)

Menonton film adalah melihat lanskap kehidupan kita sendiri. Dari sana kita melihat, bahwa kehidupan di manapun dibelahan bumi ini, kapanpun, selalu dekat dengan hidup kita di sini, saat ini. Tapi persoalannya kemudian, bagaimanakah kriteria film yang bagus? Apakah film disebut baik karena kata penonton baik, atau film itu baik karena di dalamnya terdapat unsur-unsur yang membuat ia bisa dianggap baik? Apa yang ditonton banyak orang belum tentu film yang baik. Belum lagi bahwa film yang menarik bukan berarti dia adalah film yang baik. Terdapat perbedaan antara yang menarik dan baik.

Yang menarik adalah hal yang dengan sekilas langung merangsang rasa penasaran, entah karena sesuatu yang lucu, aneh atau hal lain yang dengan tiba-tiba menyeret kita dan kita betah di dalamnya. Yang baik, sebaliknya, adalah sesuatu yang ditemukan setelah kita mencermati tidak hanya sebuah bagian, akan tetapi secara keseluruhan yang belum tentu kita temukan meskipun kita telah cukup berusaha. Baca entri selengkapnya »

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Kenapa Film?

September 18, 2008 at 8:33 am (Film)

Kenapa Film? Film bisa menjelmakan realita atau hal yang maya sehingga bisa dinikmati dengan mata. Berbeda dengan novel atau cerpen. Tempat yang kita datangi adalah tempat yang hanya bisa kita bayangkan. Memang dunia dalam kata terkadang adalah dunia yang luar biasa, begitu personal, pribadi. Dari sebuah gambaran yang sama ia bisa menjelma menjadi berjuta makna dalam benak pembacanya. Tidak salah salah kalau sampai ada sebuah penerbit di Amerika yang menyertakan kalimat “Bacalah buku ini sebelum dirusak oleh Hollywood!”

Dunia kata, dengan kata lain, adalah sebuah dunia dengan berbagai pengalaman rasa. Setiap yang datang ke sana, ia bebas mendapat apa yang diinginkannya. Kata-kata tak mutlak menjadi penentu makna. Pembaca bisa dengan leluasa memberi tafsirnya sendiri. Hal ini bukan karena ia harus. Akan tetapi karena kata-kata itu sendiri adalah sebuah ruang dengan berbagai pintu yang terbuka. Ia bebas memilih yang mana. Baca entri selengkapnya »

Permalink 1 Komentar

Januari 08

September 18, 2008 at 8:25 am (Catatan Perjalanan)

12 Januari ’08

Apa yang didapat dari sebuah pencarian? Perasaan ingin kembali, barangkali. Ketika kita memutuskan untuk pergi mencari, kita ternyata tak hanya bertemu dengan sesuatu yang baru. Di sana kita juga menemukan diri kita merasa gagap, ada rasa terpisah, dan seakan kita ingin menjauh dari sana. Sebuah perahu akan membawa penumpangnya melihat dunia di mana dunia itu mengharap bertemu.

Bulan Januari adalah adalah bulan janji. Akhir tahun lalu sempat terpikir olehku apa yang akan aku perbuat di tahun yang tengah menanti di ujung hari? Berkali-kali tahun-tahun seperti itu telah kulewati. Tapi apa yang kudapat selain aku menemukan diriku sendiri masih tetap seperti dulu lagi. Baca entri selengkapnya »

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Desember 07

September 18, 2008 at 8:18 am (Catatan Perjalanan)

Senin 10 Des ‘07

Bagaimana aku memulainya? Hari minggu itu, yang kupikir hanya datang, selesaikan dan pulang. Aku tak mengharap yang lain. Aku tiba di UGM, kudengar sebuah teriakan. Aku menoleh ke asal suara itu. Pekik kulihat bersama dua temannya, satu cowok satunya lagi seorang cewek. Aku berkenalan. Aku tak mengira aku merasa nyaman dengan gadis yang baru saja kukenal. Namanya Senja. Aku merasa konyol ketika berada di depan computer hari ini. Menulis pengalamanku, entah sudah berapa lama aku tak menulis lagi. Aku sudah lupa. Terasa sudah lama sekali.

Tapi hari ini aku tiba-tiba ingin menulis. Ada kecanggungan. Ah betapa setiap kata begitu sulit menjelma. Tapi sudahlah. Hari minggu itu aku dan temen-temen Coret dapat kesempatan memutar film documenter di Purna Budaya UGM. Pekan Literasi barangkali. Aku tidak ingat betul. Yang kuingat pasti setiap perbincanganku dengan gadis itu membuatku senang. Baca entri selengkapnya »

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar