Cinta dan Kesempurnaan

Juli 6, 2012 at 3:14 pm (Gumam)

Di suatu malam yang sunyi, aku berkata kepada Tuhan yang Maha Menjawab segala keluh kesah hambaNya, ”Aku mencari gadis yang sempurna. Kemarin aku bertemu dengan gadis cantik. Tapi dia suka menyakiti hati.” Tuhan hanya tersenyum.

Aku berkata lagi, ”Di lain waktu, aku berjumpa dengan gadis baik hati. Dia juga pintar. Sayang wajahnya biasa saja.” Tuhan kembali hanya tersenyum.

Aku mengeluh kembali, ”Dan tadi sore, aku bertemu dengan gadis cantik, baik hati, dan pintar. Tapi gadis itu menolakku.”

Tuhan kali ini bergumam lirih, ”Ya, karena gadis itu mencari lelaki yang sempurna. Mana mungkin dia memilih kamu.”

***

Di malam yang lain, aku mengeluh kepada Tuhan, ”Mengapakah Kau beri aku kekasih yang cantik?”

Tuhan berbisik lembut, ”Karena cantiklah kau memilih dia.”

Aku kembali bergumam kepada-Nya, ”Sudah cantik, dia baik lagi.”

Tuhan menjawab kembali, ”Itu sebabnya kau yakin untuk memilih dia.”

Merasa Tuhan akan menjawab semua keluhan, aku pun berkata lirih, ”Mengapa kekasihku itu bodoh sekali?”

Cepat-cepat Tuhan menjawab, ”Karena bodohlah dia memilih kamu. Kalau pintar, dia akan memilih yang lain.”

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Senja

Januari 19, 2008 at 4:50 pm (Gumam)

22 Desember 2007

Untuk Senja yang Memesona

How is your Holyday? Everything is going to be ok, it’s right? Aku berharap menulis surat yang ceria untukmu, Senja. Aku mengenalmu sebagai gadis yang periang, selalu tersenyum, dan memiliki selera humor yang baik. Semoga aku tidak salah mengenai hal ini. (Kalau salah kau bisa membetulkannya sendiri ha ha…).

Hari ini aku baru saja tiba ke Jogja. Tiga hari aku berada di rumah bersamaan dengan libur Idul Adha. Aku bingung. Dari mana akan kumulai surat ini. Tapi yang tak boleh kulupakan, hatiku tergerak untuk menulis ketidaksengajaan kurang ajar sewaktu aku mencari-cari fotomu di komputer LKiS. Aku membuka file seorang teman. Teman senior di LkiS tepatnya. Ia menulis sebuah surat untuk seorang yang dikaguminya. Aku merasa tidak enak membaca tulisan itu. Tapi semakin kubaca, semakin lekat mata ini dan tak ingin berpaling dari sana. Baca entri selengkapnya »

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Larut

Januari 19, 2008 at 4:50 pm (Gumam)

Malam mulai larut. Jam menunjuk pukul setengah dua. Aku ingin tidur awal. Tapi mungkin karena kopi beberapa gelas tadi mataku justru merasa bersemangat. Karena itu kuputuskan saja mengetik apa yang bersarang di kepalaku.

“Kebenaran itu seperti cicak,” bunyi surat Ivan Turgenev kepada Leo Tolstoy. “Yang kita tangkap hanya ekornya yang menggeliat-liat seperti hidup sementara cicaknya sendiri lepas.” Begitu banyak hal yang membutuhkan kesabaran. Demikian banyak hal berkelebat, dan kita ingin segera menangkap, mendekapnya erat, seakan itulah kebenaran yang kita cari. Baca entri selengkapnya »

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Melia

Januari 15, 2008 at 10:46 am (Gumam)

16 Juli 07

Aku tidak menyadari apapun kecuali setelah jam menunjuk pukul tujuh pagi. Semalam aku terus terjaga, melakukan hal yang sebenarnya tidak perlu benar. Pagi ini banyak sekali hal yang mengganggu pikiranku. Tapi aku sedikit bisa tersenyum. Siang ini aku akan chek in di hotel Melia Purosani. Ceritanya panjang, dan aku tidak yakin bisa menuliskannya malam ini. Tanganku masih segar bugar setelah tadi sore aku berendam air hangat di hotel. Tapi kau tidak merasa kuat dengan mataku. Ia kulihat memerah dalam kaca di kamar mandi. Perih juga terasa kian menyengat. Biarlah aku melewatkannya. Itu adalah cerita yang mudah diingat. Jadi tak perlu benar aku menuliskannya di sini. Baca entri selengkapnya »

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar