Islam: Pandangan Seorang Penyair

April 25, 2009 at 10:16 am (Esai)

Oleh: Rif’an Anwar

Pada dasarnya Goenawan Mohamad adalah seorang penyair. Apakah profesi sebagai penyair ini perlu untuk mengetahui pandangan GM tentang Islam? Ignas Kleden dalam pengantarnya untuk kumpulan tulisan GM, Catatan Pinggir 2, melukiskan problema ini dengan menarik. Menurut Ignas Kleden memang cukup sulit untuk menghubungkan sifat tulisan atau pandangan dengan latar belakang pribadi penulisnya. Apa perlunya mengetahui bahwa Heidegger pernah menulis sajak untuk membaca Sein und Zeit? Goenawan sendiri memilih untuk tidak menghubung-hubungkan antara karya dengan pembuatnya. Ia sering merasa kesal menghadapi kritik puisi di Indonesia yang menurutnya lebih banyak membicarakan penyairnya ketimbang sajaknya.[1]

Kendatipun keberatan tersebut memiliki alasan yang cukup kuat, pendekatan seperti ini tetap perlu digunakan untuk melihat bagaimana seorang penyair melihat dunia dan fenomena di dalamnya. Penyair berurusan dengan dunia-dalam. Penyair menjunjung tinggi kreativitas dan kebebasan dalam berkarya. Oleh karena itu, dalam tulisan-tulisan GM, seperti akan dibahas nanti, terlihat kreativitas dan kebebasan dalam memahami agama atau dalam hal ini Islam, merupakan sikap yang menonjol.

Tentang Iman dan Tuhan

GM berbicara tentang iman setidaknya dari tulisan dalam buku Ketika Revolusi Tidak Ada Lagi. Di sini terdapat dua tulisan yang secara eksplisit menyebut kata iman dan Tuhan. Kedua tulisan tersebut masing-masing berjudul Mencoba Berbicara Tentang Iman[2] dan Pintu-Pintu Menuju Tuhan: Sebuah Pengantar.[3] Dalam tulisan-tulisan ini GM membicarakan dan mengekspresikan penghayatan dan pemaknaan pribadinya terhadap persoalan Iman dan Tuhan. Pendekatan yang khas penyair.

Dalam tulisan pertama, GM memulai pembicaraan dengan pernyataan bahwa seseorang yang berbicara tentang iman tidak akan bisa melepaskan unsur-unsur kesejarahan yang ada dalam dirinya: pandangan filsafatnya, karakter yang bersifat kejiwaan, bahan bacaan, pengaruh pergaulan, dan lain-lain. Oleh karenanya sungguh sesuatu yang riskan untuk kemudian mengatakan bahwa pandangan ini adalah “Pandangan Islam” ataupun “Pandangan bukan Islam”. Individu merupakan makhluk yang unik. Tidak bisa disamaratakan begitu saja. Individu, dalam kata-kata GM, “bukanlah suatu hal yang mudah diberi label”. Ia bukan suatu yang sudah jadi, melainkan menjadi. Ia berada dalam proses yang terus menerus dan tak henti-henti. GM mengutip Puisi Iqbal.

“Jika sifat dasarku tak dapat Anda urai,

Jangan takut Anda akan tak lagi disebut piawai.

Sebab bagiku sendiri diriku tetap teka-teki,

Laut pikiranku tak kunjung dapat kuarungi.

Aku pun ingin mengenal Iqbal yang sebenarnya ini…”

Bagi GM, wahyu, dalam hubungannya dengan iman, bukanlah sesuatu yang murni keaktifan Ilahi. Wahyu lebih merupakan, sebagaimana dalam tradisi kesusatraan Jawa, ngelmu, suatu isi dalam kesadaran kita, sedangkan iman lebih merupakan laku. Dengan demikian, iman adalah suatu proses menjadi, suatu keterceburan dalam hidup.

Dalam tulisan kedua dalam buku Ketika Revolusi Tidak Ada Lagi, Pintu-Pintu Menuju Tuhan: Sebuah Pengantar, GM kembali mengulas masalah iman. Kali ini penekanannya lebih kepada Tuhan. Dalam tulisan tersebut, GM mengulas kembali tafsiran Nurcholis Madjid tentang kalimat syahadat. Terjemahan Cak Nur atas syahadat Islam menjadi “tiada tuhan kecuali Tuhan” dalam perspektif GM merupakan terjemahan yang paling tepat bagi kalimat syahadat. Dengan pemaknaaan yang demikian, akan tertutup kemungkinan bahwa ada tuhan-tuhan lain yang lebih rendah dari Tuhan dengan “T” besar. Pemahaman yang demikian itu juga akan menutup kemungkinan akan terjerumusnya seseorang ke dalam politeisme tak sadar.

Lagi-lagi GM menggunakan sebuah potongan sajak untuk memahami soal Tuhan dan iman. Kali ini lewat sajak Chairil Anwar GM berusaha memahami kenisbian manusia dalam memahami Tuhan. Dengan sajak Chairil ini GM ingin menunjukkan bahwa Tuhan tidak bisa dipahami laiknya memahami rumus matematika.

….susah sungguh

Mengingat Kau penuh seluruh

Gagasan lain yang cukup penting dalam tulisan kedua dalam buku Ketika Revolusi Tidak Ada Lagi, adalah GM menyinggung-nyinggung mengenai teologi negatif. Teologi negatif adalah pandangan bahwa setiap hal yang kita sandarkan kepada Tuhan bukanlah Tuhan itu sendiri. Tuhan bukanlah “A”, bukan “B” dan seterusnya. Pengertian seperti ini muncul dari pemahaman GM tentang kata “Esa” dalam surah al Ikhlas. Kata Esa menurut GM juga berarti singular, unik, tak bisa dipersamakan. Sehingga setiap usaha seperti apapun untuk menggambarkan Tuhan justru akan jatuh pada kemusyrikan. Karena, menurut GM, kemusyrikan tidak hanya terjadi ketika seseorang menyekutukan Tuhan dengan yang lain. Tetapi juga tatkala mengidentifikasi Tuhan sesuai gambaran diri sendiri.

Karena GM adalah seniman, ia mengalami hal lain perihal soal iman. Menurutnya perdebatan antara sains dan agama sama-sama membosankan dan sama-sama tidak berarti. Sebab Tuhan mereka adalah Tuhan kepastian, Tuhan GM adalah Tuhan harapan dalam ketidakpastian.

Hukum Islam Potong Tangan

Dalam Catatan Pinggir 3, kita bisa melacak pandangan GM tentang hukum potong tangan dalam Islam. Memang dalam tulisan yang berjudul Tentang Kiasan dan Ketakutan[4] ini, GM tidak secara eksplisit membahas tentang hukum Islam yang berupa potong tangan tersebut. GM menggunakan metafora dalam menjelaskan tentang tafsir terhadap suatu ketetapan hukum. Manusia, seperti diungkapan GM, pada akhirnya tahu, hidup membutuhkan metafora.

Dalam tulisan itu GM menceritakan tentang seorang anak muda Australia yang memotong tangannya seraya mengutip Injil. Michael O’Conner, nama pemuda itu, berusia 20 tahun dan baru saja memeluk agama Kristen. Ia memasuki sebuah toko, mengambil gergaji listrik, dan kemudian menggergaji tangannya sendiri. Ia kemudian mengutip Injil. “Jika tanganmu menistakanmu, potonglah.”

Di sinilah pandangan kepenyairan GM begitu terlihat. Ia melihat suatu ajaran, dalam hal ini Injil, sebagai ungkapan yang tidak semata bermakna harfiah. Ia merupakan kiasan yang mengacu kepada suatu hal di luar dirinya. Bahasa metafora menyediakan dunia makna yang tak cuma satu. Menurut GM, agama-agama besar dunia banyak menggunakan bahasa metafor yang ekspansif. Begitu kaya akan isi sehingga tidak bisa tunduk hanya dengan segenggam tafsir. Dan bagi GM, “kita hidup dalam sejarah. Yang abadi bukanlah yang membatu.”

Kesimpulan

Agama adalah kebebasan. Itulah agaknya yang bisa disimpulkan dari beberapa tulisan GM. GM memandang bahwa pemahaman terhadap agama tidak bisa direduksi dan dibatasi. Kebebasan dalam memberikan tafsir harus dibuka lebar-lebar. Profesinya sebgai penyair memberi kontribusi yang sangat signifikan terhadap pendekatannya terhadap Islam. Kreasi dan intensionalitas yang merupakan syarat mutlak untuk sebuah proses kepenyairan juga ia terapkan guna memahami agama.

Agama adalah suatu kebaikan buat umat manusia; dan karena manusia adalah organisme yang terus berkembang, baik secara kuantitatif dan kualitatif, maka agama juga harus bisa mengembangkan diri sesuai kebutuhan manusia itu sendiri. GM menempatkan Islam sebagai sebuah “organisme” yang hidup; seirama dengan denyut kehidupan.


[1] Goenawan Mohamad,Catatan Pinggir 2 (Jakarta: Pustaka Utama Grafiti, 1989) hal. ix-x

[2] Goenawan Mohamad, Setelah Revolusi Tak Ada Lagi (Jakarta: Pustaka Alvabet, 2005) hal. 75-90

[3] Goenawan Mohamad, Setelah Revolusi Tak Ada Lagi (Jakarta: Pustaka Alvabet, 2005) hal. 105-117

[4] Goenawan Mohamad,Catatan Pinggir 2 (Jakarta: Pustaka Utama Grafiti, 1989) hal. 220-2

Iklan

5 Komentar

  1. fayyadl said,

    Banyak yang tak selesai dari pemikiran GM. Dan itu kekuatan sekaligus titik lemahnya.

  2. afi cahya said,

    assalamu’alaikum …

    subhanallah,sy jd lebih mengenal siapa itu Goenawan Mohamad
    trimaksih artikel ini sgt berguna bagi sy karena sy termasuk mahasiswi prodi pend,bhs&sastra indonesia,jadi artikel ini dapat menambah wawasan sy tentang IsLam dan penyair. smg ada artikel2 yg lainnya yg bisa sy jadikan bahan penambah&pelengkap pengetahuan ttg Genre/ sastra

  3. ell said,

    negri bung…penyair memang mengimajinatifkan Agama dan Tuhan….

  4. Ellena Ekarahendy (@yellohelle) said,

    tulisan yang menarik (: kebetulan saya pengagum GM.
    dan oh ya, saya suka buku Si Buta dari Gua Platomu. sekalinya bisa cekikikan sambil berfilsafat (:

    • Akhmad Rif'an Anwar said,

      salam kenal. thanks atas apresiasinya atas buku saya.
      sekarang dalam proses pembuatan buku sibuta dari gua palto 2. kalo ada ide yang bisa dibagi,
      saya sagant berterima kasih..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: