Kota di mana Bumi Berguncang

Mei 2, 2008 at 1:21 pm (Neurotic)

Oleh: Rei Afandi

Dari tempat yang jauh dari kota di mana bumi berguncang, aku ingin menceritakan sesuatu kepadamu, Malika. Cerita ini akan tampak kabur. Benar-benar kabur. Kamu akan menemukannya begitu berantakan, tidak rasional dan aneh. Kamu juga akan menemukan lelucon konyol tentang suatu peristiwa di kota di mana bumi berguncang. Karena itu, kuharap kamu mencermati kalimat-kalimat terakhir dalam ceritaku. Karena di sana kau akan mendapat kejelasan dari kisah aneh tentang kota di mana bumi berguncang ini. Kuingatkan sekali lagi, kamu harus sungguh-sungguh memerhatikan! Bahkan jika kamu telah berada di tempat yang paling sunyi di dunia.

Malika yang kurindu, di kota di mana bumi berguncang kini kamu berada. Hari masih pagi, mentari masih sembunyi di balik gunung, dan di kota di mana bumi berguncang bumi bergetar hebat dan menakutkan. Terbayang olehku kepanikan dan kekalutan yang terjadi di sana. Gempa itu begitu dahsyat dan membuat kota di mana bumi berguncang luluh lantak, puluhan ribu bangunan runtuh menjadi puing, dan lebih dari 6.000 nyawa merenggang. Baca entri selengkapnya »

Permalink 1 Komentar

Penantian di Kala Senja

Mei 2, 2008 at 1:09 pm (Neurotic)

“Ah, hidup memang tidak selalu indah untuk dirasa,” ujar temanku. “Apa yang hari ini menjadi sumber kebahagiaan bisa jadi besok berganti dengan kesedihan.” Aku dan temanku berada pada seuah bus kota yang membawa kami pulang ke rumah masing-masing. Hari sudah senja sewaktu bus melewati perempatan Malioboro. Warna kuning kemerah-merahan memenuhi segenap penjuru langit. Kami berdua mengikuti les di sekolah sehingga matahari senja indah yang membalut angkasa telah tercipta ketika kami pulang.

“Seharusnya dulu kudengar kata orang-orang,” dengan lirih temanku tadi berucap. Aku sendiri hanya diam memandang sekitar trotoar di mana para pekerja sedang berjalan pulang. Nampak kelelahan di wajah mereka bercampur apik dengan sukacita karena hendak berkumpul dengan keluarga. Entah itu istri, suami, anak, atau yang lainnya. “Tidak ada kondisi yang tetap. Tidak ada keadaan yang dapat dipercaya,” temanku meneruskan. Ya, aku membenarkan dalam hati. Aku tak melihat wajahnya waktu dia mengatakan itu. tapi dari suaranya bisa kurasakan bahwa dia menyimpan rasa kecewa. Di dalam bus tercium olehku bau keringat para penumpang yang begitu kontras dibanding ketika mereka berangkat di pagi hari. Tangan-tangan bergelantungan menebar aroma khas parfum alami mereka. Baca entri selengkapnya »

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Sebuah Cerpen Yang Tak Selesai

Mei 2, 2008 at 1:00 pm (Neurotic)

Die, seorang gadis SMU dengan bentuk wajah oval, hidung mancung ala bule, dibalut warna kuning langsat yang menawan. Benar-benar sebuah kolaborasi penuh keindahan. Rambutnya hitam lurus tergurai di atas bahunya. Badannya yang lumayan tinggi terpadu sempurna dengan bentuk badan yang full press body.

“Hei… ngelamun aja, entar kemasukan jin lho…” lengkingan Die mengagetkan Ko. Suara Die bergulir lembut masuk ke gendang telinga Ko dan langsung mengoyak lamunannya.

“Ah, kamu Die ngganggu stabilitas personality aja “.

“Wuih keren banget omongan kamu. Apa tadi..,” Die terpaksa sedikit memutar otaknya, “o ya.. stabilitas personality. Ngerampok istilah dari mana lagi kamu Ko?” Yang ditanya hanya tersenyum. Ko memang predator buku kelas wahid. Istilah kutu buku terlalu rendahan untuk disematkan padanya. Ko bisa bertahan berjam-jam kalo sudah di depan buku. Kalo pas di perpus… wah dijamin Ko bakal lupa ama siang-malam, laper-kenyang, semuanya melebur menjadi satu dalam dunia di genggaman tangannya itu. Die sering menemani shahibnya itu seharian di perpus. Die bukan seorang kutu buku, meskipun sejak semakin intens dengan Ko, dia sedikit demi sedikit mulai terjangkit virus yang bisa bikin mata minus itu. Baca entri selengkapnya »

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Dunia Tanpa Kata

Januari 19, 2008 at 4:49 pm (Neurotic)

15 Januari ’08

Suatu kali di sebuah tempat kutemukan diriku sendiri. Saat itu aku tidak tahu dalam keadaan apa aku melihat diriku. Aku hanya melihat sosok yang aneh, kabur, dan seolah hanyalah siluet hitam yang suram dan seram.

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar